Daerah

Manusia Kerdil di Bengkulu Selatan, Menarik Mahasiswa Lakukan Penelitian

BENGKULU - Di Bengkulu Selatan terdapat satu desa yaitu Palak Siring, yang memiliki populasi manusia kerdil yang cukup besar di kecamatan Kedurang dan Padang Guci. Stigma negatif mengenai manusia kerdil (dwarfisme) masih sangat tinggi dalam masyarakat. Sehingga tak jarang masyarakat memarginalkan mereka atas dasar fisik mereka yang berbeda.

Dwarfisme juga sering menjadi sasaran pelecehan, cemooh, dan kekerasan dari anggota masyarakat saat bekerja, bepergian, atau saat menjalankan aktivitas kesehariannya. Sehingga tak jarang masyarakat memarginalkan mereka atas dasar fisik mereka yang berbeda.

Kepala Desa Palak Siring Rohadi menyebutkan, mayoritas warga di desanya bekerja sebagai petani dan pekebun. “Jumlah penduduk di Desa Palak Siring yaitu sebanyak 981 jiwa terdiri dari 542 laki-laki dan 439 perempuan dengan 6-15 orang kerdil di Desa Palak Siring dan 30 orang di Kedurang. Tidak ada perempuan semua laki-laki,” kata Rohadi.

Manusia kerdil di Desa Palak Siring ini di dominasi suku Pasemah. Dwarfisme juga sering menjadi sasaran pelecehan, cemooh, dan kekerasan dari anggota masyarakat saat bekerja, bepergian, atau saat menjalankan aktivitas kesehariannya.

Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berupaya mengubah stigma tersebut dengan meneliti keseharian para manusia kerdil di kecamatan ini. Mereka adalah Arif Hidayat prodi ilmu komunikasi, Giovani Eka Meilia prodi pendidikan luar biasa dan Muhammad Agusti Saputra prodi psikologi.

Menurut Arif Hidayat mereka tertarik meneliti tentang dwarfisme karena di Desa Palak Siring manusia kerdil memiliki berbagai keunikan seperti mutasi gen dari pihak perempuan yang menyebabkan kondisi tubuh kerdil. Serta tidak ada manusia kerdil yang bergender perempuan.

“Kami ingin menulis buku monograf dan video dokumenter terkait penerimaan diri, eksistensi, dan komunikasi manusia kerdil di desa ini,” kata Arif.

Baca Juga :  Kurangi Risiko, Diperlukan Kearifan Lokal Dalam Mitigasi Bencana

Harapannya agar sesama manusia dapat saling menghormati dan menghargai sekaligus mengenalkan pada masyarakat bahwa manusia kerdil itu ada dan mereka bangga akan kondisi yang dimiliki. "Dengan begitu pemerintah Bengkulu Selatan tetap memperhatikan manusia kerdil yang ada di wilayahnya agar tetap bisa diakui keberadaannya," bebernya.

Untuk diketahui, memiliki fisik yang sempurna menjadi harapan setiap manusia. Kesempurnaan yang dimiliki akan memudahkan interaksi di dunia sekitar tanpa adanya diskriminasi. Namun tidak semua manusia mengalami pertumbuhan biologis secara normal.

Salah satu kelainan biologis pada manusia yaitu memiliki tubuh tidak proporsional dengan tinggi dibawah rata-rata 90-120 cm. Manusia ini sering disebut manusia kerdil (dwarfisme) atau cebol yang terjadi karena faktor genetik dan kurangnya hormon pertumbuhan dalam tubuh. Figur yang paling menonjol dari dwarfisme adalah bentuk dan ukuran tubuh.

Giovani Eka Meilia menambahkan bahwa mereka menggunakan beberapa variabel dalam penelitian ini diantaranya sumber referensi digital, wawancara, angket tertutup dan angket interpersonal communication sebagai alat untuk melihat dan mengetahui bagaimana kemampuan dalam komunikasi antar-pribadi.

“Pertimbangan atau kriteria dalam pemilihan subjek yaitu cara berkomunikasi, pola kehidupan, dan bentuk interaksi di Desa Palak Siring yang menginterpretasikan akan dirinya dengan kondisi yang kerdil serta didukung pola pikir, usia, dan pendidikan,” katanya.

Muhammad Agusti Saputra menjelaskan, hasil penelitian mereka menunjukkan masyarakat di Desa Palak Siring sudah menerima akan kondisi masyarakatnya yang kerdil walaupun masih ada beberapa masyarakat luar yang memberikan cemooh akan kondisinya.

"Manusia kerdil di Desa Palak Siring memiliki tekad yang tinggi dalam menempuh pendidikan dan juga mampu berinteraksi dengan masyarakat lainnya dengan baik,” paparnya.

Ditemukan pula fakta bahwa selaku teman akan selalu mendukung dan membela teman dalam kesulitan apapun. Apalagi ketika ada orang yang memberikan cemoohan terkait kondisi mereka yang kerdil.

Baca Juga :  Tingkatkan Kreativitas Belajar Anak, Mahasiswa UNY Ciptakan Metode Alphabet

Bahkan selaku orang tua ada kebanggaan tersendiri akan anaknya walaupun dengan kondisi yang kerdil karena dengan kondisi tersebut tetap bisa beradaptasi dengan masyarakat. Ketika ada yang memberikan cemoohan mereka cukup diam serta bersabar karena kondisi kerdil adalah pemberian dari Yang Maha Kuasa.

Uniknya, manusia kerdil di Desa Palak Siring tidak pernah meluapkan amarah ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Itu karena memang dalam bermasyarakat harus mampu menerima keadaan dan memberikan nasihat satu dengan yang lainnya. Manusia kerdil di Desa Palak Siring tidak menemui hambatan dalam mengakses pendidikan, karena sejatinya pendidikan adalah sesuatu yang wajib ditempuh dan mereka mampu melakukan hal tersebut.

Manusia kerdil juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang ada, dan juga memiliki media sosial. Media sosial yang dimiliki didominasi seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter.

Mereka juga menyatakan bahwa mereka berkeinginan untuk bisa dikenal oleh banyak orang. Salah satunya mereka menggunakan media sosial untuk mengenalkan diri dan berinteraksi ke orang lain.

Penelitian ini berhasil meraih dana Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora sekaligus lolos seleksi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) yang dilaksanakan akhir Oktober secara daring. (*)

Apa Tanggapan Anda ?