Inovasi

Antisipasi Klaster Baru, Panitia ILITS Pakai i-nose c-19

Siedoo, Panitia Ini Lho ITS! (ILITS) 2021 yang sedang bertugas di Laboratorium Pemrograman Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur diminta untuk duduk. Panitia yang bertugas diharuskan untuk mengikuti rangkaian alat tes sederhana dari i-nose c-19.

“Bentuk alatnya seperti selang yang memiliki bundaran di ujung, kami diharuskan menjepit ujungnya di dekat ketiak seperti memakai termometer begitu,” kata Ketua Pelaksana ILITS, Auliansyah Rizki Teknikade.

Rangkaian ini untuk memastikan semua panitia yang sedang bertugas secara luring dalam keadaan sehat dan bebas dari virus corona yang sedang mewabah saat ini. Sebagai agenda tahunan yang menjadi wadah pengenalan ITS kepada dunia luar, pelaksanaan ILITS tahun ini tetap berlangsung meskipun harus dilakukan secara daring selama dua hari, 6 – 7 Februari ini.

Untuk melakukan siaran langsung dan koordinasi acara, sebagian panitia diharuskan hadir dan bertugas secara luring. “Kita tetap sadar akan pentingnya protokol kesehatan. Karenanya, kami harus memastikan semua panitia yang hadir dalam keadaan yang fit,” jelasnya.

Rizki menjelaskan bagaimana proses skrining menggunakan i-nose c-19 tersebut. Kemudian sistem akan mulai melakukan deteksi kesehatan pengguna.

Setelah tiga sampai lima menit proses deteksi berlangsung, pengguna akan menerima pesan pemberitahuan mengenai hasil tesnya melalui aplikasi perpesanan Whatsapp. “Sebelum tes, kami diminta untuk mengumpulkan KTP dan nomor telepon untuk kepentingan pengumpulan data,” imbuh mahasiswa angkatan 2019 ini.

Alat pendeteksi Covid-19 merupakan karya guru besar ITS, bernama i-nose c-19. Alat itu akhirnya dimanfaatkan langsung untuk memeriksa kesehatan panitia Ini Lho ITS! 2021.

Mencari Metode Terbaik

Mahasiswa yang akrab disapa Rizki ini melanjutkan, pihaknya memang mencari metode tes terbaik untuk menghindari kemungkinan buruk, misal munculnya klaster covid baru. Dengan adanya alat i-nose c-19 yang mudah digunakan serta memiliki tingkat akurasi sebesar 90 persen, akhirnya Rizki memutuskan untuk menggunakannya sebagai alat skrining panitia ILITS.

Baca Juga :  Mahasiswa UB Ciptakan Pelindung HP dari Ekstrak Apel dan Kelapa, Dilirik Investor Asing

Seperti diketahui, i-nose c-19 bekerja dengan mengambil sampel dari bau keringat ketiak (axillary sweat odor) seseorang. Setelah didapatkan, sampelnya bau akan diubah menjadi sinyal listrik kemudian diklasifikasikan oleh artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Hasilnya, sebanyak 42 orang panitia ILITS yang hadir luring di Surabaya semuanya dinyatakan sehat dan negatif dari Covid-19. Menanggapi hal ini, Rizki mengaku amat bersyukur karena semua rekannya dalam keadaan sehat dan rangkaian kegiatan ILITS-pun dapat berlangsung dengan lancar.

“Menggunakan i-nose c-19 merupakan pengalaman baru yang keren dan menarik. Ikut bangga juga menggunakan alat ciptaan bangsa sendiri,” tandasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?