Advertorial Opini

Dampak Pandemi Covid-19 Pengaruhi Psikologi Bagi Pendidikan Anak

Siedoo, Pada saat masyarakat Indonesia diresahkan dengan adanya wabah yang menggemparkan dunia. Corona virus disease atau lebih terkenal dengan sebutan Covid-19 yang menjadi pandemi pada saat ini. Pemerintah sendiri disibukkan dengan berbagai upaya penanganan dan pencegahan Covid-19 yang semakin melonjak. Di mana akhirnya pemerintah membuat kebijakan cara mengatasi untuk menghentikan penyebaran wabah Covid-19.

Maka pemerintah melakukan PSBB dan juga physical quarantine dalam hal ini untuk menghindari penyebaran Covid-19 dengan cara kontak fisik. Kebijakan yang ditimbulkan membuat masyarakat merasakan dampaknya, baik negatif maupun positif.

Dampak kebijakan baik negatif dan positif sangat dirasakan dari berbagai sektor terutama di bidang pendidikan. Di mana pada akhirnya pemerintah membuat kebijakan sekolah dari rumah, anak harus belajar secara daring (online), dan anak tidak berangkat atau pergi sekolah. Cukup di rumah saja dan situasi seperti ini akan terjadi dalam jangka panjang. Semua ini tentunya akan berdampak tidak hanya pada kondisi fisik anak saja, akan tetapi juga berdampak pula pada kondisi mental anak.

Karena pada umumnya tidak semua anak mempunyai kemampuan yang sama, sehingga dapat menimbulkan berbagai dampak psikologi pada anak. Sedangkan banyak para pendidik (bapak dan ibu guru) tidak sama paham dalam menggunakan fasilitas daring sebagai media pembelajaran. Di sini anak mulai merasa tetekan dikarenakan banyak tugas yang diberikan para guru yang kurang memperhatikan kognitif, afektif dan psikomotorik anak.

Dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan anak pada saat ini antara lain:

Dunia Pendidikan

Dalam dunia pendidikan, tujuan pendidikan itu sendiri adalah sebuah proses perubahan yang terjadi pada beberapa aspek. Seperti halnya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam diri penguasaan prinsip kejiwaan anak. Dalam hal ini penilaian hasil produktivitas dan efisiensi belajar anak terjadi pada keseluruhan proses perencanaan, penataan, dan pendayagunaan sumber daya.

Untuk dapat merealisasikan tujuan pendidikan itu sendiri baik secara efektif, efisien dalam suatu proses perencanaan. Sedangkan sekolah adalah tempat berkumpulnya anak-anak dan mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan anak. Dalam hal ini perkembangan sosialnya karena anak berasal dari berbagai macam lapisan masyarakat dan keluarga.

Sekolah merupakan tempat interaksi antara guru serta teman sebaya. Di sini sangat memberikan peluang besar sekali bagi anak untuk dapat mengembangkan kemampuannya baik secara kognitif, ketrampilan sosial, pengetahuan tentang dunia. Juga dapat mengembangkan tentang konsep dirinya sepanjang masa anak-anak, remaja awal, tengah, dan remaja akhir.

Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah, karena di sekolah anak bisa melakukan belajar secara kelompok, berinteraksi atau bergaul dengan teman sebayanya. Di mana teman-temannya berkarakteristik berbeda, bersosialisasi dengan lingkungan sekolah, juga dapat memahami karakteristik figur seorang guru.

Dengan berinteraksi bersama teman-teman di sekolah dapat mengajarkan anak tentang perilaku kerja sama, persahabatan, saling tolong menolong. Kemudian berlomba dalam kompetisi berprestasi yang sehat, serta kemampuan dalam bersosialisasi dimasa depan.

Dengan penutupan sementara sekolah anak didik, akhirnya anak-anak tidak dapat melakukan interaksi dengan teman-temannya. Demikian pula dengan bapak dan ibu gurunya juga tidak dapat melakukan interaksi dengan anak didiknya.

Pada dasarnya kemampuan kognitif dan juga ketrampilan sosial anak dibangun dengan keluarganya. Tetapi pada kenyataannya menjadi suatu masalah apabila interaksi antara orang tua dan anak tidak terjadi karena ketidakpahaman orang tua dengan materi pelajaran anaknya. Karena materi pelajaran disampaikan dengan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Sehingga anaknya kesulitan untuk meminta bantuan kepada orang tuanya juga keengganan untuk belajar.

Pada Psikologi Anak

Penyebaran pandemi Covid-19 saat ini tentu saja tidak hanya menyerang terhadap kesehatan fisik saja tetapi juga menyerang kesehatan psikologi, terutama psikologi anak-anak atau peserta didik. Banyak individu yang merasa terganggu kesehatan psikologinya, seperti kecemasan, ketakutan, rasa kawatir yang berlebihan juga berdampak pada psikosomatik lainnya. Juga berimbas pada anak-anak atau peserta didik yang mengalami kejenuhan, kebosanan dengan adanya situasi dan kondisi pada saat pandemi Covid-19 seperti ini.

Anak-anak atau para peserta didik tentu saja juga mengalami kesulitan belajar. Sehingga berdampak pada gangguan kesehatan mental yang banyak mempengaruhi keadaan psikis anak-anak ataupun peserta didik. Dengan situasi saat ini menuntut anak-anak untuk selalu lebih waspada terhadap lingkungan dimana mereka tinggal dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental. Salah satunya yaitu gangguan rasa cemas, panik, ketakutan, dan juga psikosomatik adalah disebabkan yang paling utama gangguan ini dalam tubuh manusia.

Perasaan sugesti yang dibangun dari dalam pikiran sangat berpengaruh terhadap kesehatan kondisi fisik dan psikis anak-anak dalam situasi seperti saat ini. Sedangkan dengan gangguan psikosomatik akan timbul apabila seseorang/anak-anak merasakan stres serta kecemasan berlebihan sehingga dapat menimbulkan depresi.

Dengan berbagai kondisi psikologi yang muncul pada setiap individu anak  pada masa pandemi maka kesehatan jiwa menjadi hal yang paling penting diperhatikan. Anak-anak/peserta didik mulai dengan hidup stay at home dengan belajar dari rumah, mengurangi kegiatan sosial, dan bepergian untuk bermain dengan teman-teman sebayanya.

Dengan adanya Back to Basic, yaitu lebih banyak melakukan aktivitas dilakukan dalam rumah seperti halnya belajar, bermain dan lain-lain untuk menjaga kesehatan. Tentu orang tua ikut berperan dalam membantu menjaga imun putra-putrinya dengan diberinya bahan-bahan tradisional seperti halnya jamu, minum jahe dan lainnya. Serta melakukan optimalisasi virtual yang manis  harus work from home sehingga melahirkan generasi zoom, telemedicine, dan juga ragam aplikasi virtual lainnya. Sehingga timbul kebersamaan karena merasa senasib dan sepenanggungan.

Maka muncullah beberapa perubahan yang mungkin mulai dilakukan oleh anak-anak/peserta didik selama pandemi Covid-19. Dengan kekuatan psikologis masing-masing anak/peserta didik yang mana dalam pendampingan orang tua, pihak sekolah dan ikut pula ambil bagian dengan pendampingan secara menyeluruh walaupun secara jarak jauh atau PJJ atau lewat virtual selama masa pandemi Covid-19.

Maka diharapkan para orang tua terutama yang di rumah ikut memperhatikan kondisi kesehatan jiwa, baik putra putrinya maupun orang tua itu sendiri. Apabila tidak memperhatikan kesehatan jiwa, maka akan berdampak pada memburuknya hubungan sosial dengan sesama dan kesehatan fisik juga terganggu.

Jika tidak dapat mengatasi persoalan psikologis kita sendiri, maka kita memerlukan pertolongan dari tenaga profesional. Seperti halnya  untuk tidak ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikolog, sehingga dapat menjaga anak-anak dan keluarga juga kita semua. Kita terhindar dari masa pandemi Covid-19, serta mampu membuat anak-anak, orang tua, kita bahagia menjalaninya dalam masa pandemi Covid-19. (*)

Dra. Etty Kristina
Guru Bimbingan dan Konseling
SMK Negeri 1 Magelang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?