Ilustrasi penelitian. foto: okezone

Daerah

Rp 43 M Hanya untuk Penelitian


SEMARANG – Penelitian bagi perguruan tinggi sangatlah penting. Terlebih hasilnya bisa bermanfaat untuk khalayak umum, baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun peningkatan ekonomi. Universitas Diponegoro (Undip) bisa dibilang sangat memperhatikan penelitian. Diantara buktinya, univeritas yang terletak di Semarang, Jawa Tengah tersebut menaikkan anggaran penelitian. Dari Rp 8 miliar menjadi Rp 43 miliar.

Rektor Undip Yos Johan Utama mengatakan, dana penelitian tersebut salah satu pemanfaatanya untuk pengembangan Marine Science and Techno Park (MSTP) Universitas Diponegoro di Jepara.

Adanya kehidupan kampus tersebut akan berdampak besar pada perekonomian karena akan tumbuh bisnis kost-kostan dan usaha lainnya.

“Tentu nantinya pertumbuhan ini akan tumbuh. Kos-kosan akan tumbuh sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar,” katanya sebagaimana ditulis Okezone.

Dia berharap, kampus di pesisir pantai Teluk Awur ini bisa menjadi cabang kampus Undip yang kedua. Dia berhitung bisa ada 400-500 mahasiswa yang bisa kuliah di MSTP.

Di sisi lain, Divisi Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) mengajak dunia penelitian kampus untuk merespons kebutuhan masyarakat guna menghilangkan kesan dunia penelitian berada di menara gading yang tidak tersentuh.

“Agar aspek pengembangan dan penelitian tidak tinggal di menara gading, tetapi harus mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Kepala Divisi Riset dan Pengabdian Masyarakat FTUI Ahmad Herman Yuwono sebagaimana ditulis Media Indonesia.

Oleh karena itu pula, sejak 2008 FTUI mendorong tema khusus untuk menjadi pusat riset, yaitu The integrated design in urban eco technology. Yakni bagaimana agar dunia teknologi mampu menjawab upaya-upaya peningkatan kualitas kehidupan manusia dan lingkungan hidup, serta aspek-aspek teknologi ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan di daerah urban.

“Ini merupakan salah satu cara UI tidak tinggal di menara gading, tetapi betul-betul mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Karena tidak dapat dimungkiri bahwa peneliti biasanya terlalu asyik dengan laboratoriumnya sendiri sampai lupa apa yang terjadi di tengah masyarakat. Padahal, kehadiran peneliti adalah bagaimana ia mampu memberi solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat,” jelas Herman.

FTUI, saat ini juga tengah mengarahkan dua model riset atau penelitian. Yaitu, penelitian dasar dan penelitian terapan dengan porsi masing-masing, 70% untuk riset dasar dam 30% untuk riset terapan.

“Ke depan kita harapkan agar yang berbasis terapan bisa lebih banyak lagi daripada riset dasar,” kata dia.

Apa Tanggapan Anda ?