Daerah Kegiatan

Harga Tembakau Menurun, Muncul Gagasan Sekolah Petani

MAGELANG – Harga tembakau dalam satu dekade terakhir semakin menurun. Hal itu membuat petani tembakau menjerit karena lebih banyak merugi, sementara masih belum banyak yang beralih menanam komoditas pertanian selain tembakau.

Diversifikasi tanaman pertanian selain tembakau yang dianjurkan belum sepenuhnya dilakukan. Hal itu karena menanam tembakau pada musim kemarau sudah menjadi tradisi turun-temurun terutama di daerah Magelang dan Temanggung, baik di lereng gunung Merbabu, Merapi ataupun di lereng Sumbing dan Sindoro.

Demikian terungkap dalam Press Conference: “Hasil Survei Petani Tembakau di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung”, Jawa Tengah. Pemaparan hasil survei tersebut digelar di Balai Desa Candisari Kecamatan Windusari kabupaten Magelang, Kamis (3/9/2020).

Survei tersebut dilakukan oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), pada masa pandemi Covid-19. Survei dilakukan di dua kabupaten dengan terjun langsung ke petani tembakau.

Ketua MTCC, Dra. Retno Rusdjijati, M.Kes mengatakan di Kabupaten Magelang survei dilakukan di Kecamatan Pakis, Sawangan, Kaliangkrik, dan Windusari.

“Sementara di Kabupaten Temanggung survei kami lakukan di Kecamatan Jumo, Bulu, Ngadirejo, dan Kledung,” terangnya.

Retno mengatakan pemaparan hasil survei ini bertujuan mempublikasi kepada masyarakat dan stakeholder agar tahu kondisi petani tembakau khususnya di Magelang dan Temanggung. Dengan maksud dapat ditindaklanjuti agar ada peningkatan kesejahteraan para petani dimulai dari regulasi harga hasil pertanian.

Hasil survei dipaparkan oleh Siti Noor Khikmah yang menyebutkan panen raya kali ini menjadi moment yang memprihatinkan para petani tembakau. Pasalnya harga tembakau makin merosot.

“Dalam lima tahun terakhir, tahun ini harga tembakau paling buruk. Di mana diakui oleh para petani tembakau, biaya penanaman, perawatan hingga panen tak sebanding dengan harga jual hasilnya,” ujarnya.

Diakui memang banyak faktor penyebab murahnya harga tembakau. Seperti faktor cuaca, kualitas tembakau kadang tidak pas dengan kondisi harga. Namun faktor terbesar adalah buruknya tata niaga tembakau. Di mana petani belum bisa menentukan harga jual tembakau.

“Bahkan satu-satunya tanaman pertanian yang ditentukan harganya oleh industri adalah tambakau,” tandas Noor Khikmah.

Dalam sesi tanya jawab, muncul gagasan terbentuknya ‘Sekolah Petani’, yang bermula dari WhatsApp Group (grup WA). Di mana anggotanya adalah para petani dari berbagai daerah di Indonesia. 'Sekolah Petani' tersebut nantinya menjadi tempat berdiskusi, menimba ilmu, berbagai pengalaman.

“Semua bisa menjadi dosen dan sekaligus mahasiswa Sekolah Petani,” ungkap Ketua MTCC, Dra. Retno Rusdjijati.

Hal itu disambut antusias oleh para petani, salah satunya yang hadir adalah Ibnu Hajar, petani tembakau asal Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung. Dia mengaku pertama kali menghadiri acara seperti ini, dan sangat tertarik.

“Saya senang bisa bersilaturahmi, belajar, tukar pengalaman, sehingga ke depan bisa menjadi petani yang tidak hanya mengandalkan menanam tembakau saja,” ungkapnya.

Kegiatan MTCC tersebut dihadiri pula oleh pejabat dari Kecamatan Windusari, dan Ketua Petani Multikultur Indonesia, Istanto. Serta beberapa petani dari kedua kabupaten termasuk petani muda dan awak media.

Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Windusari, Wahyu mengapresiasi peran MTCC dalam kegiatannya termasuk mendengar keluhan para petani tembakau. Di mana mereka tidak punya kekuatan menentukan harga, karena lebih dikuasai pihak lain, seperti pemilik industri rokok. Namun Wahyu juga berharap petani mau melakukan diversifikasi tanaman pertanian.

“Jangan malu mengenalkan hasil pertanian yang bisa diandalkan. Seperti ubi madusari asli Windusari, atau asli Windusari seperti kopi produk Balesari, Pasangsari, dan Ngemplak. Karena itu adalah diversifikasi tanaman pertanian yang bisa dikembangkan di Magelang dan Temanggung,” harapnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?