DALAM NEGERI. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. (foto: kemendagri.go.id)
Nasional

Pendidikan di Zona Hijau dan Kuning, Pemda Diminta Siapkan Dana Protokol Kesehatan

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menaruh perhatiannya ke dunia pendidikan di tengah pandemi covid-19. Untuk zona hijau dan kuning, Mendagri meminta pemerintah daerah (pemda) mempersiapkan dana membantu sekolah memenuhi protokol kesehatan.

Mendagri juga mengimbau kepada pemerintah daerah untuk memberikan pemahaman bahwa kurikulum darurat dan modul pembelajaran tersedia dan dapat digunakan. Akselerasi testing populasi di daerah untuk memenuhi standar minimal jumlah tes (1 orang per 1,000 penduduk setiap minggu untuk semua daerah). Sehingga, peta risiko zonasi lebih akurat.

“Saya meminta pemda untuk meningatkan sekolah memastikan pengisian nomor handphone siswa di dapodik untuk menerima bantuan penyediaan kuota,” pesannya dilansir dari jpnn.com.

Pemerintah pusat telah mengalokasikan dukungan dan bantuan. Sementara pemerintah daerah bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Pemerintah daerah daerah dapat membantu membiayai pemenuhan kebutuhan sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka seperti sarana sanitasi dan kebersihan, pengukur suhu tubuh tembak, dan masker.

”Pemda diimbau untuk memastikan dan mengawasi implementasi SKB 4 Menteri di sekolah,” tandas Tito.

Melansir dari ugm.ac.id, Guru besar University of Applied Science and Arts, Hannover, Germany and Senior Experten Services (SES) Germany, Prof. Dr. Gerhad Fortwengel menyebutkan, wabah corona ini justru menjadi katalis hebat yang memacu dunia pendidikan. Seperti mendorong lebih banyak pemanfaatan teknologi informasi dalam aktivitas pembelajaran jarak jauh.

Namun begitu, ada tantangan besar dalam pelaksanaan model pembelajaran jarak jauh. Salah satunya, sivitas akademika belum terbiasa menggunakan sistem pembelajaran yang bersifat blended dan sepenuhnya online.

"Muncul kesulitan karena belum dilatih mengunakan peralatan untuk model pembelajaran jarak jauh. Karenanya perlu tambahan dukungan dan mentoring untuk menyesuaikan dengan model pembelajaran baru ini,"tuturnya.

Sementara Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. apt. Agung Endro Nugroho, menyampaikan di era revolusi industri 4.0, dunia pendidikan tinggi termasuk farmasi menghadapi tantangan dengan berbagai perubahan yang ada. Ditambah adanya pandemi covid-19 menuntut pendidikan tinggi untuk bisa melakukan penyesuaian dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satunya mengubah metode pembelajaran tatap muka (luring) menjadi daring saat pandemi.

"Di UGM sejak pertengahan Maret mengganti segala kegiatan akademik dan perkuliahan yang bersifat tatap muka di kelas dengan pembelajaran secara virtual,"jelasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?