Pembelajaran online (foto: merdeka.com)
Nasional

Dengan PJJ Jadi Melek Teknologi, Tapi juga Dikeluhkan

JAKARTA -  Di tengah pandemi covid-19 bisa dibilang dunia pendidikan mengalami banyak kemajuan di bidang teknologi. Ini karena sistem sekolah harus menyesuaikan dengan wabah tersebut. Hal ini tentu saja mendorong  guru, orang tua serta siswa lebih kreatif dan mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

“Sebelum pandemi ini, banyak sekali guru-guru, orang tua, dan siswa yang masih gaptek dan belum pernah memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Sekarang kita lihat, dalam beberapa bulan saja kebanyakan mereka sudah sangat mahir menggunakan berbagai jenis teknologi pembelajaran,” ucap Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dilansir dari dpr.go.id.

Legislator Frakasi Partai Golkar itu berharap, kemajuan-kemajuan ini dapat dipertahankan meski pandemi berakhir. Jika adaptasi-adaptasi dari berbagai kelompok masyarakat ini berjalan lancar, ini bisa menjadi akselerasi yang sangat signifikan untuk kemajuan kita.

“Tinggal bagaimana pemerintah dan DPR memfasilitasi dengan program dan anggaran yang memadai agar ini berkelanjutan," tandasnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti membeberkan, kendala pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online selama masa pandemi.

Menurut KPAI, siswa merasa beban tugas menjadi lebih tinggi. Sementara orangtua mengeluhkan akses kuota internet yang mahal selama PJJ. Disebutkan dalam seminggu pihaknya menerima 250 aduan pembelajaran jarak jauh.

"KPAI juga melakukan survei kepada 1.700 siswa dan 62 guru terkait metode pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 76,6 persen pernah pakai platform, yang terbanyak adalah platform gratis yang disiapkan seperti Ruangguru, rumah belajar yang milik Kemendikbud," ujar Retno dilansir dari liputan6.com.

Rupanya pembelajaran online mendapat keluhan dari orang tua siswa. Seperti yang dialami Canza Liza Dewi Purba, warga Kupang. Ia mengatakan anaknya saat ini berada di bangku sekolah dasar (SD) kelas II. Setiap hari harus mengerjakan tugas serta selalu mendapatkan materi dari wali kelasnya dalam jumlah yang banyak.

"Akibatnya anak lebih banyak jenuhnya, kemudian juga susah diatur," katanya  dilansir dari republika.co.id.

Ia menjelaskan, materi yang dikirimkan dilakukan secara daring. Begitu pula dengan materi pekerjaan rumah atau PR. Namun sistem pengumpulan PR-nya dilakukan secara manual yakni orang tua harus datang ke sekolah untuk mengumpulkan.

Sementara ujian sekolah tetap dijadwalkan yakni setiap hari Sabtu, untuk menguji kemampuan anak setelah dalam beberapa hari itu mendapatkan materi yang dikirim oleh guru atau wali kelasnya.

Walaupun bagus dan mencegah penyebaran covid-19, namun Liza mengeluhkan materi yang diberikan sangat banyak sehingga terkadang tak semua materi diserap. Hal ini juga kata dia menjadi keluhan seluruh orang tua wali murid karena memang materi dan tugas yang ada cukup membebani anak dan juga orang tuanya.

"Tetapi mau bagaimana lagi, ini harus dijalani. Dan saya lebih memilih anak saya belajar di rumah saja, dari pada harus belajar di sekolah di tengah pandemi ini. Tetapi harapan saya, agar materi yang diberikan dikurangi, sehingga anak tak jenuh dan lebih mudah untuk diatur," ujar dia. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?