Opini

Pembentukan Karakter Religius Bagi Calon Pendidik

Siedoo, Saat ini kata pendidikan karakter menjadi bahan perbincangan di dalam dunia pendidikan. Hal ini sejalan dengan kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan karakter. Namun, pendidikan karakter tidak hanya diorientasikan pada peserta didik. Tetapi calon pendidik pun diharuskan memiliki pendidikan karakter.

Salah satu dari lima pendidikan karakter yang ada adalah religius. Religius merupakan ketaatan seseorang dalam melaksanakan agama yang dianutnya. Karakter religius yaitu sikap dan perilaku yang taat/patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dipeluknya, bersikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta selalu menjalin kerukunan hidup antar pemeluk agama lain (T.Ramli: 2003).

Karakter religius bagi calon pendidik ini sudah diterapkan di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan adanya Budaya Akademi Islami (BuDAI). Dimana seluruh mahasiswa diwajibkan untuk memakai busana sesuai dengan syariah Islam.

Selain itu adanya program pembelajaran yang biasa disebut Tutorial PAI. Dimana pengajar/mentor dari mahasiswa yang telah diseleksi dan terbagi selama dua semester. Semester pertama pembelajaran agama yang menekankan pada pembacaan Al-Quran (Tajwid dan Ghorib). Sedangkan semester dua menekankan pada praktik ibadah yang meliputi thoharoh dan shalat.

Tutorial PAI ini bersifat wajib dan menjadi syarat wisuda. Selain itu juga ada gerakan shalat berjamaah di masjid Abu Bakar As-Shegaf dan dibantu sekelompok mahasiswa yang telah terseleksi. Kelompok ini dinamakan Motivator BuDAI.

Unissula sendiri pun memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Yakni, fakultas yang bertujuan untuk mencetak calon pendidik memiliki berkarakter dan sesuai dengan Visi Unissula “Bismillah Membangun Generasi Khoiro Ummah”.

Sebagaimana firman Allah yang pertama dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 yang artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu yg pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”

Dari firman tersebut, betapa Allah SWT sangat apresiatif terhadap ilmu pengetahuan. Allah memberi isyarat pentingnya manusia untuk belajar membaca dan menulis dengan diberi potensi akal sebagai pisau pengasahnya.

Dengan membaca dan menulis, manusia akan menjadi khalifah di bumi sebagaimana yang dijanjikan-Nya. Membaca dan menulis diajarkan melalui perantara guru/pendidik. Dengan diawali membaca dan menulis, kemudian manusia beriman. Di sinilah nampak kedudukan manusia yang tinggi, sebagaimana Allah SWT. berfirman:

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antarmu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alla Maha mengatahui apa yang kam kerjakan.” (Q.S. Al-Mujaadilah/ 58: 11).

Dengan demikian betapa pentingnya pendidikan dalam Al-Quran. Pendidikan melalui membaca dan menulis akan menjadikan manusia memiliki potensi yang lebih sempurna dibanding makhluk Allah lainnya.

Tentunya apabila potensi tersebut digunakan secara dinamis dan benar akan mengantarkan manusia pada posisi kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena itu pendidik sangat penting dan dibutuhkan oleh semua manusia di dunia. Sehingga, calon pendidik terus memiliki peluang dan tidak ada matinya dalam perkuliahan. Hal itu pun sama seperti di Unissula.

FKIP terdiri atas tiga program studi. Yakni, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia. Tak hanya dalam lingkup universitas, BuDAI juga telah mengakar pada tingkat fakultas dan prodi.

Setiap awal kegiatan perkuliahan, seluruh mahasiswa PGSD membaca asmaul husna secara bersama di dalam kelas masing-masing. Selain itu saat presentasi harus menampilkan slide yang memuat ayat Al-Quran. Isinya terkait dengan apa yang dipresentasikan. Setiap mahasiswa juga menghafal 10 ayat beserta artinya yang dimulai dari surat An-Naba’.

Tentunya hal ini memiliki dampak positif bagi calon pendidik masa depan. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan/kognitif saja selama perkuliahan, tetapi juga dibekali karakter religius. Sehingga setelah lulus diharapkan menjadi pendidik yang berkompeten, mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang didapat, serta mampu menjadi pendidik yang berakhlak mulia sehingga menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya kelak. (*)

 

Khoirotun Nashihah

Mahasiswa PGSD Unissula Semarang, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?