Ilustrasi guru mengajar di kelas. I foto : goeswarno.blogspot.com

Opini

Guru Ideal Penggerak Milenial

Iklan SMA Mutual

Siedoo, Ada hal yang berbeda dalam peringatan hari guru nasional tahun ini yaitu Menteri Pendidikan kita yang masih baru tergolong masih begitu muda yang menjadi salah satu generasi menteri milenial, namun yang lebih menarik menteri pendidikan kita ini, Nadim Makarim menjadi menteri pendidikan namun tidak bergelar dan berlatar belakang pendidik.

Terlepas dari pro dan kontra posisi menteri pendidikan kita saat ini, kita tidak bisa menghindari dari fenomena tersebut bahwa setiap pergantian menteri pendidikan selalu ramai dibicarakan, ini menunjukan respon nyata bahwa begitu luar biasa perhatiannya masyarakat kita ini terhadap pendidikan.

Pendidikan yang mengurus hajat generasi bangsa agar semakin unggul dan berkarakter jangan sampai dipegang di tangan orang yang salah.

Namun demikian kita tidak perlu membangun kecemasan yang berlebihan hanya karena latar belakang yang tidak linier dan belum mempunyai pengalaman dalam dunia pendidikan, siapa tahu di tangan menteri Mas Nadimlah dunia pendidikan kita semakin berkualitas, perhatiannya terhadap guru semakin meningkat dan jelas, kepekaan terhadap pemerataan pembangunan sekolah semakin nyata bahkan kebijakan dan akses pendidikan jadi mudah yang dapat dirasakan oleh setiap golongan masyarakat ini, jangan sampai menimbulkan banyak keluhan karena gabuk lantaran tak kunjung memiliki prestasi dan merubah pendidikan yang menjadi lebih baik lagi.

Program utama menteri pendidikan yang akan ditingkatkan demi menghadapi revolusi industry 4.0 adalah sumber daya manusia yaitu guru, dan membangun karakter sebuah keharusan peningkatan SDM guru yang semakin berkualitas yang akan menjadi pintu lahirnya generasi yang kian unggul guru harus berani beradaptasi dengan teknologi guru harus bisa menciptakan inovasi pembelajaran melalui teknologi, guru tidak lagi berjibaku berpegang teguh dengan kapur dan berkotor-kotor dalam sistem mengajarnya namun juga bisa menggunakan teknologi demi menciptakan sistem pembelajaran yang semakin menarik di hari ini.

Proses mencapai kualitas guru yang semakin unggul dan maju pada dasarnya bisa dilakukan oleh setiap guru tidak harus mengikuti studi di bangku kuliah kembali, ketika guru mempunyai ikhtiar dalam budaya literasi membaca berbagai buku dia akan mampu merespons setiap perubahan, lahirnya inovasi-inovasi di dunia pendidikan yaitu berawal dari membaca,menganalisa dan kemudian menciptanya.

Jauh rasanya ketika kita berharap dalam meningkatkan kualitas guru hanya menunggu adanya program seminar, pelatihan tanpa dibarengi mencari ilmu sendiri yaitu dengan membaca.

Guru adalah aktivitas yang harus dijalani setiap hari ini menuntut guru harus bisa tampil beda dengan hari-hari yang telah lalu sehingga anak tidak jenuh dan bosan,ini hanya akan terlahir dari tangan-tangan guru yang memang memiliki budaya literasi.

Gejala buruk bagi guru itu ketika mereka tidak punya minat baca sehingga sulit menggerakkan siswanya untuk terus belajar dan membuka pikiran,indikasi kesuksesan guru tidak saat mampu memberikan angka-angka yang hanya didasarkan pada salah dan benar namun mereka tidak berani berpikir kreatif dan tidak pandai berkolaborasi dengan perkembangan zaman ini.

Pantas rupanya kalau anak-anak di luar negeri mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat bahkan penerima penghargaan nobel, bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademi, melainkan karakternya yang sangat kuat karakter yang membangun bukan merusak.

Karena semangat membaca lebih mendominasi ketimbang semangat bermedia sosial yang tidak memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan ini. Guru ideal hari ini itu harus tangguh dalam karakter unggul dalam skill dan ok dalam teknologi.

Kita akan menghadapi bermacam-macam masalah dalam revolusi industri 4.0 ketika tidak cakap dalam hal teknologi yang mana setiap pelaku dan peranannya digantikan teknologi,memang kita sudah tidak lagi sekedar mengenal teknologi melainkan kita sudah menjadi penggunaannya namun lebih terobsepsi menggunakan teknologi sekedar untuk hiburan ketimbang untuk membuat inovasi dalam dunia pendidikan, bisnis dan lainnya.

Di sinilah literasi teknologi dibutuhkan agar semakin cakap khususnya bagi setiap guru,agar mampu mengedukasi terhadap siswanya untuk menggunakan teknologi untuk media belajar dan berkreasi.

Menjadi guru itu perjuangan, berjuang untuk selalu memenangkan di setiap proses pembelajaran berjuang untuk selalu mengentaskan setiap kesulitan berjuang untuk selalu membangun iklim positif ketika mereka menghadapi kesulitan, inilah kemenangan dalam dunia pendidikan karena mendidik itu kepuasan batin bilamana kita berjuang mendidik dengan penuh tanggung jawab kita akan selalu mendapat kebahagiaan yang tentunya tiada nilainya dibandingkan hanya sekedar mengajar.

Begitu juga pendidikan karakter tidak akan selesai hanya disampaikan dengan berbagai teori,tapi tanpa aksi pendidikan karakter harus di ekspresikan dengan keteladanan. Membangun sumber daya manusia dan membangun karakter suatu keharusan agar bangsa ini benar-benar mampu bersaing dan berperan dalam revolusi industri 4.0 dan membangun karakter agar kelak tidak hanya unggul dalam sumber daya manusianya namun juga kuat dalam karakternya. Tokoh fisikawan mengatakan “Mayoritas mengatakan, intelektualitas yang membuat seseorang hebat, mereka salah. Yang membuatnya hebat adalah karakter” (Albert Einstein).

Karena itu peluang membangun karakter dan sumber daya manusia dalam revolusi industri 4.0 harus di mulai sejak ketika duduk di bangku sekolah dan itu tidak lepas dari guru yang memang memiliki dedikasi tinggi jiwa tulus mendidik sekaligus menjadi guru yang harus semakin citius, alitius, dan fortius yaitu menjadi guru lebih cepat, dalam mengikuti perkembangan teknologi, lebih tinggi setiap ilmu yang mereka miliki dan lebih kuat karakternya demi menempa setiap tantangan dan peluang untuk mendidik sekaligus memberi teladan agar menjadi guru yang selalu di hati dan dinanti oleh setiap anak, wali murid dan masyarakat.

’’Selamat Hari Guru semoga semakin maju’’. (*)

 

Penulis Edi Susanto

Pendidik di MI Ma’arif Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo

Apa Tanggapan Anda ?