Pengukuhan Bunda Literasi Provinsi Lampung. l foto : perpusnas.go.id.

Daerah

Bunda Literasi Provinsi Lampung Bangkitkan Semangat Baca


LAMPUNG - Perputakaan Nasional (Perpusnas) mengukuhkan istri Gubernur Lampung, Riana Sari Arinal, sebagai Bunda Literasi Provinsi Lampung pada Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Bandar Lampung belakangan ini. Hal ini bisa menjadi role model atau alternatif cara membangkitkan semangat baca sehingga menjadi budaya.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando  menyatakan perpustakaan tidak sekedar penyimpan buku tapi jembatan peradaban. Bahwa tidak ada guru yang khusus tentang Lampung tapi harusnya ribuan buku tentang Lampung bisa disajikan di perpustakaan.

Ditambahkan lagi bahwa perpustakaan dan pendidikan adalah elemen yang saling melengkapi. Namun, penting juga mengubah paradigma pengajar, baik guru maupun dosen, yang menyesuaikan dengan peradaban dunia.

"Guru dan dosen bisa mencontoh Universitas Stanford atau Harvard yang berhasil menciptakan lulusan yang meraih banyak penghargaan dunia. Salah satunya penghargaan Nobel. Artinya, tidak sekadar membawa anak didik meraih cum laude. Tapi juga diajarkan fondasi masa depan agar nantinya mereka tangguh dan eksis 20 hingga 30 tahun ke depan," katanya dilansir dari perpusnas.go.id.

Keberhasilan para pemikir dunia dan pencipta peradaban adalah keaktifan dalam membaca. Membaca terbukti membangkitkan aliran darah ke sel-sel dalam otak sehingga otak tidak mati.

"Otak jika tidak dilatih akan mati," pesan Syarif Bando.

Dicontohkannya, dari kesuksesan 20-30 tahun adalah ketika cita-cita  founding fathers terbukti, yakni membangun Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan Nasional setinggi 24 lantai dan 3 lantai basement di pusat kota Jakarta.

"Perpustakaan harus ada sebagai bukti sejarah panjang peradaban," tegas Syarif Bando.

Wakil Gubernur Provinsi Lampung, Chusnunia Halim mengakui, para komunitas literasi tidak pernah kehabisan akal memperjuangkan budaya membaca dan literasi di masyarakat. Ada yang menggunakan motor, ontel, hingga gerobak cendol sebagai medium penyampaian informasi dan pengetahuan.

"Pengalaman saya sewaktu menjadi wakil bupati, tiap desa disediakan anggaran percepatan literasi. Namun, masih ada saja yang bertanya untuk apa mengganggarkan perpustakaan di zaman sekarang. Sinis tapi itulah faktanya," ungkapnya.

Rupanya, tidak mudah bicara pentingnya perpustakaan, apalagi di era disrupsi dan  informasi yang masif. Padahal esensi dari memperjuangkan literasi adalah memperjuangkan peradaban. Efeknya sangat besar dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

"Kalau tidak diperjuangkan, maka kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan segitu-gitu saja. Dan cara yang paling mudah mendongkrak SDM yah dengan literasi, " jelasnya.

Gubernur, lanjutnya, telah menginstruksikan untuk membangun perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini yang sarat dengan kaum milenial. Bahkan, nantinya akan disediakan working space.

"Itu sudah menjadi visi gubernur," tandasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?