Para mahasiswa kreatif, mampu menciptakan alat untuk membantu pengembangan usaha warga.

Featured

Mahasiswa Ciptakan Alat Produksi Emping

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Para mahasiswa tidak hanya dituntut semata-mata menuntut ilmu saja. Masuk pagi mengikuti kuliah hingga siang dan bahkan sore. Sisi lain, mahasiswa juga diharapkan mampu bisa lebih bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Ari Apriyanto beserta Abdullah Labib, Adi Farhan Khamid, Aji Setiyawan dan Rinaldi Ridho Arrahman mampu menciptakan alat untuk membantu usaha warga. Mereka merupakan mahasiswa Universitas Tidar Magelang, Jawa Tengah.

Alat yang mereka ciptakan, berawal dari sebuah industri emping rumahan milik Slamet di Desa Blongkeng, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Keseluruhan proses produksi masih manual. Alat yang digunakan pun masih sederhana.

Sementara permintaan pasar melebihi jumlah produksinya. Dari situ lah, para mahasiswa kreatif ini memutar otak. Bagaimana caranya bisa membantu usaha warga dengan bekal ilmu yang mereka punya.

“Proses yang manual itu sangat menguras tenaga. Jadi kami berfikir untuk membuat terobosan baru agar produksinya lebih cepat dan permintaan konsumen dapat terpenuhi,” kata Ari Apriyanto.

Ia mengawali inovasi ini dengan berkunjung ke tempat produksi emping tersebut. Mahasiswa melihat dan menganalisis sistem kerja alat manual. Baru kemudian, setelah melalui diskusi panjang, muncullah ide untuk menerapkan alat yang lebih canggih dari sebelumnya.

Ari Apriyanto beserta Abdullah Labib, Adi Farhan Khamid, Aji Setiyawan, dan Rinaldi Ridho Arrahman mulai menciptakan mesin dengan tenaga listrik 188 watt tersebut. Mesin itu sepakat dinamai Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping).
Cara kerjanya Pidaduping cukup sederhana.

Sebuah motor listrik berputar menggerakkan pulley kecil yang kemudian dihubungkan oleh v-belt untuk menggerakkan pulley besar. Kemudian pulley besar menggerakkan poros.

Pada poros tersebut terdapat tiga tuas vertical yang akan menggerakan kayu pemipih bergerak ke atas dan ke bawah. Sesuai putaran poros. Alat tersebut menghasilkan 100 keping emping per menit.

“Pembuatan Pidaduping itu mengabiskan dana kurang lebih Rp 4 juta rupiah. Alat ini mampu memproduksi 100 keping emping singkong per menit,” jelas Ari.

 

Foto : Pidapuping hasilkan 100 keping emping per menit.

Mesin Pemipih Adonan pada Proses Produksi Emping Singkong (Pidaduping) ini dibuat melalui beberapa proses selama 4 bulan. Pertama, tim melakukan identifikasi masalah, perancangan dan pembuatan mesin. Kemudian dilakukan proses pengujian untuk melihat kinerjanya.

Apakah sudah sesuai dengan konsep yang direncanakan atau tidak. Selanjutnya dilakukan analisa dan perbaikan agar mesin dikatakan layak pakai.

Tidak hanya cukup disitu. Para mahasiswa ini juga sepakat mengikutkan hasil inovasinya untuk dilombakan. Program kreatifitas mahasiswa teknologi ini juga merupakan salah satu yang mengikuti Monev (Monitorong dan Evaluasi) beberapa waktu lalu di Semarang. Kreasi mahasiswa tersebut dipertandingkan dengan hasil kreatifitas mahasiswa lain dari luar daerah.

Apa Tanggapan Anda ?