Ilustrasi Stop Porno

Featured

Aplikasi Antiporno, Terkendala Biaya

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

BOGOR – Nama Ilham Satyabudi, mahasiswa IPB, di pertengahan 2016 bersama dua rekannya, Gusti Bima Marlawanto dan Yuandri Trisaputra , cukup mentereng dengan penemuan aplikasi sensor porno. Aplikasi ini dapat mensensor kata-kata dan gambar porno yang tersebar di internet.

Usai ditemukan, aplikasi tersebut bisa diunduh dan bisa digunakan lagi. Tetapi, sayangnya sekarang sudah tidak bisa sebab terkendala dana.

“Aplikasi ini butuh server untuk bisa online terus. Kami kendala keuangan, karena penyewaan server itu sangat mahal. Bisa jutaan rupiah per bulan. Sedangkan kami belum ada pihak yang mensponsori. Jadi terpaksa aplikasinya kami matikan karena kekurangan dana,” ujar Ilham sebagaimana ditulis Poskotanews.

Saat ditemukan, keberhasilan mereka mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Harapan dari riset Ilham, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini dapat mengcounter gambar porno di dunia maya yang berpotensi merusak mental anak muda.

Dijelaskan mahasiswa S2 itu, aplikasi tersebut dibuat dari partisipasi mereka di perlombaan Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tahun 2016.

“Di perlombaan PKM itu, kami ditantang. Intinya bagaimana kami bisa menciptakan aplikasi untuk mengatasi permasalahan bangsa,” kata mahasiswa yang saat penemuan itu masih semester 8 S1.

Ia menjelaskan alasan terpikir menciptakan aplikasi ini. Baginya, banyaknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual pada anak menjadi latar belakang ide aplikasinya ini.

“Landasan pemikiran kami adalah pelecehan dan kekerasan seksual. Akhirnya, kami membuat aplikasi ini. Setelah selesai dan sukses saat uji coba, lalu kami memberi nama aplikasi ini integrated porn autocensor. Masyarakat sekarang bisa mengunduh aplikasi tersebut di web kami ayosensor.insecara,” katanya.

Dikatakan, aplikasi yang mereka ciptakan, sistemnya bukan memblock websitenya.

“Kalau nge-block website kita bisa dipenjara karena sama saja ngehack,”tuturnya.

Aplikasi yang mereka hasilkan, bisa dipasang di web browser (google chrome atau mozilla firefox).

“Nah kalau sudah dipasang, user masih bisa buka situs porno, tapi gambar dan tulisan pornonya kita block. Aplikasi ini gratis,” kata Ilham mendefinisi hasil ilmunya.

Sementara itu, Gusti Bima Marlawanto menjelaskan, sensor yang bisa dilakukan oleh aplikasi tersebut hanya sebatas kata-kata dan gambar porno. Tim tersebut sudah menghimpun sebanyak 199 kata porno.

“Sebanyak 199 kata porno ini kami ambil dari bahasa gaul, bahasa jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris,” ungkap Yuandri sebagaimana ditulis Rebuplika.

Dijelaskan, kekurangannya belum bisa mendeteksi konten porno berupa video. Selain itu, akurasi ketepatan sensor gambar baru 82 persen dan tulisan 79 persen.

“Kami selanjutnya akan melakukan update terutama sensor video namun butuh waktu lama. Untuk kata-kata juga akan kami tambahkan nama-nama bintang porno agar bisa tersensor,” kata Yuandri.

Apa Tanggapan Anda ?