Inovasi

Ingin Tes Hemoglobin Tapi Takut Disuntik, Ini Solusinya

BANDUNG - Apakah Anda termasuk orang yang takut terhadap jarum suntik. Jika iya, maka inovasi karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) sangat patut disimak. Tiga mahasiswa menemukan sebuah alat yang dinamai Hemocare.

Sebuah alat yang dapat melakukan pengukuran kadar hemoglobin (sel darah merah) dalam darah pasien secara non invasif. Proses non invasif ialah proses pengukuran yang dilakukan tanpa perlu mengambil sampel darah pasien. Produk tersebut digagas Resti Oktia, Clinton Elian, dan Putut Dewantoro, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Teknik Elektro Sekolah Teknik Elektro dan Informasi (STEI) ITB.

"Metode pengecekan darah yang ada saat ini (secara invasif) tidak efektif, karena menggunakan jarum suntik," kata Resti, salah satu penggagas alat tersebut.

Ia menyampaikan, selama ini pengecekan darah itu, perlu mengambil darah menggunakan jarum suntik. Sedangkan banyak orang yang takut disuntik.

"Selain itu, penggunaan jarum suntik juga dapat menimbulkan resiko infeksi,” jelasnya.

Selain menimbulkan ketakutan, pemeriksaan darah di laboratorium juga perlu dilakukan secara keseluruhan. Padahal, misalnya pasien hanya perlu mengukur hemoglobin.

“Pemeriksaan darah di lab harus secara keseluruhan, kan jadi mahal. Jadi kita mau bikin satu alat yang cuma dibeli sekali, bisa dipakai sering,” kata Resti.

Untuk penggunaan alat temuannya itu, pasien hanya perlu menjepitkan jarinya ke dalam alat. Kemudian tunggu beberapa detik. Sampai akhirnya hasil perhitungan tertera pada aplikasi di smartphone yang telah terhubung dengan alat melalui jaringan bluetooth.

Adapun Hemocare, memiliki cara kerja tersendiri. Alat ini dapat mengukur kadar hemoglobin dalam darah tanpa pengambil sampel darah itu sendiri.

“Di dalam jari itu ada darah kan, dan di darah itu ada warna-warna yang bisa diserap oleh sinyal Photoplethysmograph (PPG). Lalu akan dilanjutkan ke sensor diode yang akan menerima keterserapan cahaya," ungkapnya.

Setelah sensor menerima sinyal PPG, dilakukan kalkulasi terhadap konsentrasi hemoglobin Pengukuran di lab juga membutuhkan waktu lama untuk menunggu hasilnya keluar.

“Kalau misalnya uji lab, lama kan menunggu hasilnya. Kalau ini cuma perlu menunggu 30 detik sudah langsung keluar hasilnya,” urainya.

Dalam pembuatan produk ini, ketiga mahasiswa dibimbing Dr. Hasballah Zakaria, ST. M.Sc dan Dr.dr. Yoke Saadia Irawan MT. Menurut Resti, pembuatan dari hemocare sendiri diawali dari pembuatan rancangan pada Agustus sampai dengan akhir tahun 2017. Dan pembuatan alat sendiri dimulai pada Januari hingga April 2018.

Resti berharap, kedepannya produk ini dapat diproduksi secara pabrikan. Kalau diproduksi secara pabrikan ia dan tim memperkirakan modal pembuatannya bisa dibawah Rp 100.000.

Harga tersebut tentunya sangat terjangkau dibandingkan dengan biaya pengecekan darah di laboratorium yang ada saat ini. Namun sebelum itu, perlu dilakukan perbaikan pada beberapa bagian alat.

"Seperti di bagian sensor, dan casing produk yang ukurannya masih terlalu besar dibanding komponen dalamnya," jelas Resti.

Apa Tanggapan Anda ?