I Komang Sukayasa. (foto: kemdikbud.go.id)

Tokoh

Komang Pegiat PKBM Jadi Pemenang Lomba Video dan Foto Literasi


Siedoo, I Komang Sukayasa menjadi pemenang pertama Lomba Video dan Foto Literasi Masyarakat yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru-baru ini. Ia menjadi pegiat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Widya Santhi Mandiri di Kabupaten Karangasem, Bali.

Komang yang merupakan lulusan sarjana dari jurusan pendidikan Bahasa Bali dari Universitas Pendidikan Ganesha di Kota Singaraja, Bali.

Diceritakan, tingkat buta aksara di daerahnya terutama di Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan tingginya tingkat kemiskinan. Karena itu, perlu ada kegiatan untuk mengentaskan buta aksara lewat PKBM.

“Saya gabung sama PKBM itu sejak 2010. Sembilan tahun lah,” katanya.

Menurutnya, sulit untuk memberantas buta aksara sebab memang orientasi masyarakat adalah uang. Yang ada di pikiran mereka jika mereka ikut kegiatan ini berapa (uang) yang mereka bisa dapatkan.

“Makanya bagaimana caranya agar masyarakat mau ikut belajar tapi dia bisa menghasilkan uang. Bagaimana kalau kita berikan literasi yang bisa hasilkan uang juga. Mereka mau ikut belajar tapi yang penting hasilkan uang,” jelasnya.

“Nah, di sana diberikan pelatihan keterampilan. Kalau di daerah kami itu kan pusat lontar. Daun lontar bisa digunakan sebagai kerajinan sehingga masyarakat yang diajari keterampilan mereka bisa, dan mereka akhirnya mau berkegiatan di PKBM itu. Pintar-pintar kita aja ya cara kita mengatur di lapangan,” tutur Komang.

Ditambahkan, tingkat buta aksara tidak dipengaruhi oleh budaya. Hanya saja Kabupaten Kubu merupakan daerah yang sering kesulitan air dan tingkat kemiskinan tinggi. Sehingga, masyarakat harus fokus bekerja.

“Pokoknya kerja kerja. Jadi pendidikan itu sudah diabaikan. Karena semuanya fokus hanya untuk mencari sesuap nasi. Wilayahnya sangat kering dan air itu sampai harus beli. Air itu kalau musim hujan itu ditampung, dibuatkan sumur, setelah musim panas itu airnya habis, ya beli lagi pakai tangki,” ungkap Komang.

Dalam menjalankan PKBM ini, dirinya menemui beberapa kendala. Diantaranya, jarak antar rumah berjauhan sehingga untuk mengajak mereka pun juga perlu kesabaran tinggi. Lalu, upacara adat pun sering sehingga jadwal mereka yang tentukan.

“Ketika ada upacara adat ya kita tunda belajarnya,” jelas Komang.

Sejak 2010, lebih dari 1.000 orang yang sudah belajar di PKBM ini. Namun menurut Komang lulusan PKBM harus tetap dikontrol.

“Tapi kalau selesai kegiatan terus mereka tidak diajari lagi, ya mereka kembali lagi buta aksara. Jadi itu kantong buta aksara ya. Kalau sudah bisa lalu pergi maka jadi buta (aksara) lagi,” pungkasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?