Nasional

Mahasiswa Harus menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

YOGYAKARTA - Mahasiswa di era industri 4.0 haruslah menjadi mahasiswa unggul untuk memenangkan persaingan di dunia kerja regional dan global.

“Dengan mempunyai keunggulan komparatif, Anda akan mempunyai nilai tambah dalam persaingan tersebut,” kata Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sutrisna Wibawa.

Untuk mewujudkan hal itu, UNY memberi kesempatan dan dukungan yang memadai. Tidak hanya melalui perkuliahan, tetapi juga melalui pusat-pusat kegiatan mahasiswa.

"Baik dalam bidang penalaran, olahraga, seni dan bidang khusus lain," jelasnya.

Rektor menyampaikan itu saat kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di GOR UNY. Para mahasiswa baru harus segera menyesuaikan diri untuk belajar di universitas. Dosen bertanggungjawab untuk menginspirasi mahasiswa, memberi tantangan dan mendorong untuk terus belajar dan terus maju.

"Tanggungjawab mahasiswa adalah belajar dengan giat dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan belajar. Kesuksesan bergantung pada passion dan ketekunan. Tugas mahasiswa baru adalah menemukan apa passionnya masing-masing," jelas Dirjen Belmawa Kemenristekdikti Ismunandar.

Ismunandar mengatakan bahwa, apapun keinginan manusia dalam hidup, pendidikan tinggi merupakan elevator paling cepat untuk mencapainya.

“Di era revolusi industri 4.0 siapa yang lincah, cepat dan adaptif adalah yang akan memenangkan kompetisi," kata Ismunandar.

Guru Besar ITB tersebut memaparkan bahwa sekarang ini adalah abad paling inovatif dalam sejarah manusia. Karena waktu antara penemuan dan perkembangan teknologi semakin cepat.

Kini eranya big data, artificial intelligent, robotics dan internet of thing. Oleh karenanya mahasiswa harus menguasai literasi baru seperti literasi data, teknologi dan kemanusiaan agar ketika lulus akan semakin kompetitif dan adaptabel dengan perkembangan zaman.

"Juga harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar tidak tergantikan oleh robot atau mesin," ungkapnya.

Kegiatan ini diikuti 6.390 mahasiswa program S1 dan D4 UNY. Dalam kesempatan ini Dewan Pertimbangan Presiden RI Agum Gumelar mengajak mahasiswa menelusuri kembali tonggak sejarah negeri Indonesia, mulai dari berdirinya Boedi Oetomo hingga Kemerdekaan Indonesia.

“Mahasiswa haruslah mengerti sejarah bangsanya, dan bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya,” kata Agum.

Menurutnya, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila bisa melakukan pembangunan di semua sektor kehidupan dengan tiga syarat. Yaitu ada jiwa nasionalisme, daya saing dengan kunci pada sumber daya manusia, dan disiplin.

Alumni Akademi Militer Magelang tersebut berpesan bahwa, generasi muda harus punya idealisme yang berwujud sikap mengkoreksi segala sesuatu yang tidak benar. Namun juga konsekuen dengan tidak melakukannya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?