Suasana saat seminar "Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya” di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwidjono, Yogyakarta.

Daerah

Agama Tidak Pernah Muncul sebagai Motif Awal Konflik


YOGYAKARTA - Agama tidak dapat dikatakan sebagai penyebab konflik, karena seringkali konflik berasal dari faktor lain di luar agama itu sendiri. Misalnya ekonomi, kecurigaan penguasaan aset/sumber daya, maupun karena kesalahpahaman terhadap berbagai kepentingan yang berbeda. 

Agama merupakan hal yang menarik dikaitkan, karena kemampuannya bisa menggerakkan kesadaran kesatuan identitas dan panggilan menjadi militan dalam menegakkan perjuangan yang mengatasnamakannya. Agama tidak pernah muncul sebagai motif awal dalam konflik masyarakat. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa agama sering dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan yang berbeda di masyarakat (misalnya dengan politik identitas).

Oleh karena itu, kaum beragama perlu kritis terhadap fenomena ini dan menyuarakan suara/nilai-nilai terdalam keagamaannya tentang cinta, keadilan, damai. Serta mewujudkan kerja sama bagi peningkatan kesejahteraan bersama.

Hal itu dibicarakan dalam seminar "Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya” di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwidjono. Pusat Studi Agama-agama (PSAA) Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta menyelenggarakan acara itu berangkat dari keprihatinan melihat maraknya isu intoleransi di Indonesia.

Narasumber yang diundang sebagai pembicara dalam “Interreligious Dialogue dalam Konteks Indonesia: Tantangan dan Masa Depannya” adalah Alamsyah M. Ja’far dari Wahid Institute, Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto, CM dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Dr. Haidar Bagir, pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) sekaligus pendiri Penerbit Mizan, dan Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, Alamsyah M. Ja’far menyampaikan hasil penelitiannya atas situasi relasi antar pemeluk agama di Indonesia. Sementara itu Prof. Dr. FX. Eko Armada Riyanto, CM berbicara mengenai interreligious dialogue di Indonesia dari perspektif akademisi.

Sedangkan Dr. Haidar Bagir menguraikan dialektika media, sejauhmana media memberikan dampak bagi relasi, perjumpaan, dan dialog antar umat beragama diuraikan secara kritis dan mendalam. Selanjutnya, Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si memaparkan pengaruh dinamika politik di Indonesia terhadap perjumpaan dan dialog lintas iman.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bagi kepentingan masyarakat luas, di mana tidak sekedar berdiskusi tentang hal-hal abstrak teologis tentang dialog agama-agama. Tetapi ingin mendaratkannya pada sebuah komunikasi otentik di masyarakat untuk mewujudkan perdamaian Indonesia yang beragam suku dan agamanya.

Sehingga dapat diperjuangkan bersama keadilan dan kesejahteraan berdasarkan Pancasila. Beragama tidak boleh menjadi alasan pertikaian atau konflik. Apalagi dengan kekerasan, karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan cinta kasih.

Dengan demikian, komunikasi antarumat beragama seharusnya juga dilakukan dalam kesadaran dan karakter cinta kasih itu. Kesadaran ini harus diawali oleh para pemimpin agama.

“Melalui kegiatan ini para tokoh agama dapat membagikan pengalaman dan menganalisa isu-isu yang berkembang di masyarakat dalam konteks hubungan dialog antar umat," kata Ketua PSAA UKDW, Pdt. Dr. Djoko Prasetyo Adi Wibowo, Th.M. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Banner Hari KORPRI