Nasional

Mahasiswa Perlu Diajari Mata Kuliah Literasi Berbasis Teknologi

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menekankan pentingnya ilmu pengetahuan tentang literasi sosial dan digital. Keduanya, dinilai perlu dikuasai oleh semua mahasiswa untuk menghadapi era disrupsi dan revolusi industri 4.0.

Era Revolusi Industri 4.0 juga menuntut mahasiswa menguasai literasi data. Karena itu diperlukan mata kuliah baru yang bisa mengajari mahasiswa tentang literasi berbasis teknologi tersebut.

Plh Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Intan Ahmad mengatakan, dengan adanya Revolusi Industri 4.0. Maka kampusnya sejak semester lalu telah memberikan mata kuliah elektif di bidang big data dan coding.

Dia menyampaikan, perguruan tinggi perlu melakukan berbagai program yang dapat mempersiapkan para mahasiswa dan lulusannya untuk berkiprah di era digital dan peroleh manfaatnya. Dunia bisnis dan industri akan semakin banyak menggunakan teknologi otomasi, serba komputer, daring dan serba mesin yang diintegrasikan dengan teknologi kecerdasan buatan.

“Maka kita perlu merespon era revolusi industri tersebut dengan sistem pendidikan yang menjawab tantangan masa kini dan bukan masa lampau,” katanya pada wisuda UNJ di Jakarta, Senin (25/3/2019) dilansir sindonews.com.

Kemampuan Literasi Data dan Teknologi

Intan menjelaskan, selain literasi bahasa Inggris maka literasi data dan teknologi adalah kemampuan yang tidak bisa dinafikan bagi generasi muda. Sebab, jika kita memahami data maka mereka pun akan mampu membaca dan menggunakan data tersebut untuk kehidupan. Namun bagi mahasiswa jurusan sains maka dipersilahkan mengambil mata kuliah lanjutan lain untuk mendalami kedua materi tersebut.

“Kita ingin agar mahasiswa lebih siap menghadapi revolusi industri 4.0 ini. Ekonomi digital yang berubah cepat. Tentu hal lain seperti kreativitas, kolaborasi, cara berpikir tingkat tinggi kita kembangkan terus karena itu adalah kunci sukses,” katanya.

Sementara Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan memasuki era revolusi industri 4.0, era disrupsi teknologi, diperkirakan 75-375 juta orang di dunia akan beralih profesi, dan akan muncul profesi baru karena dampak pertumbuhan teknologi yang begitu cepat. Hal ini membuat perguruan tinggi dituntut untuk siap menghadapi perubahan teknologi.

“Mau tidak mau, suka atau tidak suka, teknologi akan hadir dalam kehidupan kita,” kata Nasir. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?