SMA Mutual Kota Magelang

Kegiatan belajar mengajar. foto : kemdikbud.go.id

Daerah Inovasi

Cara SMP Syubbanul Wathon Meminimalkan Pergaulan Bebas Siswanya


MAGELANG – Tantangan dalam mengajar sangatlah kompleks. Mulai dari cara mendidik, cara melaksanakan ujian bahkan sampai ke dalam hal komunikasi. Komunikasi adalah suatu hal yang penting, sebagai proses penyampaian informasi.

Tidak hanya komunikasi antara guru dan siswa, tapi komunikasi antara siswa berlawanan jenis, juga perlu diperhatikan. SMP Syubbanul Wathon 2 Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah cukup awas memperhatikan kegiatan komunikasi siswanya. Sekolah tersebut mempunyai aturan untuk membatasi kontak langsung antara siswa dengan siswi.

“Sekolah kami juga sekaligus pesantren, kami memberi batas kepada siswa yang berlainan jenis untuk tidak melakukan kontak langsung,” kata I Wayan Jaba Hendra Feryana, S.IP, Kepala SMP Syubbanul Wathon 2 Bandongan.

Dijelaskannya, pembatasan kontak langsung antara siswa laki-laki dan perempuan dilakukan sejak dini agar mereka bisa memahami, menghormati dan bisa menjaga perilaku kepada lawan jenis.  Diharapkan, siswa tidak melakukan komunikasi liar antar lawan jenis, sehingga meminimalkan pergaulan yang bebas.

“Kami akan tindak dan memberi hukuman kepada siswa yang melanggar,” tegasnya.

Para guru mengharapkan, ketika sudah besar nantinya mereka sudah terbiasa dalam menjaga jarak kepada lawan jenis yang bukan muhrimnya. Selain para siswa, aturan tersebut juga berlaku kepada guru.

“Kami para guru juga terikat oleh aturan tersebut, guru laki-laki dan perempuan tidak ada kontak langsung dan ada jarak, tidak dalam satu ruangan guru. Namun, ketika dalam kondisi tertentu, seperti rapat koordinasi baru kami bisa duduk bersama dalam rapat,” tandasnya.

SMP Syubbanul Wathon 2 Bandongan membagi jadwal masuk pagi dan siang.

“Kami membagi jadwal siswa putra masuk pagi sampai siang, kemudian setelah ba’da dzuhur sampai ke sore, gantian untuk siswa putri yang masuk,” tuturnya.

Baca Juga :  Anak Lereng Sumbing Unjuk Nasionalisme

Hal tersebut dilakukan karena masih terbatasnya ruang kelas, yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Selain itu, juga sebagai salah satu upaya untuk membatasi kontak langsung siswa putra dan putri.

Sebagai sekolah yang baru berdiri menjadi cabang dari sekolah Syubbanul Wathon di Tegalrejo, SMP Syubbanul Wathon 2 Bandongan saat ini mendidik siswa dari sekitar Magelang.  Bahkan, juga ada siswa dari berbagai daerah, di luar Magelang.

“Anak yang berasal dari Temanggung dan Semarang lumayan banyak, malah yang ada juga dari luar Jawa seperti Kalimantan. Menurut informasi yang didapat, Syubbanul Wathon menjadi salah satu pilihan sekolah favorit,” tambahnya. (Siedoo) 

 

Apa Tanggapan Anda ?