Ilustrasi. sumber: kompasiana.com

Opini

Media Sosial, Media Belajar

DPRD Kota Magelang

Siedoo, Bicara tentang pendidikan selalu ada proses kegiatan membaca dan menulis; literasi. Proses kegiatan membaca dan menulis inilah yang biasa disebut dengan budaya literasi. Sejatinya, budaya literasi adalah budaya kebiasaan berpikir yang didukung proses membaca dan menulis.

Namun, secara konvensional, banyak orang mengartikan budaya membaca dan menulis hanya terfokus pada buku-buku. Padahal seiring berkembangnya zaman, kini budaya membaca dan menulis sudah semakin canggih berkat ditunjang teknologi modern. Kecanggihan teknologi modern inilah yang disebut sebagai literasi digital.

Literasi digital telah merambah pada seluruh sektor kehidupan manusia, tanpa terkecuali. Termasuk sektor pendidikan di era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan persaingan antar individu.

Dalam sektor pendidikan, setiap siswa dituntut untuk memiliki kualitas dan keterampilan yang mumpuni dalam menjawab setiap tantangan teknologi. Keterampilan yang dimaksud ini antara lain terampil menggunakan teknologi, terampil mengelola informasi, terampil belajar, terampil berinovasi, terampil hidup, terampil berkarir, dan terampil meningkatkan diri dalam kesadaran global. Bagaimana caranya?

Dengan memilih media pembelajaran secara tepat akan menambah keefektifan proses pembelajaran, karena pemilihan media pembelajaran yang menarik dapat menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi pada peserta didik dan hal ini mempermudah terjadinya proses pembelajaran itu sendiri. Satu diantaranya dengan menggunakan media sosial.

Media sosial memiliki pelbagai fungsi, satu diantaranya sebagai media pembelajaran khususnya instagram. Mengapa instagram? Karena media sosial instagram cukup popular di kalangan siswa dan mudah untuk mengkasesnya. Selain itu, dengan menggunakan media sosial instagram siswa lebih mudah untuk memahami beberapa materi Bahasa Indonesia salah satunya adalah puisi.

Di dalam instagram banyak terdapat akun-akun yang berhubungan dengan materi puisi, akun-akun yang mengunggah puisi-puisi atau kata-kata puitis. Dari akun-akun tersebut pertama-tama para siswa mulai tertarik untuk membaca sesuai dengan keadaan emosianal yang tengah dialami anak seusianya, biasanya tentang percintaan, dan pershabatan.

Setelah mereka sering membaca, barulah secara tidak sadar mulai mengikuti pola akun yang mereka ikuti untuk mengunggah kata-kata puitis sesuai dengan keadaan emosional yang dialami. Berangkat dari peristiwa tersebut saya mencoba untuk memberi pengarahan lebih dalam tentang penggunaan media sosial sesuai kebutuhan dan ke arah lebih baik, yaitu dengan mengunggah puisi-puisi yang mereka buat.

Mengapa puisi? Siswa yang diajarkan cenderung lebih mudah menulis puisi ketimbang menulis sebuah cerita pendek atau karya prosa lainnya, karena karya prosa lebih membutuhkan banyak kata-kata ketimbang puisi. Selain itu, media instagram juga terbatas untuk menuliskan sebuah karya sastra berbentuk prosa. Maka dari itu, puisilah pilihan yang tepat sebagai wadah pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa.

Dengan hadirnya media sosial sebagai teknologi baru, tentu saja cara hidup manusia juga akan mengalami perubahan. Di dalam penggunaan media instagram sebagai sarana/media pembelajaran tentu memerlukan biaya untuk membeli kuota internet sebagai faktor penunjang mengaktifkan instagram.

Biaya yang digunakan pun bervariatif tergantung besaran kuota yang dibeli. Meskipun telepon genggam yang digunakan siswa tidak semuanya berfitur canggih, tetapi paling tidak bisa memuat aplikasi instagram.

Bahkan bagi yang tidak memiliki telepon genggampun dapat membuat akun instagram melalui alamat surel (surat elektronik) yang dibuat terlebih dahulu. Kemudian, untuk aktivasi bisa melalui telepon genggam teman sekelas sehingga bagi siswa yang tidak memiliki telepon genggam siswa secara tidak langsung tetap bisa mengikuti arus globalisasi dalam bidang teknologi khususnya media sosial.

Selain itu, siswa semakin efektif dan efisien dalam memperoleh informasi sebab tidak terhalang waktu, tempat dan biaya yang tidak terlalu mahal.

Menggunakan instagram sebagai media pembelajaran membuat suasana di kelas menjadi hidup. Ibarat ruang gelap, instagram datang menjadi lampu sehingga menerangi kelas tersebut. maksudnya adalah dengan instagram siswa semakin mudah menemukan contoh puisi yang beraneka ragam.

Guru lebih mudah memberikan contoh puisi sehingga suasana kelas menjadi interaktif. Ketika selesai penyampaian materi puisi, siswa diminta untuk mencari ataupun menuliskan sebuah puisi sesuai dengan puisi yang ia temui sekaligus sukai.

Dalam proses pencarian inilah berlangsung proses pemahaman dan pengerjaan secara bersama-sama. Proses ini akan membuat siswa bingung karena mulai berpikir tentang beragam puisi yang mereka temui dan memilih puisi manakah yang akan dijadikan contoh untuk membuat puisi tersebut.

Seketika itu, mereka akan menanyakan perihal kebingungan kepada guru dan saat itulah guru yang berperan sebagai fasilitator mulai berperan aktif menajawab kebingungan-kebingungan para siswa.

*Yusuf Hidayatullah

Pascasarjana UHAMKA

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang