Prof. Mitra Djamal bersama salah seorang peneliti COSINE-100. foto : Humas ITB

Inovasi Tokoh

Masuk Jurnal Internasional, Dua Ilmuan ITB Menyangkal Penelitian Dark-Matter


Siedoo, Nama peneliti dari Indonesia ikut mewarnai di jurnal tingkat internasional. Peneliti dari Indonesia yaitu Prof. Mitra Djamal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA-ITB) dan mahasiswa S3 dari program Doktor Fisika bernama Hafizh Prihtiadi. Menariknya, penelitian terkait Dark-Matter tersebut berhasil lolos karena isinya yang menyangkal hasil penelitian sebelumnya terkait topik yang sama.

Menurut Prof. Mitra Djamal, hasil penelitian tersebut sangat penting untuk Indonesia. “Sampai saat ini tidak banyak peneliti Indonesia bisa tembus ke jurnal Nature. Semoga hal ini bisa menjadi pemicu dan penyemangat bagi penelitian di Indonesia,” ungkapnya.

Peneliti Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Tim COSINE-100 melakukan penelitian untuk mencari keberadaan Dark-Matter. Hasilnya, paper berjudul “An Experiment to Search for Dark-Matter Interaction Using Sodium Iodide Detectors” berhasil lolos ke jurnal Nature edisi 5 Desember 2018. Salah satu jurnal yang paling bergengsi di dunia.

Eksperimen COSINE-100 ini adalah suatu kolaborasi riset dari 50 ilmuan dari Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Brasil dan Indonesia. Penelitian terkait Dark-Matter yang dimaksud adalah hasil eksperimen dari grup DAMA yang dimulai pada tahun 1998. Mereka mengklaim berhasil menemukan keberadaan Dark-Matter dari pengamatan terhadap galaksi halo dengan menunjukkan adanya sinyal modulasi tahunan yang memenuhi kriteria model independen dark matter dengan menggunakan natrium iodida sebagai detektor.

COSINE-100 yang memulai eksperimen pada September 2016 dengan menggunakan detektor yang sama dengan detektor yang digunakan tim DAMA, menunjukkan tidak ada dark matter yang berinteraksi dengan detektor. Hal ini secara signifikan menyangkal hasil klaim DAMA.

Data eksperimen menunjukkan detektor kristal Sodium Iodide yang digunakan tim COSINE-100 memiliki sensitivitas yang lebih baik pada area sinyal DAMA. Walaupun massa detektor yang digunakan COSINE-100 hanya 106 kg, sedangkan yang digunakan tim DAMA mencapai 250 kg.

Baca Juga :  Kuliah Umum Rokhmin Dahuri di ITB, Tawarkan Solusi Persoalan Indonesia

“Kenapa ini menjadi sangat mengejutkan? Karena hasil eksperimen tim COSINE-100 menyangkal hasil yang didapat tim DAMA tentang Dark-Matter yang diklaim tim DAMA 20 tahun yang lalu,” ungkap Prof. Mitra.

Peran peneliti Indonesia dalam tim tersebut cukup signifikan. Khususnya pada pembuatan instrumen.

“Mahasiswa S3 kita di sana itu memang berasal dari kelompok keahlian Fisika Instrumentasi,” tambahnya menjelaskan.

Dengan penelitian seperti ini, apalagi bisa melibatkan mahasiswa doktoral dari Indonesia, ia yakin orang Indonesia akan semakin diperhitungkan dan banyak dilibatkan dalam penelitian skala global. Ia juga punya harapan bahwa suatu hari, Indonesia bisa menjadi tuan rumah dalam penelitian seperti ini.

Teliti Dark-Matter, peneliti ITB dengan Tim COSINE-100 Tembus Jurnal Nature. 

“Kalau sekarang sih tampaknya belum memungkinkan, membangun laboratorium saja butuh milyaran rupiah,” ungkap profesor Fisika ini.

Namun, untuk sumber daya manusia, ia yakin orang Indonesia tidak akan kekurangan.

“Ya, buktinya kita sanggup bekerja bareng dengan peneliti lain dari manca negara dari awal sampai selesai kan? Kalau kinerjanya buruk tidak mungkin nama kita juga ada di daftar penulis,” jawabnya santai.

Ia juga mengatakan bahwa penelitian ini belum selesai. Saat ini baru dalam tahap pembuktian kesalahan penelitian sebelumnya. Selanjutnya adalah meneliti bagaimana agar Dark-Matter benar-benar bisa terdeteksi. (*)

Apa Tanggapan Anda ?
Ucapan Pemkot