Dr. Ing. Zulfiadi Zulhan, ST., MT. (foto: researchgate.net)

Tokoh

Mantap! Zulfiadi Dosen ITB Berhasil Produksi Nugget Besi


BANDUNG - Pemerintah telah mengeluarkan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Kebijakan tersebut berisi larangan ekspor produk mineral termasuk pasir besi dalam bentuk mentah, dan diwajibkan untuk diolah di dalam negeri dalam rangka peningkatan nilai tambah mineral.

Atas dasar itulah Laboratorium Pirometalurgi pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat melakukan riset inovasi di bidang pemanfaatan pasir besi. Dalam riset yang dipimpin Dr. Ing. Zulfiadi Zulhan, ST., MT dari KK Teknik Metalurgi mengangkat judul Produksi Nugget Besi dari Konsentrat Pasir Besi.

“Karena ada aturan itu, perusahaan-perusahaan tambang diberi waktu untuk mengolah hasil tambang sendiri. Pada 2013 diadakan seminar di Jakarta yang mendiskusikan kesiapan perusahaan mengenai hal tersebut. Ternyata ada masalah dalam hal pasir besi karena belum ada teknologi pengolahannya. Saya kemudian membuat proposal penelitian dan diterima sebagai penelitian awal dalam karakterisasi pasir besi dan bagaimana mereduksinya,” ujarnya Zulfiadi.

Penelitian yang dilakukan sepenuhnya didanai Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan dibantu sejumlah mahasiswa di Teknik Metalurgi. Dijelaskan hingga saat ini, proses konsentrasi telah dilakukan untuk meningkatkan kadar besi hingga lebih besar dari 50% dan titanium sekitar 8%. Konsentrat ini belum digunakan sebagai bahan baku untuk mengekstrak logam besi maupun titanium baik logam maupun oksida.

Penelitian selesai dilakukan pada 2015 dalam skala lab di Laboratorium Pirometalurgi FTTM ITB untuk memisahkan besi dari konsentrat pasir besi sehingga kadar titatium dalam terak dapat meningkat.

Menurut Dr. Zulfiadi, dari hasil penelitian tersebut manfaat yang bisa dihasilkan ialah kemampuan perusahaan dalam mengolah barang tambang yang ada di Indonesia, karena sejauh ini belum ada teknologi pengolahannya. Namun tetap harus meminimalkan masalah lingkungan yang dihasilkan.

“Ekonomi di daerah akan meningkat dan berkembang, pendapatan daerah meningkat efeknya banyak,” ujarnya.

Saat ini, tim yang terdiri dari ITB, BK Mesin PII, BBLM Kemenperin, Puslitbang Tekmira, Unjani dan pihak swasta untuk membawa hasil penelitian ini yang disatukan dengan hasil penelitian-penelitian lainnya ke arah industri. Hitungan keekonomian proyek ini masih perlu dikaji terutama jika kandungan titanium dalam pasir besi tersebut dapat diekstraksi. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?
Dirgahayu RI Kota Magelang