Inovasi

Sky Trem, Alat Transportasi Ramah Lingkungan di Kota Pendidikan

Siedoo, Sekelompok mahasiswa Yogyakarta merancang alat transportasi ramah lingkungan dan bebas kemacetan yang disebut Sky Trem. Sky Trem dilengkapi dengan aplikasi khusus yang berguna untuk memudahkan masyarakat melihat jadwal pemberangkatan dan kedatangan kereta serta pembelian dan pembayaran tiket.

Pembayaran tiket dapat dilakukan dengan cara transfer, e-money, berlangganan, dan tunai. Aplikasi ini menyediakan fitur khusus yang berguna sebagai tempat kritik dan saran dari masyarakat.

Pembuat inovasi ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Cecep Wahyu Cahyana prodi teknologi informasi, Reyhan Aditya Adam prodi pendidikan teknik mekatronika dan Prawesti Eka Listyaningrum prodi akuntansi. Prawesti Eka Listyaningrum menjelaskan, melalui inovasi di bidang transportasi, Sky Trem diharapkan mampu mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara serta mendukung terwujudnya Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi smart city dengan memenuhi indikator smart transportation.

"Selain itu, juga menjawab tujuan agenda pembangunan berkelanjutan ke-11 yaitu ‘Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan’,” jelas Eka.

Inovasi ini dirancang tidak lepas dari kondisi bahwa, Daerah Istimewa Yogyakarta salah satu kota populer di Indonesia memiliki berbagai julukan diantaranya disebut sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota pariwisata. Hal itu mengakibatkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipenuhi oleh pendatang baru, baik untuk sekedar berwisata atau menetap beberapa waktu untuk menempuh pendidikan dan bekerja.

Masuknya pendatang baru ke DIY menyebabkan bertambahnya penduduk dan juga bertambahnya volume kendaraan pribadi di kota ini. Hal itu turut menimbulkan permasalahan transportasi berupa kemacetan dan terjadinya peningkatan jumlah emisi gas buang.

Pembuatan transportasi massal adalah kebijakan yang dipilih Pemerintah Daerah DIY untuk mengurai kemacetan dengan membuat Trans Jogja untuk melayani kebutuhan transportasi umum warga Yogyakarta. Namun hadirnya Trans Jogja sebagai upaya dari Pemerintah Daerah DIY ternyata belum mampu menjawab berbagai masalah transportasi seperti kemacetan.

Baca Juga :  UNY Sulap Enceng Gondok dan Keong Sawah Jadi Pakan Lele

Ketersediaan transportasi umum yang kurang memadai tersebut berakibat pada peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang memiliki efek domino berupa peningkatan polusi udara yang terjadi di Yogyakarta. Hal ini menjadi perhatian sekelompok mahasiswa UNY dengan merancang alat transportasi ramah lingkungan dan bebas kemacetan yang disebut Sky Trem.

Menurut Cecep Wahyu Cahyana, Sky Trem merupakan transportasi jenis trem, dimana transportasi ini menggunakan listrik dalam operasionalnya sehingga lebih ramah lingkungan.

“Sky Trem ini diharapkan akan mampu mengurai kemacetan di wilayah Yogyakarta karena akan memiliki jalur sendiri yang berada di atas jalan-jalan utama Yogyakarta dan memanfaatkan lahan kosong di atas Selokan Mataram,” kata Cecep.

Oleh karena itu Sky Trem menerapkan Internet of Things (IoT) dalam operasionalnya dan akan terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti Trans Jogja. Sky Trem selain menjadi transportasi umum untuk mobilitas masyarakat yang mendukung rencana pemerintah DIY tersebut, dirancang pula untuk mampu digunakan sebagai experience tourism.

Sementara itu, Reyhan Aditya Adam menambahkan, trem dirancang berornamen batik kawung dan Tugu Jogja sebagai hiasan dan akan menerapkan warna hijau kuning sebagai warna khas dari Keraton Yogyakarta. “Trem yang didesain dengan dua gerbong ini menerapkan transportasi tanpa awak dengan ketepatan waktu hingga 99%,” katanya.

Sky Trem dilengkapi dua sensor dengan fungsi yang berbeda-beda. Sensor pertama membuat trem berhenti secara otomatis ketika sampai di stasiun dengan memberikan sinyal dari jarak 100 meter sebelum stasiun. Sedangkan, sensor kedua diterapkan di pintu gerbong trem untuk mobilitas buka tutup pintu gerbong.

Jarak antara stasiun satu dengan stasiun berikutnya sekitar satu kilometer. Kecepatan dari transportasi ini berkisar 40-60 kilometer per jam.

Baca Juga :  Pembelajaran di Alam Terbuka, Atasi Pembelajaran Musim Corona

Karya ini berhasil meraih dana dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbud Ristek dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif tahun 2021. (*)

Apa Tanggapan Anda ?