Inovasi Tokoh

ITB Kembangkan Mobile Robot Berpadu IoT

Siedoo, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat terus menghasilkan riset-riset unggulan tentang robotika. Saat ini, ITB sedang mengembangkan human following robot. Ini merupakan mobile robot yang dipadukan dengan Internet of Things (IoT) yang dipasang pada tubuh manusia. Sehingga, secara nirkabel robot tersebut akan mengikuti kemana manusia bergerak. 

Selain itu, ITB juga sedang melakukan pengembangan terhadap humanoid robot, yaitu robot yang menyerupai manusia secara bentuk. Salah satu riset yang dilakukan adalah bagaimana membentuk formasi dari beberapa humanoid robot yang saling berkomunikasi dan menghindari halangan.

“Saat ini sedang dikembangkan kerjasama antara robot di darat dan robot di udara, di mana di atas robot adalah drone. Dan drone tersebut akan take off, robot darat bergerak dan diikuti oleh drone. Selanjutnya bisa landing di atas robot darat," kata peneliti di bidang teknologi robotik ITB Prof. Dr. Ir. Bambang Riyanto Trilaksono.

Bambang menjelaskan bahwa, tujuan dibuat kerjasama robot tersebut untuk memonitor wilayah yang terkontaminasi zat-zat berbahaya. Beberapa robot sudah dan sedang dikembangkan di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), FTMD, dan FTI. Salah satu penelitian robot di ITB melakukan riset robot insect untuk mata-mata (spy) yang dikerjasama dengan Badan Intelijen Negara.

Untuk diketahui, ITB telah banyak menghasilkan riset-riset unggul di berbagai bidang. Salah satunya ialah bidang robotik. Berbagai pengembangan tentang teknologi robotik banyak dilakukan, baik melalui pusat penelitian di ITB dan juga di kelompok keahlian terkait.

Prof Bambang merupakan salah satu peneliti di bidang teknologi robotik ITB. Ia tergabung ke dalam Kelompok Keahlian Sistem Kontrol dan Komputer pada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Prof. Bambang juga banyak melakukan riset terutama di bidang sistem kontrol, robotik, dan artificial intelligence (AI).

Adapun untuk jenis robot bisa dibedakan berdasarkan area kerjanya. Menurut Prof. Bambang, berdasarkan area kerjanya jenis robot setidaknya ada tiga jenis, yaitu robot udara, robot darat, dan robot air.

Untuk robot udara, dikenal sebagai Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang lebih familiar sebagai drone alias pesawat tanpa awak. Robot UAV ada beberapa jenis, yaitu yang menggunakan baling-baling, berbentuk helicopter, dan yang memiliki sayap tetap seperti pesawat.

Sementara robot yang beroperasi di air biasanya disebut underwater robot. Robot-robot jenis ini dapat dipakai untuk mengeksplorasi sumber daya yang berada di dalam air (laut) melalui kameranya, dan dibekali sensor khusus sesuai kebutuhan penggunaan.

Sementara untuk robot di darat, contoh-contohnya biasanya dalam bentuk mobile robot atau humanoid robot. Humanoid robot adalah jenis robot yang dirancang menyerupai manusia, dengan kaki, tangan, tubuh dan kepala.

Pengembangan Robot di ITB

Baik robot di udara, air, dan di darat, semuanya dikembangkan di ITB. Dijelaskan Prof. Bambang, untuk robot drone, ITB sedang mengembangkan teknologi drone yang dapat memonitor wilayah pertanian, dan people counting.

“Misalnya ada kerumunan orang, itu bisa dihitung kisaran jumlahnya dengan menggunakan drone yang dilengkapi kamera,” tambahnya.

Juga ada pengembangan drone yang terbang sangat tinggi. Teknologi tersebut sedang dikembangkan oleh Pusat Studi Sistem Tak Berawak ITB.

Kemudian untuk jenis robot yang beroperasi di air (underwater robot), pengembangan yang dilakukan yaitu teknologi remotely operated vehicle atau ROV. Ini merupakan robot yang dipakai di dalam laut yang dikendalikan oleh manusia dan masih menggunakan kabel untuk perintah kendali oleh operator.

Fungsinya untuk eksplorasi dengan membawa kamera, sonar dan sensor lain. Pengembangannya antara lain dikerjasamakan dengan Angkatan Laut.

“Masih dalam konteks underwater robot, kita juga mengembangkan underwater glider. Itu sebuah robot di dalam air yang gerakannya menggunakan prinsip buoyancy yang bisa bergerak turun naik dengan menghemat penggunaan baterai dan eksplorasi wilayah laut yang cukup luas. Ini bekerjasama dengan BMKG dalam pengembangannya,” urainya.

Robot underwater glider tersebut dilengkapi dengan sensor temperatur, kedalaman, posisi koordinat, dan salinitas air laut. Informasi-informasi yang didapat robot tersebut kemudian bisa dikirimkan ke ground station ketika robot berada di permukaan air.

“Masih terkait underwater robot, kita juga mengembangkan otonomus underwater robot, yang mampu melakukan gerakan manuver di dalam laut,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah robot di darat. Mahasiswa ITB banyak melakukan riset untuk teknologi ini yang biasanya dikompetisikan di skala nasional maupun internasional. Bahkan mengembangkan robot yang bisa memetakan lingkungan baik dalam 2 dimensi atau 3 dimensi. Robot tersebut dilengkapi sensor lidar yang bisa men-scan lingkungannya.

”Kita sudah pernah melakukan pemetaan tersebut di Gedung STEI. Hasilnya adalah sebuah peta 3 dimensi dari bangunan yang ada di sekeliling robot,” katanya.

Kendala dalam Pembuatan Robot

Setiap robot harus memiliki power atau sumber tenaga untuk penggeraknya. Komponen yang digunakan adalah baterai. Komponen baterai tersebut, sebagian dikembangkan di ITB dan sebagian lagi menggunakan teknologi yang sudah ada di pasaran.

“Beberapa sensor yang dipakai untuk robot tersebut ada yang dikembangkan sendiri di ITB dan juga memakai sensor yang sudah ada di pasar,” tambah Prof. Bambang.

Kendala dalam proses pembuatan robot ialah pada komponen, algoritma, dan mengintegrasikannya. Pendanaan tentang riset robot-robot tersebut berasal dari Kemenristekdikti, kerjasama dengan luar, dan dari ITB sendiri.

Harapan Riset Robot ITB

Penelitian tentang robot bersifat multidisiplin. Ia berharap, riset rentang robot yang ada di ITB, dapat menghasilkan kerjasama multidisiplin yang baik, dari pengembangan robot itu tersendiri maupun penggunaannya.

Tantangan terbesarnya, ialah bagaimana membuat robot yang secara pergerakan dan kepandaian menyerupai makhluk hidup.

"Kita sudah bisa meniru bentuk, tapi kemampuan robot dengan memahami informasi sekelilingnya dan mengambil keputusan masih jauh dari kemampuan manusia. Kemampuan memahami ucapan orang juga masih terbatas,” tandasnya. (*)

Apa Tanggapan Anda ?