Daerah

Ini Bentuk Pengabdian Bidang Pertanian Unpad untuk Masyarakat

BANDUNG - Pengembangan klaster tani terpadu di Desa Japara, Kuningan, Jawa Barat dilaksanakan dari 2016 hingga 2018. Aktivitas ini merupakan implementasi dari Hibah Kompetisi Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Multitahun “Iptek bagi wilayah Perguruan Tinggi- Pemerintah Daerah- Corporate Social Responsibility (IbW PT-Pemda- CSR) Kemenristekdikti serta dibantu dengan Pemkab Kuningan dan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Cirebon.

“Pembiayaan berasal dari kontribusi Poktan Gemah Ripah 2 dan Pemerintah Desa Japara,” kata Dr. Tomy Perdana, salah satu tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Padjadjaran (Unpad), Jawa Barat.

Pengabdian itu, Unpad bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Bank Indonesia perwakilan Cirebon, dan Universitas Kuningan mengembangkan klaster tani terpadu di Desa Japara, Kuningan. Tim terdiri dari Dr. Tomy Perdana, Prof. Ganjar Kurnia, Ir. Sondi Kuswaryan, M.S., Mahra Arari, M.T., dan Dr. Lili Kamelia Fitriani.

Mereka mengimplementasikan konsep klaster tani terpadu yang merupakan sintesis dari pendekatan klaster pertanian dan pertanian ekologis. Selama tiga tahun, dilaksanakan sejumlah kegiatan.

Kegiatan tersebut meliputi pengembangan benih untuk komoditas bawang merah, pengembangan persemaian untuk komoditas cabai merah, introduksi dan pelatihan mina padi dan sistem padi organik, hingga pelatihan dan pendampingan demplot usaha ternak domba padjadjaran, suatu jenis domba hasil penelitian dosen Unpad.

Selanjutnya, pelatihan dan pendampingan pengembangan sistem kolektif untuk produksi dan pemasaran sayuran dan ternak domba. Pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi pakan ternak “silase”,  pelatihan penerapan teknologi biogas, pelatihan dan pendampingan pembuatan pupuk organik dari hijauan dan limbah ternak, introduksi dan pelatihan beternak ikan lele, ikan nila jantan dan nilem, pelatihan pengembangan akses pasar sayuran, padi, ternak domba, dan ikan,

Dr. Tomy menjelaskan, klaster pertanian menekankan pada aspek kedekatan geografis dan jejaring kerja pemangku kepentingan pada suatu rantai pasok agribisnis. Upaya ini dipandang mampu mengatasi kelemahan para pelaku usaha kecil dan menengah di pedesaan dalam merespons globalisasi dan meningkatkan daya saing.

Sementara pertanian ekologis menjadi pilihan baru untuk mewujudkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Model pertanian ini menenkankan pada keberlanjutan penggunaan sumber daya internal daripada sumber daya eksternal. Sumber daya internal ini meliputi aspek ekologis, ekonomi, dan sosial.

Klaster tani terpadu di Desa Japara mengintegrasikan ragam usaha pertanian dan peternakan, hilirisasi pertanian, serta agroeduwisata. Pengembangan klaster ini melibatkan dua kelompok tani (poktan) di desa tersebut, yaitu Poktan Gemah Ripah 2 dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gimah Ripah.

“Usaha pertaniannya meliputi padi dan sayuran (bawang dan cabai merah). Sementara usaha peternakannya adalah usaha ternak domba padjadjaran, sapi, dan perikanan. Hilirisasi pertaniannya berupa penggilingan dan pemasaran beras,” jelas Dr. Tomy. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?