Empat mahasiswa kimia UNAIR memamerkan karya inovasi mereka saat mengikuti ajang International Invention and Inovative Competition (INIIC) di Langkawi, Malaysia tanggal 19-23 Oktober 2018 lalu. (Foto: unair.ac.id)

Inovasi Internasional

Karya Inovatif Ekstrak Kemangi, Harumkan UNAIR di Malaysia


SURABAYA – Ajang inovasi internasional digelar di Langkawi, Malaysia bertajuk International Invention and Inovative Competition (INIIC) pada akhir Oktober 2018. Pada kompetisi tersebut, empat mahasiswa kimia Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Jawa Timur berhasil menyabet dua penghargaan dengan karya inovatif, ekstrak kemangi.

Empat mahasiswa tersebut adalah Melly Octaviany, Nisa’ur Rosyidah, Wahyu Dwi Novita Sari, dan Hanifah Puspita Sari. Karya pertama mereka, B-FRESS, mendapatkan penghargaan Silver, sedangkan karya kedua, SEBA MASK, dan merebut Bronze. Perlombaan tersebut terbagi menjadi tiga kategori. Tim UNAIR mendapatkan kedua penghargaan tersebut pada kategori B (Higher Institution Student), yaitu kategori untuk mahasiswa.

Menurut Melly Ocktaviany, pada kategori B, cakupan pesertanya seluruh mahasiswa tingkat internasional. Karya inovatif keempat mahasiswa itu berhasil mengungguli peserta lain dari beberapa negara.

Tentang karya yang diikutkan lomba, mahasiswa kimia angkatan 2016 ini menjelaskan B-FRESS (Body Fragrance Spray Anti-Stress) From The Extraction Of The Basil Plant (Ocimum sanctum L.) As The Accessibility Of The Community In Lowering The Level Of Stress merupakan produk berupa spray untuk menurunkan tingkat stres dari ekstrak daun kemangi dan aromaterapi. Sedangkan karya kedua SEBA MASK (Seaweed Basil Mask), masker peel off dari rumput laut dan ekstrak kemangi untuk hilangkan masalah pada kulit wajah.

Menariknya, mereka memberikan variasi rasa pada produk inovatif itu. B-FRESS punya empat varian, kopi, mint, jasmin, dan cokelat. Sedang SEBA MASK, ada tiga varian rasa, yaitu lemon, madu, dan cokelat.

Melly mengaku sempat menghadapi kesulitan dalam proses penelitian. Pasalnya empat mahasiswa kimia itu hanya memiliki dana yang terbatas serta harus mencari pelarut yang cocok untuk memaksimalkan hasil produk. Proses penelitian tersebut berlangsung dua bulan hingga produk itu dipresentasikan dan dipublikasikan melalui lokakarya di Malaysia.

”Proses penelitian ini salah satunya mencari tanaman khas Indonesia, tapi kurang diminati oleh masyarakat. Keberadaan daun kemangi yang melimpah dapat menjadi potensi keberlanjutan produk yang besar,” tutur Melly dilansir unair.ac.id.

Melly berharap penghargan itu dapat memotivasi mahasiswa dan kaum muda lainnya. Bahkan, tim UNAIR ini ingin mengajak mahasiswa lain untuk mengikuti lomba sejenis pada kesempatan yang lain.

”Semoga hasil karya kami tidak hanya sampai disini. Tapi dapat dikomersialkan sehingga manfaatnya dapat sampai ke masyarakat,” harap Melly. (Siedoo/NSK)

Apa Tanggapan Anda ?