Internasional

Usai Kirim 190 Guru ke Malaysia, Kini Kirim 100 Guru Lagi, Untuk Apa

JAKARTA – Tahun 2017 lalu, pemerintah telah mengirim 190 guru ke Malaysia. Tahun 2018 ini jumlah guru yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke negeri tersebut lebih sedikit, yaitu 100 orang.

Pengiriman dilakukan sebagai bentuk upaya dan tanggung jawab pemerintah dalam mencerdaskan anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri, khususnya Malaysia. Mereka akan mengajar di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di wilayah Sarawak dan Sabah.

Saat acara Pengukuhan Guru untuk Pendidikan Anak-anak Indonesia di Malaysia 2018 di Hotel Belezza, Jakarta, Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan, para guru yang bertugas di Malaysia ini harus siap dengan segala risiko dalam mengemban tugas di sana nanti.

Mereka harus proaktif mencari siswa bagi PKBM, karena kondisi di sana jauh berbeda dengan kondisi sekolah di kota-kota besar di Indonesia, yang sebagian besar berlebih dalam menerima siswa.

“Para guru dituntut agar mampu menggali potensi anak-anak Indonesia di sana. Sehingga, lebih banyak lagi orang sukses yang berasal dari sana,” katanya dilansir dari kemdikbud.go.id.

Dalam mengabdi di dunia pendidikan tersebut merupakan tanggung jawab yang besar dalam membawa nama Indonesia sekaligus pengabdian. “Anda (guru) adalah wajah dari negara Indonesia yang akan berada di Malaysia,” ujar Mendikbud.

Mereka akan mengajari anak-anak dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di sana selama 2 tahun ke depan. Tahun ini sebanyak 40 guru yang telah bertugas di sana sudah kembali ke tanah air.

PKBM atau yang lebih dikenal dengan Comunity Learning Center (CLC) adalah lembaga formal bentukan masyarakat yang muncul atas prakarsa masyarakat dan dikelola oleh masyarakat sebagai upaya memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat tersebut. Hingga saat ini terdapat 294 PKBM di Malaysia dengan rincian 155 jenjang sekolah dasar (SD) dan 139 jenjang sekolah menengah pertama (SMP).

Mendikbud mengatakan, saat ini masih ada sekitar seratus ribu anak-anak Indonesia yang belum terlayani pendidikannya. “Pemerintah Indonesia baru bisa melayani sekitar 28 ribu, sekarang mau dinaikkan sampai 50 ribu targetnya,” tuturnya.

Memiliki Potensi Besar

Hal itu juga diungkapkan oleh satu dari guru yang purna tugas di Malaysia, Diah Rizki Hutaminingsih. Menurutnya, anak-anak Indonesia di Malaysia sebenarnya memiliki potensi yang besar, hanya saja kesempatan mereka memperoleh pendidikan belum sepenuhnya ada.

“Semoga anak-anak Indonesia di sana bisa kembali ke Indonesia menjadi individu yang bermartabat bagi negaranya,” kata Diah.

Senada hal itu, Muhammad Zaini, satu dari guru yang berangkat ke Malaysia tersebut mengungkapkan, motivasinya mengikuti program pengiriman guru ke Malaysia ini karena kecintaannya dalam mengajar dan menghadapi tantangannya di lapangan.

“Melihat anak-anak Indonesia di sana (Malaysia) melalui Youtube, mereka benar-benar masih membutuhkan sosok guru yang bisa mengajar, membimbing, dan membina mereka untuk menggapai cita-citanya,” kata pria asli Lombok Nusa Tenggara Barat itu. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?