Internasional

Rotary - ITS Perhatikan Masalah Air dan Lingkungan di Tiga Desa

SURABAYA - Di Desa Marmoyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur terdapat permasalahan yang terjadi berupa kurangnya sumber air minum yang layak bagi masyarakat. Sementara itu Desa Padusan, Kabupaten Mojokerto masalahnya justru banyak sumber mata air yang diambil secara ilegal. Terutama oleh bisnis penginapan ataupun villa.

“Sedangkan permasalahan yang cukup berbeda terjadi di Desa Sorowati, Kabupaten Gresik di mana airnya asin hingga tak layak konsumsi," kata Penanggung Jawa Gerakan Water, Sanitation, and Hygiene (Wash) Ir Eddy Setiadi Soedjono DiplSE MSc PhD.

Sebagai bentuk implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melalui Pusat Studi Potensi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat (PDPM) ITS kembali turun melakukan pengabdian pada masyarakat. Bekerja sama dengan Rotary Club Australia, ITS menyelesaikan permasalahan air dan lingkungan di tiga desa melalui gerakan Wash.

Rotary Club sendiri merupakan organisasi internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan, pemecahan masalah, dan kegiatan sukarelawanan lainnya. Organisasi tersebut tersebar hampir di 150 negara lainnya. Untuk melaksanakan pengabdian masyarakat kali ini, ITS dan Rotary Club menggandeng tiga desa tersebut.

Kegiatan ini bertujuan membantu dan melatih masyarakat agar bisa mengatasi permasalahan air minum, sanitasi dan kesehatan. Audiensi dengan pemerintah daerah serta rangkaian dialog dengan warga telah dilakukan guna menjabarkan permasalahan di masing-masing daerah. Dari hasil survei PDPM dan Rotary Club, ketiga wilayah tersebut ternyata menghadapi permasalahan yang berbeda.

Ketiga desa tersebut pun, membutuhkan perlakuan yang berbeda. Rencananya, untuk Desa Marmoyo akan dibuat tandon air serta pemasangan pipa yang akan mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Sementara guna mencegah pencurian air di Desa Padusan, nantinya akan dipasang meteran air.

Sedangkan untuk Desa Sorowati penanganannya bisa bermacam-macam. Salah satunya menggunakan membran untuk mengolah air agar tidak asin lagi.

Selain masalah air, sanitasi juga menjadi perhatian tim Wash. Mereka pun mencanangkan pengadaan kloset dan jamban di rumah warga yang belum mempunyai akses sanitasi yang layak. Menurut Edot, yang menjadi tantangan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut adalah bagaimana menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan warganya.

"Belum tentu semua warga mau terbuka dan merasa nyaman untuk melaksanakan program Wash," kata pria yang meraih gelar PhD di University of Birmingham, UK tersebut.

Untuk merealisasikan semua rencana terhadap tiga desa itu, PDPM ITS dan Rotary Club memerlukan waktu kurang lebih selama dua tahun. Ia pun menegaskan bahwa dalam kegiatan Wash ini tidak akan memberikan bantuan secara serta merta layaknya hadiah. Akan ada edukasi bagi warga, sebagaimana tujuan Wash itu sendiri.

"Ada tahapan yang harus disusun secara matang mulai dari perencanaan, konstruksi, implementasi, hingga operasi serta pemeliharaannya," kata dosen Teknik Lingkungan ITS ini. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?