Kapal Archimaiden yang didesain Tim Basudewa ITS. Mahasiswa Indonesia mampu bersaing dengan negara - negara di belahan dunia manapun.

Internasional

Desain Kapal Ferry Mahasiswa Indonesia, Kalahkan Amerika dan Belanda

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

SURABAYA – Desain kapal ferry yang baik memiliki keunggulan di bagian stabilitas, konstruksi kapal, serta disesuaikan dengan karakter dermaga dan laut yang mengacu pada ombak. Salah satunya ombak di Selat Singapura sebagai studi kasus. Sementara sistem keamanan kapal ferry dirancang berdasarkan regulasi Safety of Life at Seas (Solas) 3 dan 4.

Kapal memiliki pemadam api dan rute evakuasi sebagai standar keselamatan. Selain itu, kapal ferry yang didesain juga digerakkan menggunakan teknologi twin-screw water jet sebagai tenaga penggerak dengan menggunakan bahan bakar hibrida sebagai sumber energi.

Desain tersebut merupakan karya anak bangsa, para mahasiswa dari Departemen Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur. Karya desain mereka bersaing dengan dunia luar dan bahkan unggul menjadi juara II dalam kompetisi Internasional.

Tim Basudewa, berhasil meraih peringkat dua dalam ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition yang diadakan Worldwide Ferry Safety Association di Amerika Serikat (AS). Penghargaan prestasi membanggakan itu secara resmi diserahkan langsung di New York, AS. Keberhasilan tim ITS dalam ajang desain kapal ferry ini seakan menegaskan status Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.

Tim Basudewa terdiri dari Jangka Ruliyanto, Raja Andhika RR, Rahmat Diko Edfi, Novario Adiguna P, Alvinur, Yudha A, dan Riyan Bagus P yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di Negeri Paman Sam. Tim Basudewa sendiri berada di bawah bimbingan Ir Agoes Santoso MPhil dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) dan Hasanuddin ST MT dari Departemen Teknik Perkapalan.

Pada Worldwide Ferry Safety Design Competition ini, penilaian desain kapal ditentukan pada keamanan, faktor ramah lingkungan, mudah dibangun, dan biaya pembangunan yang murah. Desain kapal sendiri dirancang berdasarkan studi kasus yang berada pada selat antara Singapura, Malaysia dan Batam. Penilaian terhadap desain kapal ferry peserta kompetisi ini dilakukan secara online jarak jauh.

Kompetisi ini sendiri diikuti 19 negara, termasuk AS, Jerman, Prancis, Belanda, dan negara maju lainnya. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim ITS. Karena, mampu mengungguli negara-negara maju yang terkenal dengan teknologi terbarunya.

“Kita bersanding dengan Singapura yang berhasil meraih juara satu dan India juara 3 serta Belanda sebagai juara 4. Alhamdulillah Asia meraih tiga besar,” ungkap Jangka Ruliyanto.

Menurut Jangka, desain kapal untuk penggunaan bahan bakar hibrida lebih hemat dari segi biaya operasional. Dibanding kapal ferry di Selat Singapura pada umumnya.

“Penghematan biaya bisa mencapai 17,21 persen,” jelasnya.

Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS Dr Eng M Badrus Zaman menambahkan bahwa kompetisi level dunia pada sektor teknologi maritim harus sering diikuti. Hal ini juga dalam rangka menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia, dalam hal ini ITS, mampu bersaing pada level dunia.

“Momentum ini juga menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi poros maritim dunia,” tegas doktor lulusan Kobe University, Jepang ini.

Sementara itu, Agoes Santoso, salah satu pembimbing tim Basudewa, 19 negara yang mengikuti kompetisi ini semua siap dengan kualitas hasil dan mental. Dosen Siskal tersebut juga tidak menyangka, Indonesia bisa meraih juara dua.

“Yang kami tanamkan adalah terus semangat menghasilkan desain kapal yang nyaman, handal, ramah lingkungan dan efisien,” urainya.

Apa Tanggapan Anda ?