Prof Daniel M Rosyid (tengah) saat kunjungan ke tempat galangan kapal milik Albaola tahun 2011 lalu.

Nasional

ITS Persiapkan Pusat Studi Budaya Maritim Seperti di Spanyol


SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menargetkan pembangunan galangan kapal selesai pada 2020. Pembangunan ini bertujuan menjadi salah satu pusat studi budaya maritim Indonesia. Dengan adanya galangan kapal milik ITS, industri pembuatan kapal kayu di Indonesia diharapkan akan membaik nantinya.

“Perahu kayu nelayan yang selama ini hanya dikerjakan oleh pengrajin, nantinya akan mendapat sentuhan engineer,” kata Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS Prof Ir Daniel M Rosyid PhD.

Ia mengatakan, adanya perahu kayu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi beberapa sektor pariwisata pantai di Indonesia. Di Raja Ampat contohnya, adanya kapal kayu dapat menjadi ciri khas tersendiri. Nantinya, kapal kayu ini akan diinovasikan sedemikian rupa agar bisa menarik minat turis.

“Diberi layar misalnya,” jelas Daniel.

Dengan beberapa keuntungan tersebut, tentu galangan kapal kayu akan menjadi ladang perekonomian baru bagi masyarakat nantinya. Ia juga berharap, galangan kapal ITS tersebut nantinya dapat juga menjadi museum, atau tempat berkunjung. Sekaligus belajar mengenai proses pembuatan kapal kayu, khususnya bagi warga Surabaya. Ia mengungkapkan, angka 2020 yang ia pasang, bukanlah tanpa perhitungan.

Research sudah dilaksanakan, tinggal menunggu dana terkumpul dari beberapa sponsor,” jelas profesor yang ramah tersebut.

Upaya pembangunan galangan kapal ini tidak lepas dari kerjasama dengan salah satu pusat studi budaya maritim Spanyol, yaitu Albaola Itsas Kultur Faktoria. Dengan demikian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya siap mendirikan galangan kapal kayu sebagai pusat studi pendidikan serupa.

“Sebagai negara maritim yang memiliki luas lautan lebih besar dari daratannya, Indonesia sangat perlu untuk mendirikan pusat produksi kapalnya sendiri,” jelas Guru besar Teknik Kelautan ini.

ITS sempat berkunjung ke Albaola Itsas Kultur Faktoria di Spanyol pada 2011 lalu. Bahkan, pada November 2017 lalu sudah dilakukan penandatanganan kerjasama di antara keduanya, dan kini ITS berencana melanjutkan kerjasama yang pernah dijalin tersebut dengan mengirim lima mahasiswanya untuk magang di tempat pembuatan kapal kayu ini.

Albaola merupakan tempat yang tepat untuk belajar mengenai budaya maritim. UNESCO juga telah memberikan kepercayaan kepada Albaola untuk membangun replika penuh dari San Juan. Sebuah kapal kayu pemburu ikan paus yang dibangun di daerah Basques pada 1560-an.

Kapal tersebut pernah digunakan untuk berlayar melintasi Atlantik hingga Newfoundland, Kanada. Sampai akhirnya tenggelam di perairan Red Bay, Labrador. Dari kepercayaan UNESCO ini, Albaola kemudian dinobatkan sebagai pusat pengembangan budaya maritim kelas dunia yang mendidik pemudanya dengan berbagai keterampilan kemaritiman. Seperti boat building, rowing dan sailing.

“Dengan mengirim mahasiswa kami (FTK ITS, red) ke sana, kami berharap bisa mengetahui model bisnis seperti apa yang mereka kembangkan untuk kemudian diterapkan di Indonesia,” kata pria asal Klaten ini.

Apa Tanggapan Anda ?