Pakar Hidrologi dari Fakultas Teknik UGM, Dr. Agus Maryono saat memberi penjelasan. foto: ugm.ac.id

Tokoh

Catatan Pakar dari UGM dalam Mengatasi Dampak Kemarau


YOGYAKARTA – Dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di tahun 2018 bakal lebih panjang dari tahun sebelumnya. Di tahun lalu, jeda musim kemarau bulan April hingga Oktober. Tahun ini sejak April dan diperkirakan akan selesai November mendatang.

“Kita seharusnya selalu waspada menghadapi kekeringan layaknya mengantisipasi bahaya banjir,” kata Pakar Hidrologi dari Fakultas Teknik UGM, Dr. Agus Maryono dilansir dari ugm.ac.id, Jumat (14/9/2018).

Kini kemarau di Indonesia masih terjadi. Jika dihitung akan berakhir dua bulan lagi. Musim kemarau yang berdampak pada kekeringan dan krisis air bisa menjadi intropeksi diri. Dengan harapan, dimusim kemarau tahun-tahun sebelumnya, setidaknya dampak kemarau tersebut bisa diminimalisir.

Memanen Air Hujan

Langkah yang bisa ditempuh seperti tawaran dari Dr Agus, yakni memanen hujan di kala musim penghujan. Dikatakan, memanen air hujan sangat diperlukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi saat musim kemarau berkepanjangan.

Teknis dalam memanen hujan bisa dilakukan dengan berbagai hal. Diantaranya membuat bak penampung atau menyalurkannya air ke dalam sumur. Para petani juga bisa memanfaatkan air hujan dengan membuat sumur atau kolam di sekitar lokasi pertanian.

Disaring dengan Kain

Dikatakan, menampung air hujan sangat bagus untuk mengurangi ketergantungan penduduk terhadap PDAM.

Menurutnya, untuk rumah yang memiliki sumur panen hujan, bisa dilakukan dengan mengalirkan air hujan dari atap melalui pipa air menuju sumur. Apabila tidak memiliki sumur bisa dilakukan dengan menggunakan bak penampung.

Untuk menyaring air hujan dari kotoran debu, di atap bisa digunakan penyaring sederhana seperti bahan kain dan kaos.

Namun demikian, imbuhnya, kebiasaan ini tidak dilakukan oleh masyrakat karena tidak terbiasa melakukan hal tersebut. Sehingga, saat musim kemarau datang banyak daerah yang kekurangan sumber air.

“Dahulu masyarakat sangat akrab dengan mengelola air hujan. Namun sekarang sudah diserahkan ke urusan teknis, menyerahkankannya ke PDAM atau bagian irigasi untuk pertanian,” katanya.

Untuk daerah pertanian, seharusnya petani terbiasa membuat kolam ikan di persawahan dengan menggunakan air hujan. Sehingga, saat musim kemarau datang sisa air kolam masih merembes di sekitar persawahan.

“Air hujan bisa dimanfaatkan untuk perikanan,” katanya.

Selain itu, Agus juga mengajak masyarakat untuk terbiasa mencari sumber mata air. Bahkan mengelola sumur tua yang sudah lama tidak terpakai untuk dikelola agar bisa menampung air hujan. Menurutnya, keperluan tersebut sangat penting untuk menampung air hujan dan bisa digunakan saat musim kemarau sudah tiba.

Menurutnya, belum membudayanya kegiatan “memanen air hujan” oleh masyarakat dan pemerintah/ pemerintah daerah ini menjadikan tidak adanya persediaan air di masyarakat di saat musim kemarau. Ketidaksiapan masyarakat inilah yang menimbulkan penderitaan kekeringan di berbagai daerah.

“Karena itu, gerakan memanen dan menabung air hujan mestinya bisa menjadi suatu gerakan. Gerakan masyarakat menghadapi bencana kekeringan dan bukan selalu bergantung pada pemerintah,” katanya.

Dua Cara Menyelesaikan Masalah Kekeringan

Penyelesaian masalah kekeringan melalui gerakan tersebut, sekaligus meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi bencana kekeringan. Hal itu, katanya, dapat dilakukan secara preventif (sebelum terjadi kekeringan) dan kuratif (saat terjadi kekeringan).

Cara preventif merupakan upaya antisipasi dan melakukan persiapan di saat musim penghujan sebelumnya. Sedangkan kuratif menggunakan cara-cara pragmatis emergency, misalnya dengan mencari sumber-sumber air, menunggu droping air dan membeli air dan sebagainya.

“Jika hanya cara kuratif yang dijalankan, maka hal ini memperlihatkan ketidaksiapan masyarakat menghadapi kekeringan. Apalagi, masyarakat sudah terbiasa dengan menerima bantuan dropping air, membeli air dan lain-lain,” katanya.

Agus Maryono yakin dengan melakukan pengelolaan air hujan yang baik dapat meningkatkan kualitas lingkungan, disamping mengurangi bencana banjir dan kekeringan. Karena itu, semua ini diharapkan menjadi gerakan yang dapat memberdayakan masyarakat.

“Upaya pengurangan risiko bencana kekeringan dengan mengelola atau memanen air hujan merupakan upaya nyata mencegah banjir dan mencegah penurunan kualitas air tanah dan permukaan,” tandasnya.

Air Hujan di Indonesia Layak Dikonsumsi

Ditandaskan, air hujan di Indonesia masih layak untuk dikonsumsi. Ia sudah melakukan penelitian hinga 20-an kali soal tingkat keasaman air hujan di berbagai daerah di Indonesia seperti di Yogyakarta, Bali, Bogor dan Jakarta.

Dari hasil temuan tersebut, rata-rata tingkat derajat keasaman (pH) air hujan mencapai 7,2 hingga 7,4.

“Layak untuk dikonsumsi, namun untuk air hujan pertama hingga ketiga sebaiknya jangan dulu dikonsumi dan digunakan untuk keperluan lainnya. Karena masih berisi debu dan polusi lainnya,” katanya.

Sebab Suhu Menjadi Dingin

Disisi lain, Kepala Sub-Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi menyatakan dampak lain musim kemarau ini berakibat intensitas angin bertiup lebih kencang dan membuat udara terasa kering.

“Suhu udara di siang hari akan terasa lebih panas. Sebab, langit bersih dari awan hujan sehingga sinar matahari langsung turun ke bumi,” ucapnya dilansir dari tempo.co. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?