Nasional

Strategi BNPT Mencegah Teror di Perguruan Tinggi

SURABAYA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyusun strategi pencegahan radikal teror di perguruan tinggi. Hal ini diharapkan dapat diterapkan oleh setiap perguruan tinggi, termasuk salah satunya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur.

"Kepada seluruh mahasiswa baru ITS untuk turut berkontribusi dalam pelaksanaan pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia," kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia Brigadir Jenderal Polisi Ir Hamli ME, saat menyampaikan kuliah umum bertema Strategi Pencegahan Terorisme di Perguruan Tinggi dalam acara Pengukuhan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 di Graha Sepuluh Nopember ITS.

Hamli mengawali penjelasannya dengan menyampaikan, terorisme merupakan permasalahan yang berskala internasional. Terlebih lagi di daerah yang sering terjadi konflik seperti Suriah dan Afghanistan.

“Pelaku terorisme menganggap daerah tersebut merupakan lahan subur untuk melakukan aksi-aksi mereka," jelas pria kelahiran Juli 1962 ini.

Aksi-aksi terorisme memiliki dampak yang sangat buruk. Di antaranya mengakibatkan kerugian material yang sangat besar dan telah menyengsarakan masyarakat.

"Mulai dari kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan tidak sedikit yang kehilangan saudara-saudaranya karena telah meninggal akibat terorisme," ungkapnya.

Menurutnya, Perguruan Tinggi merupakan tempat yang sangat tepat untuk dapat mencerdaskan generasi bangsa agar mewaspadai tentang bahaya ancaman-ancaman terorisme. Karena pemuda dan mahasiswa rentan terpapar paham radikalisme. Hal ini dibuktikan, sebagian besar pelaku-pelaku terorisme di Indonesia merupakan seorang pemuda.

"Oleh karena itu, ujung tombak yang paling tepat untuk melawan terorisme juga adalah pemuda," imbuhnya.

Di akhir kuliah umum ini, Hamli juga mengundang Yudi Zulfahri, seorang mantan pelaku teror yang pernah menjadi bagian dari organisasi terlarang. Ia memberikan testimoni di hadapan para mahasiswa mengenai pengalamannya. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia mengimbau kepada para mahasiswa agar menjauhi pemahaman-pemahaman yang mengarah kepada intoleransi dan merasa paling benar sendiri.

Serta jangan suka memvonis sesat di luar kelompok atau pemahamannya. Ia membagikan pengalamannya agar tidak ada lagi pemuda yang terjerumus dalam kegiatan negatif.

Sementara pada acara itu, terdapat 4.994 mahasiswa baru ITS tahun akademik 2018/2019. Mereka terdiri dari 3.647 program sarjana, 642 program vokasi, dan 705 program pascasarjana. Mereka juga secara resmi dikukuhkan menjadi mahasiswa ITS oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng yang bertindak mewakili Rektor ITS. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?