Inovasi Teknologi

Grobak, Kreativitas Mahasiswa ITS Dalam Tuntaskan Food Waste di Indonesia

SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya  terus menghadirkan inovasi yang mumpuni bagi kemajuan Indonesia lewat tangan sivitas akademikanya. Kali ini, tim mahasiswa dari Departemen Teknologi Informasi ITS berhasil mewujudkan kreativitasnya dalam pengembangan “Grobak”. Sebuah aplikasi berbasis digital untuk distribusi bahan pangan guna menuntaskan problematika food waste di Indonesia.

Adalah Bagas Immanuel, Calvin Wijaya, dan Muhamad Rifaldi. Berawal dari rasa penasaran untuk berkompetisi di tengah beban akademik, membuat mereka tertarik untuk mempraktikkan kemampuannya di ranah software development.

“Mulanya hanya berdua dengan Calvin, lalu mengajak Rifaldi untuk bergabung. Karena dia yang jago dalam hal desain sampai terbentuklah Tim Goldfish ini,” tutur Bagas Immanuel, sang ketua tim, kamis (16/7/2020)

Latar belakang yang diampu dalam merancang ide untuk pembuatan aplikasi ini, Bagas menjelaskan bahwa invensinya mengacu pada 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Pada poin kedua dalam SDGs 2030 adalah zero hunger. Yaitu salah satu tantangan yang membuat sulit tercapainya tujuan tersebut adalah banyaknya food waste.

Dilansir dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (BKP Kementan RI), sampah makanan orang Indonesia mencapai 300 kilogram per kapita setiap tahunnya. Tingginya angka food waste di Indonesia ini menjadikan Bagas dan timnya membuat aplikasi Grobak dengan tujuan mengurangi permasalahan sampah sisa makanan ini.

Mengenai sistem kerjanya, Bagas mengungkapkan bahwa aplikasi Grobak ini bekerja dengan menghubungkan distributor bahan pangan mentah dengan rumah-rumah melalui tukang sayur. Dalam hal ini, setiap rumah dapat memesan bahan yang ingin dimasak satu hari sebelumnya dan akan diantarkan oleh tukang sayur pada hari berikutnya.

“Kemudahan ini dapat mengalihkan preferensi orang untuk lebih memilih masak sendiri daripada membeli di luar,” ungkapnya.

Bagas menambahkan, aplikasi Grobak ini juga dilengkapi fitur-fitur pelengkap. Seperti inspirasi memasak makanan yang sedang menjadi tren, bahan yang diperlukan, dan kuantitas setiap bahan untuk membuat suatu masakan.

“Dengan mengetahui jumlah bahan yang diperlukan, maka dapat mengurangi potensi food waste yang dihasilkan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, aplikasi Grobak juga memiliki fitur menarik yaitu Resep yang memungkinkan pengguna untuk membeli bundle atau semua bahan dalam satu resep masakan. Di dalamnya, juga tersedia informasi nutrisi makro yang terkandung dalam resep tersebut.

“Sejumlah fitur ini kami siapkan dengan target pengguna dapat memakainya setiap hari (daily use),” terang mahasiswa asal Lumajang tersebut.

Berbicara kembali tentang proses pembuatan aplikasi ini, Muhamad Rifaldi, salah satu anggota tim menyampaikan bahwa terdapat pembagian tugas dalam tim. Dirinya sebagai desainer antarmuka aplikasi, user interface, dan user experience.

“Sementara itu, Bagas bertugas menyusun laporan penelitian berdasarkan studi kasus, dan Calvin bertugas memprogram aplikasi yang telah didesain menjadi aplikasi yang representatif untuk dilombakan,” urainya.

Untuk diketahui, aplikasi yang dirancang untuk kompetisi Software Development di Invention Himakom Udayana 2020 ini telah berhasil meraih juara kedua. Dengan pengalaman ini, Bagas dan tim menjadikannya tempat mengasah kemampuan dalam bidang pengembangan Internet of Things (IoT).

“Nantinya dengan tambahan rancangan dari segi bisnis, kami berencana untuk melombakan lagi aplikasi Grobak ini,” pungkasnya. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?