Mahasiswa ITTP bangun sistem anti maling pada pagupon.

Inovasi Tokoh

Pagupon Anti Maling, Karya Mahasiswa Telkom


Siedoo, Saat ini semakin hari komunitas pencinta burung merpati kian menjamur. Karena pesatnya pertumbuhan para pencinta merpati, muncullah permasalahan baru yang meresahkan para pencinta merpati tersebut. Tindakan meresahkan itu yaitu semakin banyaknya tindakan kriminalitas (pencurian) yang dilakukan oleh pihak tak bertanggungjawab.

“Mereka memanfaatkan dari kelengahan para pemiliki merpati. Kemudian merencanakan pencurian terhadap merpati yang ada dalam pagupon,” jelas Hendy Cahya Mufianto, Mahasiswa D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP) Banyumas, Jawa Tengah.

Menurut dia, pagupon seperti yang diketahui bahwa sampai saat ini tidak ada sistem keamanan yang terjamin. Sehingga, mudah dimasuki oleh orang asing. Oleh karenanya perlu alat pengaman pagupon yang dapat mengingatkan bahwa ada orang asing masuk tanpa seizin pemiliknya.

“Pada akhirnya saya berusaha untuk membangun sistem anti maling pada pagupon dengan teknologi kekinian,” jelasnya.

Hendy Cahya Mufianto, Mahasiswa D3 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Purwokerto (ITTP) Banyumas, Jawa Tengah saat memaparkan karya inovasinya.

Hendy juga sudah mempresentasikan penemuannya terkait sistem anti maling pada pagupon di Gedung IoT (Internet of Things) 203. Sistem yang dibangun Hendy ini sengaja menciptakan sistem anti maling pada pagupon setelah melihat realitas yang sering terjadi di masyarakat. Khususnya untuk para pencinta burung merpati.

“Untuk alat anti maling ini saya beri nama ‘Ultrasonic Pagupon System Security’ yaitu alat yang dirancang dengan memanfaatkan teknologi sensor Ultrasonic HC-SR04, Arduino Mega, Buzzer dan Sirine,” urainya.

Sensor Ultrasonic akan mendeteksi gerakan dan buzzer akan terus berbunyi ketika masih mendeteksi pergerakan secara terus menerus kemudian di ikuti bunyi sirine. Bunyi sirine berfungsi untuk menakuti orang asing yang ada dilingkup pagupon merpati. Arduino mega sebagai otak untuk mengolah data dari sensor ultrasonic dan alarm.

“Sensor ultrasonic akan mendeteksi orang asing secara optimal dengan rentang hampir 4 meter dari pagupon berada,” tambahnya.

Sementara itu, dosen yang membimbing mahasiswa Muntaqo Afif Amanaf S.S.T M.T., berharap semoga masyarakat antusias dengan penemuan ini dan bisa diterapkan di lingkungan, terutama bagi pencinta merpati. Hal yang unik dan menarik dari alat ini adalah bisa dikendali lewat smartphone.

Menurut dia, alat ini benar – benar dibuat berdasarkan ide dan gagasan dari mahasiswa itu sendiri. Sistem anti maling yang diterapkan pada pagupon diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat luas, dan dengan adanya penelitian mahasiswa seperti ini setidaknya masyarakat tahu.

“Bahwa pengembangan teknologi tidak kaku, tapi luas,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?