Ilustrasi. Selamat datang MEA, saatnya masyarakat tingkatkan kompetensi.

Nasional

Strategi Sekolah Hadapi Gempuran MEA


Siedoo.com, Berita Pendidikan — Kepanjangan dari MEA, yaitu Masyarakat Ekonomi Asean. MEA merupakan suatu pola untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara anggota ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas pada 2020 mendatang.

Para anggota ASEAN, termasuk Indonesia telah menyepakati suatu perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. Dengan metode mengintegrasikan ekonomi di regional ASEAN, pasti ada dampak negatif dan positifnya.

Dampak Positif dan Negatif MEA

Dampak positif dari MEA menurut pemerhati pendidikan Arman Setiawan, di sisi perdagangan adanya peningkatan ekspor yang pada akhirnya maningkatkan GDP Indonesia. Pada sisi investasi, mendukung masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi dan penciptaan lapangan kerja.

Serta, pengembangan sumber daya manusia, dan akses lebih mudah kepada pasar dunia. Pada sisi ketenagakerjaan, munculnya kesempatan sangat besar bagi pencari kerja karena tersedia banyak lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan dan keahlian.

Adapun, dampak negatif yang muncul adalah munculnya kompetisi dengan banyaknya barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia. Terjadinya eksploitasi dengan skala besar terhadap sumber daya alam oleh perusahaan asing ke Indonesia. Hal ini dapat merusak ekosistem di Indonesia.

Pada sisi ketenagakerjaan, Indonesia bisa kalah bersaing dengan tenaga kerja dari Malaysia, Thailand, dan Singapura. Selain itu, juga bisa kalah dari sisi pendidikan dan produktivitas kerjanya. Dengan adanya dampak negatif yang sangat besar tersebut, salah satu sisi yang harus dikuatkan adalah bidang pendidikan.

Bagaimana kita dapat menyiapkan SDM yang berkualitas dan berkarakter kuat. Untuk itu, sektor pendidikan harus bersikap jelas. Bagaimana strategi sekolah untuk menghadapi gempuran MEA ini.
(baca : Mengenal Pembentukan Jenis Karakter).

Strategi Bidang Pendidikan dalam Mengahadapi MEA

Strategi pada bidang pendidikan dalam menghadapi MEA ini penting. Karena jika tidak dikuatkan, maka kualitas SDM kita kalah dengan negara ASEAN lainnya. Karena investasi yang masuk ke negara kita tinggi, maka pemilik modal juga akan menerima SDM yang berkualitas dari negara manapun.

Menurut Umi Salamah yang merupakan seorang dosen, pengamat, dan peneliti pendidikan tentang tantangan pendidikan menghadapi MEA, perlu meningkatkan kemampuan berinovasi, teknologi, dan networking. Untuk mengingkatkan itu semua maka harus menyiapkan kurikulum yang pasti.

Sampai saat ini kita masih belum mempunyai kurikulum yang pasti. Masih sering adanya bongkar pasang kurikulum dilakukan karena masih memiliki paradigma yang sama. (Baca : Wali Murid Protes Kurikulum 2013). Paradigma tersebut adalah menjadikan mata pelajaran dan matakuliah masih sebagai tujuan belum sebagai alat kecakapan hidup. Keberhasilan siswa dan mahasiswa masih diukur dari tingkat penguasaan materi saja.

Padahal, seharusnya diukur sampai bagaimana menggunakan materi itu sebagai kecakapan untuk memperoleh kesuksesan hidup. Hal itu menyebabkan lulusan pendidikan kita gagap dan kurang mampu bersaing dalam mengahadapi dunia kerja.

Masih menurut Umi Salamah, faktor penentu kemajuan suatu negara mengacu penguasaan inovasi (45%) dan penguasaan jaringan/networking (25%). Serta, penguasaan teknologi (20%) dan kekayaan sumberdaya alam hanya (10%). Pendidikan kita harus lebih menekankan pada tiga kemampuan di atas.

Paling tidak kita bisa belajar dari negara tetangga, Singapura. Singapura tidak memiliki sumber daya alam, tetapi masuk dalam kategori negara maju. Ini  karena negara tersebut menguasai tiga hal di atas. Untuk itu maka yang harus dilakukan adalah :

  1. Pemerintah harus menyiapkan sekolah-sekolah khusus yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan kerja. Misalnya sekolah pertanian, sekolah peternakan, sekolah perikanan, sekolah teknik mesin, sekolah teknik bangunan, dan sebagainya. (baca : Siapkan Siswa SMK Hadapi Dunia Kerja).
  2. Sekolah-sekolah tersebut harus benar-benar membekali kompetensi untuk berinovasi dan untuk membangun jaringan/networking. Kompetensi berinovasi dapat dilakukan dengan peningkatan berbagai ketrampilan seperti inovasi pembudidayaan, desain produk dan strategi pemasaran. Serta, penggunaan teknologi dan penguasaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi.
  3. Kompetensi membangun jaringan dilakukan dengan pengembangan sikap dan mengelola sumber daya manusia. Seperti, kepemimpinan, kerja sama, komunikasi dan pengembangan pribadi.

Perubahan Harus Segera Dilakukan

Hal ini perlu segera dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, karena kemampuan berinovasi dan penguasaan teknologi harus segera dilakukan. Karena mayoritas output pendidikan dasar dan menengah akan bekerja di sektor bawah atau tenaga kasar. Keterampilan ini bisa diupayakan dengan cepat karena siswa akan diajarkan bagaimana cara bekerja yang kreatif dan inovatif.

Adapun pengembangan kemampuan membangun jaringan diprioritaskan bagi tenaga kerja level  manajemen yang umumnya diemban oleh lulusan perguruan tinggi. Akan tetapi, jika keterampilan ini dimiliki oleh semua level pendidikan, maka dapat meningkatkan kualitas kerja lulusan pendidikan. Dengan demikian, daya saing tenaga kerja kita  meningkat.

sumber :

  • Arman Setiawan, Dampak Positif dan Negatif Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bagi Indonesia.
  • Umi Salamah, Tantangan Pendidikan Menghadapi MEA 2015.
Apa Tanggapan Anda ?