Hadapi MEA, 300 tukang bangunan Kota & Kabupaten Magelang ikuti ujian sertifikasi kompetensi di Untidar.

Daerah

Tukang Bangunan Pun Ikuti Sertifikasi Kompetensi

SMK Muhammadiyah 2 Muntilan

MAGELANG – Sebanyak 300 tukang bangunan dari wilayah Kota dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengikuti Uji Kompetensi Sertifikasi Tenaga Kerja Konstruksi (Tukang Bangunan Umum). Acara berlangsung dua hari di Gedung Fakultas Teknik, Untidar. Kegiatan ini merupakan kerjasama Jurusan Teknik Sipil, Universitas Tidar dengan Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Kementrian PUPR, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Magelang, Asosiasi Tenaga Ahli Pemborong Indonesia (ATAPI) Wilayah Jawa Tengah dan PT. Holcim Indonesia.

Kegiatan uji sertifikasi dan kompetensi kali ini khusus untuk tukang bangunan. Para peserta dibekali materi tentang Alat Pelindung Diri (APD) dan teknik-teknik pertukangan pada hari pertama. Lalu selanjutnya pada hari kedua dilaksanakan praktek dan wawancara.

“Kegiatan ini penting dilaksanakan secara berkala, sehingga tenaga tukang di Indonesia memiliki sertifikasi sesuai keahliannya masing-masing,” jelas Plt Ketua Jurusan Teknik Sipil Untidar Muhammad Amin, S.T., M.T.

Dia menyatakan bahwa kemampuan dan ketrampilan dari seorang tukang hendaknya dilengkapi dengan sertifikasi dari suatu lembaga tertentu. Sertifikasi kompetensi merupakan syarat utama dalam persaingan di industri konstruksi saat ini.

“Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) setiap tukang harus memiliki sertifikasi kompetensi. Agar tidak kalah dengan tenaga asing yang sudah mulai ditemui dalam proyek dalam negeri,” jelasnya.

Para peserta bersama-sama membuat pondasi saluran air di depan Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setelah praktek ini, setiap peserta melanjutkan sesi wawancara dengan penguji. Kemudian hasil penilaian penguji dijadikan acuan pemberian sertifikat kompetensi.

“Bagi yang tidak lolos atau memenuhi standar hanya akan mendapat sertifikat pelatihan dan dapat mengikuti uji ulang di kemudian hari,” ujar Muhammad Amin.

Tohari, salah satu penguji dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menyatakan, tukang bersertifikasi mempunyai nilai yang lebih ‘tinggi’ dibandingkan dengan tukang tanpa sertifikasi. Seperti diketahui, proyek-proyek besar membutuhkan tenaga tukang bersertifikat.

“Karena itulah syarat utama untuk mengikuti tender,” kata dia.

Praktek kali ini membuat pondasi saluran air. Hasil praktek adalah barang jadi yaitu nantinya bisa dimanfaatkan untuk kedepannya. Bukan hanya dibuat lalu dibongkar untuk kepentingan praktek.

Menurut Tohari, tukang bersertifikasi berpeluang besar memiliki penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan tukang biasa. Sertifikasi kompetensi yang dimilikinya memungkinkan mereka mengikuti proyek-proyek besar dengan penghasilan menjanjikan.

“Tukang bersertifikasi bisa kerja diluar negeri. Kemampuan atau skill mumpuni tanpa sertifikat diluar negeri tidak akan ‘laku’,” tambahnya.

Apa Tanggapan Anda ?