Inovasi

Kaca Zeolit - Y Karya Mahasiswa, Mampu Kurangi Gas Karbondioksida

SURABAYA - Tiga mahasiswa Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur menemukan inovasi baru dibidang lingkungan. Inovasi dengan kaca berlapiskan Zeolit-Y ini berhasil mengurangi kadar gas karbondioksida. Karya mahasiswa itu juga sudah mendapatkan pendanaan dari Ditjen Dikti dan diharapkan bisa lolos bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2018 di Yogyakarta.

Kaca berlapiskan Zeolit-Y adalah karya Nadia Lailatus Sadiyah, Aristin Putri Kusuma Anggraini dan Awanda Gita. Dengan pencetus ide dan pengarah adalah Randy Yusuf Kurniawan. Zeolit-Y adalah material berpori, terdiri dari mineral aluminosilikat yang terikat satu sama lain membentuk struktur oktahedral.

Menurut tim, dengan adanya struktur oktahedral tersebut akan menghasilkan rongga-rongga di dalam material yang berfungsi meng-adsorpsi atau menyerap gas karbondioksida.

Zeolit-Y ini dinilai efektif dalam meng-adsorpsi gas karbondioksida, karena ukuran rongganya yang hampir sama dengan ukuran molekul karbondioksida. Selain itu, kandungan silikanya yang tinggi dibandingkan zeolit lain, mengakibatkan sifat hidrofobitasnya atau sifat fisik molekul yang tidak suka air juga tinggi.

Sifat tersebut sama dengan sifat komponen kaca pada umumnya. Sehingga, membuat Zeolit-Y ini digunakan sebagai zat pendukung pada serat kaca.

“Serat kaca merupakan bahan pembuat kaca yang berbentuk seperti lembaran benang,” jelas Awanida, anggota dari tim tersebut.

Dari hasil penelitiannya, efisiensi adsorpsi atau penyerapan gas karbondioksida menunjukkan angka 33,15 persen. Artinya, sebanyak 33,15 persen gas karbondioksida mampu diadsorpsi oleh kaca berlapiskan zeolit ini.

“Angka tersebut sangat tinggi dibandingkan Zeolit-Y tanpa serat kaca yang hanya menghasilkan efisiensi 27,76 persen,” jelas mahasiswa semester lima itu.

Tak ayal, kaca berlapiskan zeolit ini pun diharapkan tim bisa dipakai di gedung-gedung dan perumahan sebagai bentuk kepedulian terhadap efek pemanasan global.

Nadia Lailatus Sadiyah sedang melakukan percobaan.

“Kami sangat bangga ketika inovasi kami bisa benar-benar diterapkan dan dikembangkan lagi,” ucap mahasiswa asal Gresik itu.

Untuk diketahui bahwa, inovasi ini muncul tidak lepas dari polusi udara yang terus berkembang. Polusi kerap menjadi sumber atau pemicu pemanasan global. Salah satu jenis polutan atau bahan yang mengakibatkan polusi adalah gas karbondioksida.

Keberadaan gas karbondioksida di atmosfer yang melewati ambang batas akan mendorong kenaikan permukaan laut dan meningkatkan suhu bumi. Terlebih jika dibiarkan terus menerus, akan mengakibatkan musim kemarau yang berkepanjangan. Beranjak dari kondisi tersebut, maka tiga mahasiswa itu berhasil mengurangi kadar gas karbondioksida dengan karyanya.

Apa Tanggapan Anda ?