Pemberian bantuan dana pendidikan oleh Direktur Utama PT INKA, Ir Noviantoro kepada Kepala Departemen Teknik Sipil ITS Tri Joko Wahyu Adi (tengah).

Nasional

Proyeksikan Kereta Cepat Indonesia pada 2025


SURABAYA – Impian Indonesia untuk memiliki transportasi masa depan yang mumpuni bisa segera terwujud. PT Industri Kereta Api (Persero) (INKA) memproyeksikan, Indonesia akan memiliki kereta api cepat dalam beberapa tahun kedepan. Mewujudkan mimpi menuju sarana transportasi masa depan juga terus disuarakan di sudut – sudut perguruan tinggi.

Program ini ditargetkan akan dimulai proses produksinya pada tahun 2025 mendatang. Sedangkan peluncuran produk sebagai transportasi masal ditargetkan maksimal lima tahun setelahnya, yakni tahun 2030. Dengan ini, beberapa perguruan tinggi diajak untuk meningkatkan riset berdasar bidang masing-masing.

Misalnya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur mendapat beberapa bidang khusus terkait risetnya untuk mendukung beberapa program. Di antaranya adalah review engineering desain car body & instalasi komponen, review engineering desain jendela, review engineering desain bogie, serta review design sistem interior.

“Hasil riset inilah yang nantinya akan direalisasikan oleh PT INKA untuk menjadi produk utuh kereta cepat,” kata Direktur Utama PT INKA, Ir Noviantoro.

Ia menyampaikan itu saat PT INKA mengadakan kuliah tamu tentang kereta cepat bagi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Ruang Sidang Departemen Teknik Sipil. Acara yang merupakan bagian dari program INKA Goes to Campus ini dihelat dalam rangka sosialisasi PT INKA kepada para mahasiswa tentang sebuah wujud transportasi masa depan.

Mengangkat tema Mewujudkan Mimpi Menuju Sarana Transportasi Masa Depan, PT INKA memfokuskan bahasannya mengenai program kereta cepat Indonesia. Sarana transportasi ini dianggap menjadi sebuah solusi masa depan dari berbagai masalah-masalah transportasi yang terjadi.

Selain mengatasi permasalahan transportasi, kereta cepat juga dibutuhkan disebabkan adanya transformasi budaya masyarakat modern. Kecepatan dalam segala hal menjadi syarat utama untuk tetap dapat mengikuti zaman teknologi digital ini. Termasuk dalam hal transportasi yang menjadi penentu efisiensi aktivitas sehari-hari masyarakat.

Melalui seminar ini, diharapkan bisa menjadi wawasan baru bagi mahasiswa untuk dapat membantu berkontribusi mewujudkan kereta cepat di Indonesia.

“Melalui kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, kami (PT INKA, red) berharap pada tahun 2030 masyarakat Indonesia sudah bisa menikmati kereta berkecepatan 300 hingga 400 km perjam,” jelas Noviantoro,  alumnus Teknik Sipil ITS itu.

Noviantoro mengatakan, program kereta cepat ini hangat diperbincangkan di kalangan pemerintah. Imbauan untuk mengeksekusi program ini dalam waktu dekat terus diterima oleh PT INKA. Pemerintah saat ini sangat menyoroti dan serius menggarap program ini.

“Hal ini merupakan sebuah peluang besar bagi suksesnya mimpi transportasi masa depan,” ujar pria asal Bojonegoro itu.

Namun sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Dibutuhkan banyak SDM profesional untuk turut berkontribusi membantu program kereta cepat ini. Noviantoro pun mengaku terus mengusahakan pemberdayaan SDM melalui beberapa programnya. Sosialisasi seperti seminar di ITS ini akan terus diadakan nantinya.

“Kami membutuhkan bantuan dari perguruan tinggi untuk melakukan berbagai riset untuk menunjang program ini,” terang pria kelahiran tahun 1960 itu di hadapan para mahasiswa ITS.

Turut hadir juga pada kuliah tamu ini, Dekan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian (FTSLK) ITS, IDAA Warmadewanthi ST MT PhD untuk memberikan sambutan pembukaan. Ia menuturkan bahwa mahasiswa diharapkan dapat mengetahui teknologi baru terutama yang tengah dikembangkan oleh PT INKA.

“Guna meningkatkan keahlian yang ditekuni mahasiswa, diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak seperti halnya PT INKA ini,” tandasnya.

Alumnus National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini menjelaskan bahwa ITS saat ini sudah berada pada Pendidikan Berbasis Laboratorium (Laboratory Based Education). Ini berarti, ujung tombak pengembangan kurikulum institut berada pada aktivitas di dalam laboratorium.

“Dengan hal ini, diharapkan pengembangan wawasan dan berbagai kerjasama dengan PT INKA ini dapat membantu berhasilnya sistem pendidikan tersebut,” kata dosen Teknik Lingkungan ini. (Siedoo) 

Apa Tanggapan Anda ?