Nasional

SMKN Jadi BLUD, Sebuah Keniscayaan

Siedoo, MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ingin SMK Negeri (SMKN) menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, mengingat saat ini semakin banyak SMK Negeri dengan teaching factory beroperasi cukup maju layaknya industri.

Hal itulah yang mendorong Kemendikbud berkeinginan terbentuknya BLUD dari SMKN. Sehingga, pemasukan yang didapatkan dari penjualan hasil produksi teaching factory tidak dikategorikan sebagai penyimpangan pengelolaan keuangan.

Salah satu syarat SMKN menjadi BLUD, adalah harus menjalin kemitraan erat dengan industri atau jasa. Hal ini agar proses belajar di SMKN lebih sesuai dengan dunia industri atau jasa.

Muhadjir berharap, tahun ini peraturan menteri tentang pembentukan BLUD bagi SMKN selesai dibuat. Nantinya peraturan mendikbud tersebut ditindaklanjuti dengan peraturan gubernur di tiap-tiap daerah.

Mendikbud optimis proses pembelajaran teaching factory dapat mendorong produktivitas baik siswa, guru, maupun sekolah secara keseluruhan karena saling berlomba menghadirkan produk/layanan unggulan masing-masing sekolah.

“Kurikulumnya bisa ditentukan dengan perusahaan yang diajak sebagai mitra, hingga sebesar 60 persen,” ujar Mendikbud kepada awak media beberapa waktu lalu.

Menurut Muhadjir, semakin banyak SMK yang memanfaatkan teaching factory untuk melatih siswa bekerja selayaknya profesional dengan produksi barang atau jasa yang sesuai standar dunia usaha dan dunia industri (DU/DI). Kemudian hasil produksinya pun bisa dijual dan menjadi pemasukan bagi sekolah.

Sementara itu, Direktur Pembinaan SMK Kemendikbud M Bakrun menjelaskan, revitalisasi SMK dimulai pada 2017 menyasar 219 sekolah di seluruh Indonesia. Sebanyak 114 SMK telah mendapatkan bantuan pengembangan teaching factory pada 2017, sedangkan sisanya sebanyak 105 SMK direalisasikan pada 2018.

”Tahun 2018 Kemendikbud akan menambah lagi sebanyak 350 sekolah untuk direvitalisasi. Sehingga totalnya nanti ada sekitar 569 sekolah,” jelasnya.

Bakrun mengungkapkan, teaching factory berperan sangat penting bagi pendidikan karakter siswa SMK. Pembelajaran di teaching factory dimaksudkan untuk melatih siswa tidak hanya terampil dan kompeten. Tetapi juga memiliki sikap mental dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Pembelajaran melalui teaching factory diyakini mampu menumbuhkembangkan etos kerja serta karakter disiplin, tanggung jawab, jujur, kerja sama, dan kepemimpinan dari peserta didik, yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri.

Pembelajaran kejuruan melalui teaching factory juga dianggap mampu meningkatkan kualitas hasil pembelajaran. Dari sekedar membekali kompetensi (competency based training) menuju ke pembelajaran yang membekali kemampuan memproduksi barang/jasa (production based training).

“Banyak industri yang hanya ingin mendapatkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhannya. Tapi tidak mau investasi. Jadi, program teaching factory ini bisa menjadi jembatan untuk link and match antara sekolah dengan dunia industri,” ungkap Bakrun.

 

 

*Narwan, S.Pd

Guru SD Negeri Jogomulyo, Kecamatan Tempuran,

Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Apa Tanggapan Anda ?