Daerah

Studi Banding di Kota Layak Anak

MAGELANG - Kota Magelang, Jawa Tengah menjadi sasaran lokasi studi banding terkait program Kota Layak Anak (KLA). Perwakilan dari Kota Pasuruhan, Jawa Timur menyempatkan waktu datang langsung ke Kota Sejuta Bunga untuk mengetahui lebih jauh tentang KLA. Kota Magelang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai kota layak anak tingkat nindya.

Ketua TP PKK Kota Pasuruhan Rini Wijayanti mengatakan, dirinya bersama rombongan sengaja studi banding di Kota Magelang. Ini karena kota ini sudah berhasil meraih penghargaan kota layak anak tingkat nindya.

"Kota Pasuruhan sendiri sejak 2016 lalu baru berhasil meraih penghargaan kota layak anak tingkat pratama," katanya saat studi banding di Ruang Adipura Kencana Kota Magelang, Jumat (11/5/2018).

Rini yang juga Ketua Tim Advokasi KLA Kota Pasuruhan ini menjelaskan, pihaknya ingin belajar tentang apa saja yang telah dilakukan tim advokasi KLA di Kota Magelang. Sehingga, berhasil meraih berbagai penghargaan.

"Harapan kami dengan studi banding ini adalah agar tahun-tahun mendatang bisa mendapatkan prestasi lebih baik," urainya.

Rombongan studi banding diterima langsung Walikota Magelang Sigit Widyonindito. Ia menyatakan bahwa, dengan komitmen Pemerintah Kota Magelang yang terus dijaga ini, kota sejuta bunga berhasil meraih penghargaan sebagai kota layak anak tingkat nindya.

"Penghargaan ini sudah kami terima kesekian kalinya. Barangkali nanti dari Kota Pasuruhan bisa mencari best practice berkaitan dengan kemajuan KLA ini," katanya.

Kota Magelang tidak memiliki sumber daya alam yang bisa diandalkan sebagai sumber pemasukan. Yang diandalkan adalah sektor jasa, baik jasa pendidikan, kesehatan, wisata, maupun lainnya. Semakin jasa yang diberikan bagus, kota juga akan semakin bagus.

"Sementara, semakin kota ini layak untuk anak, pasti juga layak untuk orang dewasa," ujarnya.

Upaya menjadikan daerah ini sebagai kota layak anak, salah satu yang sudah dilakukan dengan melibatkan anak muda setiap kali pembahasan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) daerah. Pelibatan anak-anak muda sudah dilakukan, dengan memfasilitasi ruang belajar, layanan kesehatan dan lainnya sehingga mereka nyaman.

Termasuk juga menghadirkan mereka untuk ikut menyampaikan pendapat dalam musrenbang. Pemikiran anak muda saat ini berbeda jauh dengan anak muda jaman dulu. Generasi muda saat ini lebih memiliki pemikiran luas dan berani mengungkapkan hal itu.

"Tentu anak muda sekarang berbeda dengan dulu. Pola pikir orang tua dengan anak beda, kadang-kadang aneh, tapi itulah dunia anak," jelas Sigit.

Apa Tanggapan Anda ?