Ilustrasi. foto: okezone.com

Nasional

Tanpa Ampun, Empat Gelar Profesor Dicopot

Iklan SMA Mutual

JAKARTA – Gelar profesor tidak selamanya melekat pada diri seseorang. Gelar akademik tersebut tak selamanya abadi. Itu setidaknya yang menimpa pada empat orang, yang gelar profesornya dicabut oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Hal itu dilakukan karena mereka melakukan plagiat.

“Saya, selama menjabat sebagai menteri, sudah memberhentikan empat profesor karena plagiat,” kata Menristekdikti, Profesor Muhamad Nasir sebagaimana ditulis Antara, tanpa merinci nama orang yang gelar profesornya dicabut.

Ditandaskan, salah satu kewajiban dosen adalah melakukan penelitian. Tetapi, masih banyak yang lebih suka mengajar dengan mengabaikan penelitian.

Ketika melakukan penelitian, sering terjadi dosen mengambil jalan pintas dengan mengambil dari peneliti lain tanpa mencantumkan sumbernya. Sehingga, terjadi plagiarisme.

"Supaya tidak terjadi plagiarisme, harus jujur. Plagiarisme harus dihindari dan jangan dilakukan. Plagiarisme hukumnya haram bagi seorang dosen," tuturnya.

Sebagaimana ditulis Jawa Pos, Nasir pernah mengingatkan supaya akademisi kampus membangun budaya anti plagiat. Sebab, plagiat merupakan pengingkaran terhadap kejujuran. Dia menegaskan jangan sampai ada civitas akademika kampus yang terlibat plagiat.

"Kampus harus bersih, jangan ada korupsi," jelasnya.

Ditandaskan, sesama kampus bisa menjalin kerjasama untuk meningkatkan level inovasinya. Bahkan, kampus bisa juga menjalin kerjasama dengan industri. Supaya hasil inovasinya sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ia juga menyinggung soal penggunaan medsos. Dia mengatakan kebebasan menggunakan medsos sudah kebablasan. Di banyak kasus, medsos malah digunakan media memecah bangsa.

"Ada oknum tidak bertanggung jawab," jelasnya.

Oknum ini, rajin menyebarkan hujatan, hasutan, berita palsu atau hoax, dan lain sejenisnya.

Pesan yang berikutnya soal radikalisme. Dia mengatakan tidak perlu menggunakan senjata dalam memerangi paham radikalisme. Khususnya di lingkungan kampus.

Menurut Nasir radikalisme bisa dilawan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang baik. Nasir mengingatkan supaya kembali memperteguh bhineka tunggal ika. Kemudian juga menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab.

Apa Tanggapan Anda ?