Ilham Cahya Suherman, Diah Rachmawati, Firman Maulana berinovasi dengan game. Latih berbahasa Inggris, mahasiswa ITS ini merancang game Words War.

Inovasi

Inovasi Mahasiswa, Ciptakan Game Bermodal Suara


SURABAYA – Tidak hanya berangkat kuliah kemudian pulang, menutup buku. Mahasiswa dari Surabaya, Jawa Timur ini mampu membuat inovasi di bidang teknologi, meski padatnya jadwal kuliah. Tiga mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan sebuah game bernama Words War dengan mengusung teknologi speech recognizition sebagai solusinya.

Pencipta game tersebut adalah Ilham Cahya Suherman dari Departemen Sistem Informasi, Firman Maulana dari Departemen Teknik Informatika, dan Diah Rachmawati dari Desain Komunikasi Visual (DKV) yang berada di bawah Departemen Desain Produk Industri (Despro). Meski anggota tim tidak berasal dari departemen yang sama, namun menciptakan sebuah game yang berkualitas, dibutuhkan seorang ahli ilmu program (programmer) dan ilmu estetika gambar agar game terasa lebih hidup.

Berbeda dengan sistem permainan yang lainnya. Fokus game menggunakan ucapan dari pemain. Ucapan perintah yang disampaikan kemudian direspon langsung oleh aplikasi tersebut.

“Jadi, pemain hanya perlu bermodal suara atau ucapan untuk mengendalikan atau menjalankan game,” ujar Ketua Tim Ilham Cahya Suherman.

Pada era modern, banyak media pembelajaran di berbagai situs web yang digunakan untuk membantu seseorang dalam meningkatkan mutu proses belajarnya. Tetapi, sayangnya media pembelajaran yang ada saat ini, belum bisa memberikan respon balik ke penggunanya atau masih bersifat pasif.

Menanggapi hal tersebut, para mahasiswa ini kemudian membuat game itu. Speech Recognizition (SR), adalah teknologi yang digunakan untuk mengonversikan sinyal akustik (suara) melalui mikrofon, sebagai bentuk perintah dalam mengoperasikan komputer secara otomatis.

“SR ini hanya mampu dijalankan di Windows 10,” jelas mahasiswa angkatan 2015 ini.

Menurut Ilham, game yang diciptakan ini bergenre shooter. Artinya, pemain akan mengalahkan lawan melalui tembak-menembak. Dalam permainan tersebut, pelaku penembak disimulasikan oleh kucing dengan pesawatnya dan pelaku yang ditembak disimulasikan oleh para monster.

Teknisnya, pada area batas yang dimiliki kucing terdapat posisi atas, tengah, dan bawah. Setiap dari ketiga posisi tersebut terdapat kata atau kalimat bahasa Inggris. Jika kucing ingin berpindah posisi, maka pemain harus mengucapkan kata atau kalimat bahasa Inggris di posisi tersebut dengan lafal.

“Dalam mengeluarkan tembakan pun, pemain harus mengucapkan kata atau kalimat yang tersedia sebagai fungsi tembakan tepat sasaran ke lawan,” urainya.

Game Words War
Salah satu tamplan game Words War

Terdapat tujuh level dalam game ini. Masing-masing level memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dalam melafalkan kata atau kalimat dalam bahasa Inggris dengan cepat dan tepat.

Words War ini pernah dipamerkan di acara besar ITS. Seperti ITS Expo dan Menyentuh Kampus Teknologi (MKT). Meski sudah pernah dipamerkan, ketiga mahasiswa tersebut masih belum puas dengan komposisi game tersebut.

“Game akan diimprovisasi lagi dengan tampilan yang lebih baik dan penambahan fitur yang lebih banyak,” kata dia.

Mahasiswa asal Malang ini berharap, game tersebut bisa lebih bermanfaat kepada masyarakat umum guna melatih dan meningkatkan kecakapan berbahasa internasional.

“Yaitu, bahasa Inggris, khususnya anak-anak yang memiliki hobi bermain game,” tandasnya.

Apa Tanggapan Anda ?