Debby sedang memaparkan disertasinya di hadapan para penguji. Karateristik getaran menghantarkan Debby meraih doktor di ITS.

Inovasi

Amankan Perahu, Debby Teliti Kayu Gofasa


SURABAYA – Kerusakan pada kapal kayu umumnya dikarenakan getaran yang terjadi pada bagian sambungan. Terutama di daerah kamar mesin. Bagian ini menjadi sangat sentral lantaran menjadi sumber getaran yang yang bersumber dari mesin kapal.

Getaran ini akan merambat ke struktur kontruksi kamar mesin. Sehingga, dalam jangka waktu tertentu sambungan bisa mengalami kerusakan. Bagian gading biasanya menjadi daerah yang paling rawan.

Dengan alasan itu, Debby Raynold Lekatompessy ST MT, mahasiswa pascasarjana Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur meneliti karateristik getaran pada sambungan struktur kayu. Penelitian ini mengantarkannya pada gelar doktor.

“Untuk itu penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tipe sambungan terbaik dengan menggunakan karateristik getaran pada kayu,” kata Debby.

Debby menjelaskan penelitian yang dilakukannya berfokus pada perahu yang terbuat dari kayu Gofasa (vitex cofassus). Hal ini dikarenakan di daerah asal Debby, Maluku, nelayan dan masyarakat umumnya menggunakan kayu jenis ini. Secara kebetulan kayu tersebut hanya terdapat di Indonesia bagian timur.

Proses pembuatan yang lebih mudah dan biaya yang lebih sedikit membuat perahu kayu masih menjadi primadona di tengah masyarakat. Namun dengan pemilihan model kapal dan mesin yang salah, dapat membuat umur perahu kayu menjadi lebih singkat.

Demi mendapatkan tipe sambungan terbaik, Debby melakukan penelitian dengan metode analisis model eksperimen terhadap 26 model yang sudah dibuat. Analisis awal dilakukan berdasarkan pengaruh arah serat, alat sambung, dan model sambungan terhadap karakteristik getaran pada balok sederhana.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang dilakukan mengenai karakterstik getaran khusus pada model sambungan kayu di daerah kamar mesin kapal tradisinonal. Dari 26 model yang diuji, Debby menemukan dua model utama yang bisa menjadi rekomendasi untuk kapal kayu tradisional, yang diambil berdasarkan dua jenis arah serat kayu, yakni radial dan tangensial. Pada jenis arah serat radial atau menyamping, getaran terbesar berhasil diredam dengan model kapal takik lurus dengan menggunakan sambungan paku.

Pada model sambungan ini rasio redaman mencapai 30,8 persen lebih kecil dibandingkan tanpa sambungan dan rasio transmisi. Sementara itu, kayu dengan jenis arah serat tangensial atau tegak lurus, getaran terbesar berhasil diredam dengan model kapal takik miring berkait dengan menggunakan sambungan pasak. Pada model sambungan ini pula getaran berhasil diredam sebesar 4,2 persen lebih kecil dibandingkan tanpa sambungan dan rasio transmisi.

Meskipun berhasil menemukan rekomendasi terbaik untuk meredam getaran mesin kapal, Debby mengatakan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk hasil yang lebih valid. Hal ini lantaran cakupan yang dibahas dalam disertasinya hanya sebatas daerah kamar mesin saja.

“Untuk melihat sejauh mana pengaruh getaran mesin terhadap kapal secara keseluruhan, harus dilakukan penelitian lebih lanjut,” ujar Debby.

Dengan penelitian yang dilakukan sejak 2014 tersebut, ibu tiga anak ini berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan. Kini tantangan besar telah menanti Debby, yaitu mengaplikasikan penelitiannya kepada masyarakat di kampung halamannya.

Hal ini menjadi penting lantaran kebanyakan masyarakat di sana umumnya membuat kapal hanya berdasarkan harga komponen yang bisa didapat. Termasuk mesin yang digunakan untuk kapal-kapal mereka.

“Memang butuh waktu untuk menyosialisasikan penemuan ini ke masyarakat. Karena nyatanya mereka selama ini baik-baik saja dengan kapal mereka, padahal itu membahayakan,” katanya.

Apa Tanggapan Anda ?