Nasional

Ragam Strategi Kampus Menyiapkan Penerimaan Mahasiswa Baru

SURABAYA - Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat terus berupaya mengembangkan kualitas pendidikan. Dalam rangka membuka akses pendidikan yang lebih luas, dilakukan terobosan dalam proses dan program penerimaan mahasiswa baru. Kini di IPB, penerimaan mahasiswa baru tidak hanya mengandalkan nilai atau prestasi akademis.

"Di IPB kami memiliki jalur ketua OSIS dan jalur afirmasi. Ada juga yang menggunakan prestasi hafalan Qur'an. Jadi sebisa mungkin, kita fasilitasi keberagaman dan potensi yang ada di anak-anak muda Indonesia," kata Dr. Ir. Drajat Martianto, Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor.

Ia menyampaikan itu saat Webinar Nasional: "Strategi Kampus dan Sekolah Menyiapkan Penerimaan Mahasiswa Baru" Senin (28/06/2021) sore, di hadapan 2.700 pimpinan kampus se-Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Sevima.

Drajat mengatakan, masalah ekonomi saat berkuliah juga perlu diperhatikan. Saat ini, Kartu Indonesia Pintar Kuliah telah memfasilitasi anak muda untuk berkuliah secara gratis dan mendapat uang saku tiap bulan. Kampus seperti IPB juga telah menetapkan biaya perkuliahan yang seminimal mungkin dalam rangka membantu para mahasiswa.

Akan tetapi, belum ada jaminan bahwa anak tersebut nantinya selepas kuliah, akan mendapatkan pekerjaan. Padahal tak sedikit anak yang tumbuh dewasa tersebut diharapkan nantinya menjadi tulang punggung keluarga.

"Jadi di IPB kami melakukan talent mapping untuk mengetahui passion mahasiswa, sekaligus jaminan kembali ke kampus untuk re - training. Enam bulan lulus dan belum dapat kerja, boleh kembali ke kampus untuk ikut pelatihan. Gratis ditanggung oleh kampus, kami cari berkahnya saja," lanjut Drajat.

Manfaatkan Sponsor dan Teknologi

Walaupun berat, Drajat menekankan bahwa perbaikan tersebut tak perlu dilakukan sendiri. Perguruan tinggi bisa memanfaatkan dan menggandeng perusahaan dan alumni untuk menjadi sponsor atas program-program yang sedang digalang kampus.

Baca Juga :  PTN Dinahkodai Rektor Asing Bukan Karena Pro Asing

Misalnya untuk tantangan ekonomi, perguruan tinggi juga harus menyiapkan beberapa bentuk beasiswa. Perguruan tinggi bisa menggandeng para alumni untuk menjadi donatur dalam menyediakan beasiswa tersebut.

"Tidak harus jadi single fighter,” jelas Drajat.

Sementara itu, Deputi Menteri Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Moderasi Beragama (Kemenko PMK) Prof. Dr. R. Agus Sartono, M.B.A. menyampaikan bahwa dari sekitar 3,7 juta lulusan SMA, MA dan SMK tiap tahunnya, baru 1.8 juta yang diserap oleh perguruan tinggi.

"Setiap tahun jumlah lulusan SMA/SMK/MA di atas 3,7 juta orang, artinya ada 1.9 juta anak muda kita belum bisa kuliah," kata Agus.

Kondisi ini bagi Agus, dipandang mengkhawatirkan. Terlebih bagi anak muda yang tak bisa kuliah karena kondisi ekonomi atau keterbatasan bangku kuliah. Karena, anak-anak yang kurang beruntung tersebut akhirnya masuk ke lapangan kerja tanpa bekal yang maksimal.

"Dan para lulusan sekolah menengah yang masuk lapangan kerja itu, terpaksa harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi. Ini berlangsung hampir setiap tahun,” tambah Agus.

Atas kondisi tersebut, Agus mendorong kampus di Indonesia senantiasa memperbaiki diri. Terlebih, pendidikan tinggi merupakan pilar tak terpisahkan dari siklus pembangunan manusia dan kebudayaan.

Menurut dia, pembangunan manusia menuju Indonesia Maju, cara mencapainya dengan memberi anak muda kesempatan seluas-luasnya untuk belajar. Oleh karena itu, Pemerintah terus berkomitmen memfasilitasi kampus agar meningkatkan kualitas, menyediakan program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah.

"Serta beragam kebijakan lainnya dalam rangka meningkatkan angka partisipasi kasar kuliah," jelas Agus. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?