Opini

Pandemi Melanda, Jangan Lupakan Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Siedoo, Masih berada dalam situasi pandemi Covid-19, seluruh perhatian umat di seluruh dunia saat ini, mengarah pada berbagai persoalan dari situasi pandemi Covid-19. Dalam situasi ini, bidang pendidikan tentu saja tidak luput dari dampak situasi pandemi Covid-19.

Bukan hanya dalam lingkup nasional, persoalan pendidikan dalam situasi pandemi Covid-19 juga menjadi persoalan masyarakat dunia. Dimana pada masa ini kita dihadapkan dengan situasi yang jauh dari zona nyaman sebelum situasi pandemi Covid-19.

Pada lingkup nasional, diberlakukannya instruksi belajar dari rumah menimbulkan reaksi yang beragam dari berbagai pihak. Tidak dapat dipungkiri berbagai persoalan muncul dari model belajar seperti ini. Persoalan muncul dari kuota internet, keterbatasan sinyal, tidak punya gawai hingga persoalan efektivitas pola pembelajaran.

Berkaitan dengan situasi ini, Zhao, Y. (2020) dalam artikelnya Tofu Is Not Cheese : Rethinking Education Amid the COVID-19 Pandemic memberikan pertanyaan mengenai model pendidikan online. Yakni “Jika pendidikan online berfungsi dalam satu domain tetapi menyebabkan kerugian pada domain lain, misalnya motivasi untuk belajar atau perkembangan sosial-emosional, apakah itu berhasil?”

Pendekatan pola pembelajaran di masa pandemi ini memang dapat dikatakan baru untuk peserta didik kita, termasuk juga untuk orang tua. Dalam situasi pembelajaran dari rumah, peran serta dan kerjasama orang tua sangat penting guna menunjang kesuksesan belajar dari rumah.

Berkaitan dengan pembelajaran dalam situasi pandemi Covid-19, dalam Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid -19, tersirat bahwa dalam aktivitas pembelajaran dari rumah situasi dan kondisi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Dengan menekankan pada akses fasilitas belajar di rumah.

Konsep belajar dari rumah mengarahkan kita pada pemahaman bahwa, hasil belajar memang tidak hanya sekedar hasil akademik pada angka. Namun aspek keterampilan juga turut serta menjadi bagian yang penting.

Baca Juga :  Nasib Bahasa Jawa sebagai Bahasa Ibu Kita

Secara sederhana dalam konsep belajar dari rumah membawa pada kolaborasi antara material belajar dan kerjasama dari pihak orang tua peserta didik. Bisa jadi, hal ini menjadi tantangan dalam dunia pendidikan kita. Namun interaksi dalam model belajar dari rumah telah membawa kita pada pengaturan pembelajaran yang lebih dalam dan luas, mengenai makna dan hakikat proses belajar itu sendiri.

Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Masa belajar dalam situasi pandemi Covid-19 memang membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Nasutio S (2011) menyampaikan bahwa pendidikan ialah meliputi pengajaran keahlian dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat. Menghadapi situasi ini, maka jangan lupakan kita punya tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang nampaknya dapat relevan dengan situasi pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Disebutkan bahwa tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara terdiri dari pendidikan keluarga, sekolah/perguruan dan lingkungan atau pemuda, sebagaimana dijelaskan oleh Fudyartanta (1990). Pada tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara, nampak jelas bahwa dalam proses pendidikan terdapat upaya berkesinambungan serta lingkungan dapat berpengaruh.

Pendidikan keluarga dalam tri logi pendidikan Ki Hajar Dewantara merupakan bagian pendidikan pertama bagi peserta didik. Dimana pada lingkungan keluarga anak diajarkan mengenai nilai-nilai kehidupan serta mendapat bimbingan dari lingkungan keluarga.

Pada bagian pendidikan lingkungan keluarga, jika dikaitkan dengan konsep pembelajaran selama masa pandemi, maka keluarga mempunyai peran penting dan fungsi edukatif yang tinggi pada peserta didik. Hal tersebut terkonfirmasi sebagaimana ada dalam Center for Child Well-Being (2010) bahwa bahwa peran serta pendidikan orang tua memberikan peluang untuk peningkatan keberhasilan pada moral, sikap, dan prestasi akademik siswa.

Pendidikan di sekolah/perguruan tinggi ialah konsep pendidikan formal yang menempatkan siswa pada lingkungan belajar yang terencana, teratur dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini Adnan & Smith (2001) menyampaikan bahwa pendidikan formal akan selalu mencerminkan sosial-budaya yang lebih luas. Maka dari itu, jika kita perhatikan lebih jauh konsep pendidikan di sekolah/perguruan adalah pendidikan yang disengaja dengan tujuan tertentu.

Baca Juga :  Pertama di Sulsel, Lapas Maros Bakal Terapkan Pendidikan Anak Usia Sekolah

Pendidikan di lingkungan masyarakat atau pemuda, ialah konsep pendidikan diluar pendidikan formal, dimana pada lingkungan ini siswa dapat mendapat pengetahuannya dari lingkungan masyarakat. Saepudin & Mulyono (2019) menyatakan bahwa “pendidikan masyarakat memahami bahwa koreksi terhadap pendekatan masa lalu yang perlu disesuaikan di tengah-tengah perubahan berkelanjutan di masyarakat. Sehingga diperlukan studi baru yang lebih sesuai dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat dan pengetahuan baru”.

Oleh karena itu, sebagai wahana edukatif, lingkungan masyarakat menyajikan berbagai “sajian” pembelajaran yang dapat ditangkap oleh siswa melalui interaksinya dalam lingkungan masyarakat. Menghadapi “new normal” tentu saja aspek pendidikan perlu menyiapkan skenario pembelajaran yang terus mendorong aktivitas pembelajaran dari rumah.

Artinya, dengan selain mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan, melalui tatanan belajar dari rumah kita diajak kembali untuk tidak melupakan trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara selama belajar dari rumah pada dalam situasi pandemi Covid-19.

Jangan lupa, kita punya trilogi pendidikan. Semoga pandemi ini cepat berlalu. (*)

 

 

*Yayuk Hidayah
Dosen Pogram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Apa Tanggapan Anda ?