Sanggar Salam Yogyakarta. foto: salamyogyakarta.com

Nasional

Angkat Pendidikan Kebangsaan, Jateng Tuan Rumah Kongres Pendidikan Alternatif

SMP Mutual Kota Magelang

SEMARANG – Pendidikan Kebangsaan menjadi tema yang diusung dalam Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif pada 26-28 Oktober mendatang di Desa Geting, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Hal itu dapat menjadi momen reflektif untuk menguatkan sumbangsih pendidikan alternatif pada gerakan menuju perubahan budaya bangsa yang lebih toleran, demokratis, dan berkeadilan.

“Pertemuan itu juga memfasilitasi penyelenggaraan pertemuan anak-anak yang menjadi bagian dari pelaku pendidikan alternatif. Salah satu kegiatan anak yang akan difasilitasi dalam acara itu, yakni Kongres Anak Merdeka,” kata Koordinator Pertemuan Nasional II Pendidikan Alternatif, Susilo Adinegoro dilansir dari solopos.com.

Pihaknya berharap, Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif II dapat menjadi stimulan yang menggerakkan para penyelenggara pendidikan alternatif di berbagai daerah. Selain konsolidasi juga untuk mempertajam kajian atau refleksi kritis atas pengalaman masing-masing dalam menyelenggarakan pendidikan alternatif.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, memberi apresiasi terhadap acara yang menjadi wadah pertemuan bagi penyelenggara pendidikan alternatif di Indonesia itu.

Pihaknya pun siap memfasilitasi pengadaan tempat untuk kegiatan seminar yang menjadi pembukaan rangkaian acara. Seperti Seminar Nasional Pendidikan Kebangsaan, Kongres Pengiat Pendidikan Alternatif, dan Kongres Anak Merdeka.

“Saya berharap kegiatan ini bisa menjadi kesempatan pendidik, guru, dan pengiat pendidikan, khususnya di Jateng, untuk saling belajar. Maka dari itu penyelenggara hendaknya fokus terhadap substansi dan kualitas daripada jumlah peserta yang hadir,” ujar Ganjar.

Sekilas Jaringan Pendidikan Alternatif

Jaringan Pendidikan Alternatif adalah kumpulan lembaga penyelenggara pendidikan alternatif, individu dan komunitas yang memiliki concern untuk menghadirkan model pendidikan yang beragam dan berkualitas sebagai pilihan yang sah bagi masyarakat.

Sekolah yang menyelenggarakan model pendidikan alternatif di antaranya:

  1. Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar yang menyelenggarakan model pendidikan alternatif untuk untuk anak-anak keluarga urban miskin di Jakarta.
  2. Komunitas Belajar Qaryah Thayibah di Salatiga – Jawa Tengah
  3. Sanggar Anak Alam (Salam) di Yogyakarta
  4. SMK berbasis seni ESOA (Erudio School of Art) di Jakarta, dan sebagainya.

“Kita ini punya aneka model pendidikan yang tumbuh dari akar rumput di masyarakat yang perlu diangkat agar bisa memberikan kontribusi yang lebih maksimal bagi masyarakat dan negara,” kata Susilo Adinegoro dilansir dari pendidikanalternatif.org.

Ditandaskan, kemunculan aneka macam pendidikan alternatif menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat untuk mencari solusi atas tantangan di lapangan yang berkaitan dengan pendidikan. Pada sisi lain, kehadiran pendidikan alternatif ini belum mendapatkan tempat yang semestinya dalam kerangka strategis pendidikan nasional.

Dunia pendidikan alternatif juga masih menghadapi banyak tantangan internal seperti ketersediaan dan kualitas sumber daya (misalnya guru & fasilitas belajar). Masalah yang tak kalah peliknya adalah minimnya keterlibatan negara dalam fungsinya sebagai katalisator yang memfasilitasi inisiatif-inisiatif dari masyarakat ini.

Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif kali pertama digelar di Yogyakarta, Oktober 2016 lalu. Digelarnya kegiatan itu berawal dari keprihatinan atas kondisi pendidikan nasional yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan kualitas pendidikan di berbagai daerah.

Untuk membangun jejaring penyelenggara pendidikan alternatif, pada 17 Mei 2017 telah diselenggarakan Dialog Nasional Pendidikan Alternatif bertema “Merayakan Kemerdekaan Anak” di Graha Utama Kemendikbud.

Dari pertemuan tersebut, lahirlah inisiatif untuk membangun Jaringan Pendidikan Alternatif yang dideklarasikan pada 31 Juli 2016.

Jaringan Pendidikan Alternatif akan mengadakan rangkaian diskusi publik tentang pendidikan alternatif. Diskusi pubik akan diselenggarakan di berbagai kota, antara lain: Surabaya, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan kota-kota lain.

Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif akan melibatkan penyelenggara pendidikan alternatif, anak-anak yang menjalani pendidikan alternatif, serta para akademisi dan pemerintah.

Pertemuan itu tidak hanya menjadi kesempatan tatap muka atau sekadar berbagi, tetapi utamanya menyelenggarakan kongres pendidikan alternatif yang dapat memberikan peta pendidikan alternatif serta rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan alternatif.

Tiga Kegiatan Utama

Dalam Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif akan diselenggarakan 3 kegiatan utama, yaitu:

  1. Kongres Pendidikan Alternatif: diskusi dan sharing para penyelenggara pendidikan alternatif membahaskan tentang best practice, tantangan dan rekomendasi untuk pengembangan pendidikan alternatif.
  2. Kongres Anak Merdeka: diskusi anak-anak peserta pendidikan alternatif mengenai pengalaman belajar yang mereka jalani dan harapan untuk pendidikan yang lebih baik.
  3. Konferensi Pendidikan Kritis: paparan dan diskusi antara para akademisi bersama pelaku pendidikan alternatif mengenai aspek filosofis, konseptual, dan kerangka legal pendidikan alternatif.

Deklarator Jaringan Pendidikan Alternatif

  1. Monika Irayati – Erudio School of Art
  2. Imron Zuhri
  3. Ibe Karyanto – Sanggar Anak Akar
  4. Qory Dellasera – Hand on Poor And Education
  5. Juria Ambar Haruni – Sanggar Anak Akar
  6. Susilo Adinegoro
  7. Aar Sumardiono – Rumah Inspirasi
  8. Lala Mira Julia – Klub Oase
  9. Bagus Yaugo Wicaksono – Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia
  10. Odi Shalahuddin – Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia
  11. Karina Adistiana – Peduli Musik Anak
  12. Bukik Setiawan – Suara Anak
  13. Tomy W. Taslim -Yayasan FFPJ
  14. Magdalena Sri Wahyaningsih – Sanggar Anak Alam (SALAM)
  15. Christina Eva Nuryani – Sanggar Anak Alam (SALAM)
  16. Heru Yuli Pambudi – Ikatan Alumni Sanggar Anak Akar
  17. Setiowati
  18. Dian Agustina – Cugenang Gifted School
  19. Bambang Wisudo – Sekolah Tanpa Batas
  20. Jimmy Ph. Paat. (Siedoo)
Apa Tanggapan Anda ?