Ilustrasi kuliah nontatap muka. foto: cosbis.com

Nasional

Kuliah Tanpa Tatap Muka, Kenapa Tidak


JAKARTA – Di era teknologi informasi yang semakin canggih, kuliah di perguruan tinggi tidak harus datang ke kampus untuk duduk manis di kursi mendengar “celotehan” dari dosen. Kuliah tidak harus bertatap muka secara langsung dengan si pengasup ilmu pengetahuan.

Sampai saat ini, sudah ada 51 dari total 85 perguruan tinggi negeri (PTN) yang siap menggelar kuliah nontatap muka atau jarak jauh.

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong untuk melakukan perkuliahan dengan model seperti di atas. Karena, hal tersebut menjadi satu dari beberapa konsep pengembangan Cyber University yang dipersiapkan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Kini pengembangan Cyber University sudah banyak diterapkan di sejumlah negara maju.

Model kuliah nontatap muka akan diperkuat dengan payung hukum. Pemerintah juga akan membentuk lembaga penjaminan mutu khusus untuk memastikan model kuliah nontatap muka tetap berkualitas.

“Regulasinya sedang dipersiapkan. Mengenai sistem perizininan,” kata Menristekdikti Mohamad Nasir sebagaimana ditulis Pikiran Rakyat.

Ditandaskan, dalam menghadapi era disrupsi teknologi informasi dan komunikasi, peran dari model kuliah konvensional akan semakin berkurang.

Kemenristekdikti sudah menyiapkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi. Seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Techno­logy (IT), Operational Techno­logy (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic.

“Pengawasan dan sebagainya akan diatur dalam permenristekdikti,” tambahnya.

Menurut dia, dengan mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia dalam model perkuliahan akan menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil. Terutama dalam aspek data literasi.

Sementara itu, penerapan kuliah jarak jauh sudah diterapkan Universitas Bina Nusantara (Binus University). Ini menjadi kampus publik pertama yang mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk menerapkan metode pendidikan yang disebut dengan “pendidikan jarak jauh” atau PJJ.

Sebelumnya, hanya tiga universitas yang mendapatkan kepercayaan untuk menerapkan metode tersebut. Dua di antaranya adalah Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di bawah naungan Polri, dan Politeknik Kesehatan di bawah naungan Kementerian Kesehatan.

“Namun, untuk kampus publik, Binus yang pertama menerapkan metode pendidikan jarak jauh ini,” ujar Direktur Binus Online Learning Dr Engkos Achmad Kuncoro, seperti diberitakan Kompas.

Ditandaskan, binus awalnya mengajukan proposal kepada pemerintah untuk dapat mengembangkan pendidikan jarak jauh. Setelah mempersiapkan segala sistem yang dibutuhkan, pada 10 Juni 2014 pemerintah lalu mengeluarkan surat keputusan kepada Binus. Surat tersebut berisi penugasan untuk mengembangkan metode pendidikan jarak jauh di kampus tersebut.

“Pemerintah memberikan kepercayaan kepada kami,” ujar Engkos.

Engkos menjelaskan, metode pendidikan jarak jauh adalah metode yang memperkenankan mahasiswa untuk tidak melakukan pertemuan dengan dosen. Dengan demikian, aktivitas perkuliahan seluruhnya tidak dilakukan di dalam kampus.

Apa Tanggapan Anda ?