Daerah

Beragam Kreativitas Siswa Sekolah Cikal Setu di Pameran CAS

JAKARTA - Sekolah Cikal Setu Jakarta menggelar Pameran Proyek Creativity, Activity, & Service (CAS) bagi kelas 12 program International Baccalaureate (IB) secara virtual. Pagelaran ini tidak lepas karena Sekolah Cikal Setu sebagai sekolah yang berorientasi pada aksi dan kompetensi dalam diri murid.

Tema yang diterapkan yaitu Physically Distant, Virtually Connected. Proyek aksi tahunan murid Sekolah Cikal Setu yang berorientasi pada pelayanan masyarakat beralih dari proyek lapangan, menjadi proyek daring.

Pameran Proyek CAS Sekolah Cikal Setu pada dasarnya bermula dari Program CAS (Creativity, Activity, and Sevice) International Baccalaureate (IB) Sekolah Cikal yang sifatnya wajib dan diperuntukkan oleh kelas 11 dan kelas 12. Tujuan dari program ini adalah mengembangkan beberapa karakter dan kompetensi murid. Antara lain peduli (caring), kepemimpinan (impactful leading), reflektif (reeflective), komunikatif (communicative), dan berorientasi pada aksi (action-oriented).

Murid Sekolah Cikal Setu menghadirkan aksi yang beragam sebagai upaya melakukan aksi, dan berkontribusi bagi sesama manusia di Cikal CAS tahun ini. Beberapa aksi antara lain, We are human being, Collaborative work dengan berbagai perusahaan atau studio, Bincang Kreatif, hingga Festival Literasi Ende.

We are Human Being merupakan sebuah aksi proyek CAS sederhana, namun bermakna. Proyek yang diinisiasi oleh Devano Athallah Basyir bermula dari memaknai arti berbagi pada sesama sebagai manusia melalui hobi dan kreativitasnya kepada anak-anak yatim piatu kala pandemi.

“Proyek We are a human being hadir dalam benakku dimulai dari refleksi arti berbagi. Berbekal kompetensi memasak yang aku miliki, aku hadirkan gagasan berbagi itu dengan membuat sesuatu yang sederhana dan berbagi kebahagiaan kepada anak-anak yatim piatu di masa pandemi ini,” kata murid yang akrab disapa Devano.

Baca Juga :  Wisata Air Titik Nol Besutan UNY

Ada karya CAS Azzahra Thursina Nisfu yang menciptakan sebuah webinar “Bincang Kreatif” terbuka bagi publik dan membahas tentang tema hidupnya industri kreatif digital saat pandemi bersama salah satu influencer youtube, Sacha Stevenson.

Selain Devano dan Azzahra, ada pula Radja Anam yang mengangkat tema pendidikan pada aksi CAS - nya dan dilakukan sebelum pandemi hadir. Ia berpartisipasi sebagai volunteer yang turut mengatur pelaksanaan acara Festival Literasi di pulau Ende Nusa Tenggara Timur dan berdonasi buku kepada Taman Bacaan Pelangi untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak di pulau Ende.

“Saya berpartisipasi secara sukarela di kegiatan Festival Literasi yang dibuat oleh Taman Bacaan Pelangi di Ende Nusa Tenggara Timur, dan ikut andil dalam pengumpulan donasi buku untuk Taman Bacaan pelangi bagi anak-anak di sana untuk menumbuhkan keinginan dan akses buku bacaan serta pengembangan pendidikan anak-anak.” jelas Radja.

Nisa Amalina Sabrina, CAS Coordinator menjelaskan tahun ini adalah pertama kalinya pelaksanaan pameran aksi nyata dan kontribusi murid pada masyarakat dilakukan secara daring. Tahun ini merupakan pertama kalinya CAS exhibition diadakan secara online. Tema besar tahun ini adalah physically distant, virtually connected, menyesuaikan bentuk project murid kelas 12 yang lebih banyak beralih menjadi project online.

"Baik itu webinar, online workshop, podcast, raising awareness mengenai covid melalui instagram maupun youtube video. Namun ada juga beberapa anak yang melakukan beberapa project offline sebelum pandemi, seperti festival literasi, sport competition and donation,” jelas Nisa.

Di masa pandemi ini, murid Sekolah Cikal Setu menghasilkan 33 proyek berorientasi masyarakat yang dipublikasikan di sosial media instagram (@cikalCAS_exhibition) dan terbuka bagi publik untuk mengeksplorasinya. Puncak perayaan kegiatan CAS telah berlangsung secara langsung melalui youtube Sekolah Cikal dengan menghadirkan 8 perwakilan murid yang akan berbagi cerita, tantangan dan pengalaman menjalankan proyek masing-masing. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?