MENYIMAK. Masyarakat di kawasan WPP Desa Dalegan antusias menyimak pemaparan secara virtual tim Abmas ITS pada pelatihan Marine Tourism Branding. (foto: its)
Daerah

Akademisi ITS Kenalkan Model Bisnis Guna Pengembangan Marine Tourism

SURABAYA - Salah satu tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang melibatkan dosen dan mahasiswa berupaya mengenalkan model bisnis guna mengembangkan marine tourism. Pengembangan tersebut ada di daerah Wisata Pasir Putih (WPP) Desa Dalegan, Kabupaten Gresik. Di daerah tersebut diperlukan strategi pemasaran yang optimal supaya mencapai hasil maksimal.

Tim yang diketuai Deti Rahmawati SIP MT ini mengusung pelatihan Marine Tourism Branding Berbasiskan Kearifan Lokal untuk Pariwisata yang Inklusif. Deti mengungkapkan, secara umum permasalahan pengembangan pariwisata kelautan merupakan fokus nomor dua di Indonesia. Padahal, pengembangan garis pantai akan menjadi salah satu cara agar pembangunan dan pemanfaatannya sesuai dengan geo-oseanografis di Indonesia.

“Selain itu, secara khusus kami melihat adanya kesulitan masyarakat lokal Desa Dalegan dalam memasarkan potensi wisata alam dan perdagangannya agar menjadi lebih luas,” katanya.

Padahal, WPP berjarak tidak jauh dari Kota Surabaya yang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur dan tergolong sebagai pantai yang masih ‘suci’, bersih, dan memiliki sajian oleh-oleh bervariasi.

Pengunjung yang berdatangan ke sana masih tergolong sepi, bahkan relatif menurun menurut data dari dinas terkait Kabupaten Gresik, beberapa tahun lalu. Hal itu kemudian didukung asumsi dari penelitian tim pimpinan Deti, bahwa strategi marketing potensi Desa Dalegan, mulai dari branding hingga packaging produk unggulan di sana masih perlu pembenahan.

Dosen Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital (FDKBD) ini menyatakan supaya diadakan kegiatan advertising agar dapat mencitrakan destinasi hingga bersinar dan dapat dikenal lebih luas lagi oleh pasar.

Model bisnis penciptaan branding dibuatnya bersama tim, dengan menggunakan metode pendekatan Destination, Origin, and Time (DOT); Branding, Advertising, and Selling (BAS); dan Paid-media, Own-media, and Social-media (POS).

“Ketiganya harus dikorelasikan agar mampu menunjukkan permasalahan yang komprehensif dan menyeluruh, sehingga tercipta model bisnis yang inklusif,” simpul dosen kelahiran Bogor ini.

Didukung juga dengan potensi khusus dan potensi sumber daya manusia di sana, pelatihan yang digelar virtual terkait Marine Tourism ini berhasil menggerakkan sedikitnya 50 orang dari berbagai lini.

Mulai dari pendekatan strategi pemasaran DOT, semua peserta diberi asupan pengetahuan bahwa destinasi yang ingin dikembangkan, asal wisatawan, dan pola waktu kunjungan perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pemetaan pengembangan potensi desa. Selanjutnya, BAS mengajarkan bahwa branding sangat erat kaitannya dengan selera atau awareness objek yang dituju.

“Juga perlu didorong keinginan beriklan dan melakukan aksi penjualan,” tandasnya.

Yang terakhir, menurut Deti, wawasan terkait penempatan media POS juga akan menguatkan model bisnis yang dibangun di daerah WPP.

“Pemanfaatan media elektronik, media sendiri, hingga media sosial, semuanya harus dioptimalkan keberjalanannya,” sebutnya menjelaskan metode pendekatan POS.

Meski terhalang pandemi, sinergi antara pemerintah desa, karang taruna, pedagang, dan kelompok ibu-ibu PKK yang terlihat kuat dan begitu antusias membuat Deti yakin, setidaknya sejak dimulainya pengabdian ini, keuntungan dari segi ekonomi desa jika dipresentasikan mencapai 5 sampai 10 persen.

“Memang belum signifikan, maka kami harap supaya terus berlanjut dan dapat dikembangkan secara bertahap kemudian,” tuturnya.

Karena program ini dapat menjadi salah satu solusi dari masalah yang dihadapi masyarakat Desa Dalegan selama ini, mereka juga mengharap kembali dapat terus dibantu bahkan hingga eksekusi di lapangan.

Sejalan dengan harapan masyarakat, Deti pun berharap program yang digagasnya bersama dengan lima dosen lainnya dapat membantu pengembangan wawasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat setempat.

Sembari berterimakasih kepada jajaran pemerintah desa dan para pengelola pantai, ia berharap agar pandemic lekas berakhir dan kondisi pariwisata di daerah WPP Desa Dalegan dapat kembali pulih.

“Sehingga di tahun depan, kondisi pariwisata di sana dapat bangkit dan citra diri WPP Desa Dalegan menjadi lebih harum, ditambah dengan bermunculannya merek baru ikan asap yang menjadi khasnya,” pungkasnya penuh harap. (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?