Opini

Pendidikan Jarak Jauh, Antara Konseptualitas dan Implementasi

Siedoo, Covid-19 telah mempengaruhi dunia pendidikan. Jutaan siswa di Indonesia di rumahkan sampai ada kebijakan tatap muka. Hal ini membuat kaget siswa, tenaga pendidikan, serta orangtua siswa.

Mereka belajar dari rumah memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp (WA), Facebook, atau Telegram. Di sekolah lainnya menambah pembelajaran dengan tatap muka virtual baik melalui Zoom, Google Meet, atau lainnya. Belajar dari rumah inilah yang diistilahkan dengan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Pemerintah telah mengeluarkan Permendikbud No.24 Tahun 2012 tentang penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sehingga secara legal formal, PJJ diakui sah dilaksanakan di Indonesia dengan segala keterbatasannya.

Secara konsep PJJ sama dengan tatap muka yaitu adanya pola interaksi dua arah atau lebih antara guru dengan siswa secara terencana, sistematis, dan terukur. Di mana tetap mengacu pada norma serta karakter siswa yang bermanfaat secara praktis dan akademis.

Letak perbedaan dengan tatap muka bahwa pendidikan jarak jauh lebih menekankan penggunaan teknologi dan informasi atau berbasis IT. Oleh karena itu strategi, metode, serta teknik pembelajaran tetap direncanakan dengan pemilihan media komunikasi yang tepat.

Sedikitnya ada 6 aspek yang mencirikan dalam pendidikan jarak jauh. Yaitu: 1) adanya dua atau lebih pihak yang mengadakan kontak melalui sistem kendali jarak jauh; 2) adanya hubungan tatap muka satu-satu dengan siswa dalam bentuk bantuan, bimbingan, dan pelatihan individual; 3) adanya suatu komunikasi dua arah yang teorganisasi untuk menghubungkan dua tempat atau lebih yang berjauhan; 4) tidak didominasi oleh pengajar tatap muka; 5) menggunakan aspek-aspek komunikasi, sosial dan pendagogik; 6) menuntun disiplin diri yang tinggi dan kegiatan siswa yang maksismum untuk berhasil.

Aspek-aspek di atas nantinya akan memberikan pengaruh terhadap mutu pendidikan itu sendiri. Karena peran pendidikan jarak jauh memberikan aspek kemudahan atau efisiensi dalam hal sarana dan prasarana, waktu, serta biaya.

Efisiensi dalam sarana prasarana karena tidak membutuhkan adanya ruangan kelas, bahkan pembelajaran virtual dapat dilakukan oleh ratusan siswa. Siswa fleksibel dalam menentukan waktu belajarnya dan tidak terikat dengan jadwal yang ditentukan. Pembelajaran tidak harus membeli peralatan atau fotokopi, karena tersedia file yang siap untuk diunduh dalam jumlah halaman yang cukup banyak.

Terlihat secara konsep memang pendidikan jarak jauh berorientasi pada kualitas. Bahkan dalam pembelajaran abad 21 ini, pendidikan jarak jauh memegang aspek komunikasi serta kolaborasi, yang merupakan 2 aspek utama kompetensi global. Lebih jauh lagi, siswa bisa memilih waktu belajar serta memilih pembelajaran yang ingin dikuasai. Siswa bebas memilih pilihan pelajaran apa yang akan diperdalam dengan menentukan jadwal interaktif.

Terlepas dari problematika kuota, jaringan, dan gagapnya teknologi, pembelajaran jarak jauh masih membutuhkan peran serta bersama baik itu pemerintah pusat, pemerinta daerah, tenaga pendidikan, siswa, serta orangtua siswa untuk merumuskan konsep PJJ dalam tatanan implementasi.

Implementasi di lapangan masih menunjukkan adanya bias konsep dalam penerapannya. Pembelajaran  jarak jauh masih berorientasi pada pemberian tugas. Siswa hanya diberi tugas, tanpa adanya proses pembimbingan secara individual. Jangankan secara individual, pola interaksi 2 arah tidak didapatkan. Pembelajaran tatap muka virtual hampir tidak ada, jika pun ada, hanyalah sebentar, yang tidak memuaskan siswa yang lapar ilmu pengetahuan.

Fakta di lapangan, masih ditemui guru yang gagap teknologi. Pembelajaran hanya lewat media sosial semacam WA atau telegram, tanpa ada penjelasan materi terlebih dahulu. Tugas banyak dikerjakan oleh orangtua, sehingga penilaian menjadi bias.

Padahal penilaian merupakan hal yang mesti dilakukan, sekalipun proses pembelajaran yang paling utama. Beberapa bulan berlalu pun, masih dijumpai guru yang enggan belajar agar lebih terampil dalam penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pembelajaran.

Berdasarkan fakta temuan sebagai implementasi pendidikan jarak jauh, didapatkan kesenjangan dengan koseptualitas. Tampaknya, masih jauh untuk bisa mendekati konsep pendidikan jarak jauh.

Meski demikian, perubahan tetap perlu dilakukan, sekecil apapun. Karena mau tidak mau PJJ ini masih akan terus berlangsung, bahkan sebelum Covid-19 mewabah, Di beberapa negara maju sudah selangkah lebih maju menerapkan PJJ ini dalam course in program yang semakin menggeliat perjalanannya. (*)


Tundung Memolo, M.Sc

Guru SMP Negeri 3 Kepil
Wonosobo, Jawa Tengah

Apa Tanggapan Anda ?