Daerah Inovasi

Maksimalkan Potensi Pekarangan Dengan Cocok Tanam Teknik Vertikultur

BANJARNEGARA - Vertikultur merupakan metode bercocok tanam dalam susunan vertikal menuju ruang udara bebas dengan susunan media tanam yang juga disusun secara vertikal (Nurmawati, 2016). Teknik vertikultur memiliki nilai estetika serta dapat diimplementasikan di pekarangan rumah sehingga dapat menjadi kegiatan tambahan bagi ibu-ibu rumah tangga. Disamping itu, hasil dari vertikultur berpotensi untuk meningkatkan penghasilan harian mereka.

Kelompok Wanita Tani (KWT) “Sri Lestari” merupakan kelompok yang mayoritas beranggotakan ibu-ibu rumah tangga Dusun Kecitran Purwareja Klampok Banjarnegara Jawa Tengah yang dibentuk tahun 2016. Kelompok ini bertujuan memberikan keterampilan di bidang pertanian kepada mereka.

Pembentukan kelompok tersebut tentunya sejalan dengan visi kepala desa yaitu menuju desa yang mandiri dan sejahtera. Maka beberapa dosen di Institut Teknologi Telkom Purwokerto (IT Telkom Purwokerto) menginisiasi adanya pelatihan vertikultur di Dusun Kecitran pada bulan Agustus 2019. Harapannya memberikan keterampilan yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan anggota-anggota KWT.

Dosen-dosen yang terlibat antara lain Ridho Ananda S.Pd, M.Si selaku ketua pelaksana serta Auliya Burhanuddin, S.Kom, M.Kom, dan Atik Ferbiani, S.T., M.T. selaku anggota.

Ridho Ananda, S.Pd, M.Si. selaku dosen program studi Teknik Industri IT Telkom Purwoketo menyampaikan bahwa pelatihan ini bisa menjadi pilot project. Di mana sangat bermanfaat bagi kelompok KWT “Sri Lestari” dalam mewujudkan visi Dusun Kecitran. Nilai estetika penerapan teknik vertikultur juga dapat menjadikan desa Kecitran sebagai satu desa wisata edukasi di bidang pertanian.

"Hasil dari vertikultur tentunya juga dapat dimanfaatkan baik secara komersial maupun untuk ketahanan pangan mandiri," katanya.

Hingga awal Agustus 2020 ini atau sekitar setahun setelah pelatihan, para anggota KWT “Sri Lestari” masih tetap melanjukan teknik tersebut.

Istin Wigaty selaku wakil ketua KWT “Sri Lestari” menuturkan bahwa pelatihan ini sangat positif. Teknik vertikultur dapat memaksimalkan potensi pekarangan bagi ibu-ibu rumah tangga yang dominan di rumah walaupun tidak memiliki lahan pertanian. Perawatannya juga relatif cukup mudah, pupuk dapat dibuat dari limbah organik rumah tangga yang dibusukkan dengan pengurai dari jamur nasi.

“Alhamdulillah, ilmu dan keterampilan yang kami dapat dari pelatihan, masih kami amalkan dan kami kembangkan,” kata Istin, Senin (3/8/2020).

Diketahui, pelatihan vertikultur anggota KWT “Sri Lestari” dilaksanakan dari bulan Agustus hingga Desember 2019 di balai desa Kecitran. Ada lima kegiatan pada pelatihan tersebut, yaitu:

  1. pengenalan teknik vertikultur,
  2. persiapan lahan,
  3. pembuatan bibit sayuran,
  4. pembuatan media vertikultur, dan
  5. penanaman bibit tanaman pada media vertikultur.

Pengenalan teknik vertikultur disampaikan dengan metode ceramah dan diskusi kepada seluruh anggota KWT pada tanggal 5 Agustus 2019. Persiapan lahan dilakukan di pekan pertama bulan September 2019.

Persiapan lahan meliputi penentuan titik-titik lokasi kegiatan, pembersihan barang-barang yang dapat mengganggu kegiatan pelatihan, dan peletakkan alat dan bahan yang akan digunakan para proses pelatihan. Pembuatan bibit sayuran dilakukan di samping balai desa menggunakan tray pot serta plastik kecil ukuran ¼ kg. Sebanyak 1200 bibit dapat disemai.

Pembuatan media vertikultur menggunakan pvc 4 inci yang dipotong dengan panjang 50 cm dengan lubang tanam bibit sebanyak 20 lubang untuk setiap pvc. Ada sebanyak 30 pvc yang dibuat pada pelatihan ini sehingga total ada 600 lubang yang siap ditanami oleh dua bibit untuk masing-masing lubang tanamnya.

Penanaman bibit dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2019 setelah bibit tanaman dan media vertikultur telah siap untuk digunakan. Proses penanaman ini melibatkan 27 Anggota KWT “Sri Lestari”.

Secara keseluruhan, proses pelatihan berjalan dengan baik. Hasil media vertikultur yang dibuat anggota KWT “Sri Lestari” juga cukup baik serta tanaman yang ditanam di media tersebut juga tumbuh dengan baik dan dapat dipanen.

“Kami berharap, kegiatan pelatihan dapat berlanjut, mungkin dengan teknik-teknik pertanian yang lain," pungkas Istin, Senin (3/8/2020). (Siedoo)

Apa Tanggapan Anda ?